Pada Setiap Rakaat Ke-10 Shalat Tarawih, Aroma Bunga Kamboja Sering Tercium di Lorong-lorong Masjid Nabawi

Madinah, (gomuslim). Ada aroma baru yang sering tercium di lorong-lorong Masjid Nabawi, harum aroma tersebut jelas dapat dicium oleh siapa pun yang melewati lorong tersebut khususnya sebelum azan Maghrib, setelah shalat Isya dan pada saat 10 rakaat shalat Tarawih. Aroma yang paling sering tercium adalah aroma bunga kamboja dan aroma aroma kayu gaharu. Namun ternyata aroma tersebut disukai oleh beberapa jemaah, sehingga dianggap sebagai pengharum ruangan masjid.

Harum bunga kamboja dan kayu gaharu yang kerap tercium di dalam Masjid Nabawi merupakan hal yang biasa terjadi namun pada tidak hari, karena pengurus masjid mengerahkan petugas tertentu untuk membakar kayu gaharu kayu kamboja yang telah diproses sedemikian mungkin untuk dijadikan sebagai pengharum ruangan. Bagi masyarakat Arab, kayu gaharu dan kayu kamboja merupakan pengharum alami yang sangat disukai dan terkesan sebagai pengharum kalangan elite.

Orang yang bertugas membuat pengharum ruangan adalah orang khusus yang mana ia membawa semacam dupa kemudian kayu gaharu dan kamboja tersebut dibakar di dalamya. Lantas asap yang mengepul mengeluarkan aroma dari kedua tumbuhan tersebut, kemudian petugas itu mengepuli asap di setiap lorong sebanyak 3 kali dalam sehari yakni, setelah berbuka puasa atau sebelum azan Maghrib, Setelah shalat Isya’ dan 10 rakaat pada saat shalat Tarawih.

Bagi jemaah yang merupakan bangsa Arab, biasanya mereka mendatangi petugas pemegang dupa tersebut dan mendekatkan asapnya ke baju mereka atau jenggotnya. Hal ini merupakan kebiasaan maupun budaya masyarakat di sana dan sudah merupakan suatu kewajaran. Adapun jenis pengharum yang dipakai merupakan jenis kayu gaharu kualitas terbaik demkian pula halnya dengan kamboja. Keduanya merupakan pilihan yang dapat dikatakan sebagai pengharum dengan kualitas super.

Adanya aroma ruangan seperti ini dapat pula dijadikan sebagai suatu kebanggaan tersendiri, di mana harga pengharum ruangan dari dua jenis tanaman tersebut tidaklah murah. Oleh karena itu tidak heran jika ada jemaah di dalam Masjid Nabawi yang senag mendekati petugas pembawa kepulan asap dupa tersebut.

Terkait dengan aktivitas ini, Syeikh Abdul Wahid Hatab selaku Direktur Humas Masjid Nabawi memberikan penjelasan, “Upaya ini merupakan upaya untuk membanggkan Masjid Nabawi selain itu juga untuk menyambut jemaah dengan keharuman semerbak yang dapat dirasakan sejak masuk masjid,” tandasnya.

Banyak upaya maupun inisiatif para pengurus untuk memakmurkan Masjid Nabawi seperti memberi pengharum ruangan dengan aroma yang banyak disukai oleh jemaah. Namun terkadang aroma yang disukai oleh kebanyakan masyarakat Arab belum tentu disukai oleh masyarakat atau jemaah dari negara lainnya, maka bagi jemaah yang tidak menyukai aroma kamboja dan gaharu sebaiknya tidak mendekati petugas yang membawa kepulan asap dari pembakaran kayu tersebut. (fh/almadina)


Back to Top