Indonesia-Malaysia Vs Tiongkok-Thailand Bersaing Kuasai Pasar Halal Dunia

Jakarta, (gomuslim). Pemerintah terus berusaha untuk memajukan industri halal food dalam negeri, baik untuk kepentingan nasional, maupun internasional. Setelah sebelumnya pemerintah merilis Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Produk Halal yang belakangan banyak ditentang oleh para produsen terkait, kini pemerintah resmi mengumumkan i’tikad baiknya memajukan industri produk halal melalui kerja sama dengan pemerintah Malaysia di bidang pengembangan produk halal guna bersama-sama menginvasi pasar produk halal dunia yang saat ini dikuasai oleh koalisi Tiongkok-Thailand.

Kerjasama ini tentu saja menguntungkan kedua belah pihak, baik Indonesia maupun Malaysia pada setiap kepentingan masing-masing negara. Malaysia berkepentingan untuk memberikan kemudahan bagi para pelaku pasar perdagangan dunia dengan jalan kerjasama bilateral yang natinya berujung pada keluarnya regulasi yang mendukung iklim ekspor-impor kedua negara. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, iklim kerjasama dalam bidang perdagangan antara pemerintah RI dengan Malaysia sempat memburuk akibat berbagai konflik, mulai dari kasus ambalat hingga sipadan-likitan.

Selain itu, selama ini ekspor produk halal Malaysia ke Indonesia mengalami beberapa hambatan dan harus di audit ulang. Padahal, produk halal Malaysia sudah mendapatkan sertifikasi halal dari Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Adapun Indonesia sangat mengambil keuntungan dari kerjasama ini mengingat ekspor produk halal RI masih tertinggal jauh dengan Malaysia dannegara tetangga lainnya. Mulai dari kualitas hingga inovasi. Tahun lalu saja, Malaysia berhasil mencatat nilai ekspor diangka RM 42 miliar; meningkat RM 4 miliar dari tahun sebelumnya.

Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Malaysia bertekad untuk bersaing dalam memenuhi permintaan pasar dunia terhadap impor produk halal. Pertumbuhannya pun setiap tahunnya selalui meningkat dikisaran 9,1 persen. Jika melihat dari laporan Global State of Islamic Economic, permintaan produk halal dunia akan mengalami pertumbuhan sebesar 9,5 % dalam enam tahun ke depan, yaitu dari US$ 2 triliun pada 2013 menjadi US$ 3,7 triliun pada 2019. Tentu ini sangat potensial sekali bila RI mampu menguasai pasar tersebut.

Dalam kesempatan pertemuan membahas kerjasama pengembangan produk halal tersebut, kedua belah pihak juga membahas tentang perdaganganan lintas batas antar kedua negara dalam menjaga ritme ekspor impor agar dapat saling memberikan ruang untuk bermain dalam pasar perdagangan dunia. (Alp/dbs)

 


Back to Top