Indahnya Iklim Kerja di Perbankan Syariah

 

Jakarta, (gomuslim). Perbankan syairah dan non syariah atau biasa disebut konvensional, selain secara sistem memang berbeda, rupanya hal itu juga berpengaruh pada cara bekerja di bank masing-masing serta iklim bekerja yang terbentuk antar kedua perbankan tersebut. Tren bekerja dengan sistem pendekatan spiritual atau biasa disebut manajemen spiritual, saat ini sudah banyak diterapkan di berbagai perusahaan, baik nasional maupun multinasional, baik kecil maupun besar.

Sebagaimana yang juga diterapkan di banyak perusahaan, perbankan syariah juga menerapkan prinsip bekerja secara syariah. Terlihat dari cara para pekerja menyempatkan waktunya untuk bekerja, berdoa, hingga memperhatikan hal-hal pendukung lainnya, seperti pakaian yang syar’i dan lain sebagainya. Mengenai lingkungan kerja di perbankan syariah, Direktur Finance and Strategy Bank Syariah Mandiri, Agus Dwi Handayani mempunyai cerita tersendiri setelah mencicipi pengalaman bekerja selama 17 tahun di perbankan non syariah dan 2 tahun bekerja di perbankan syariah dengan jabatan yang tengah diembannya saat ini.

"Secara umum berlandaskan prinsip kejujuran, keadilan, transparansi sehingga hal-hal tersebut akan jadi nilai tambah untuk bank syariah," jelasnya ketika disinggung soal perasaannya pasca bergabung di perbankan syariah.

Selain itu, beliau juga mengungkapkan bahwa selama bekerja pada bank yang menerapkan sistem syariah di dalamnya, ia mengaku senang karena bisa melihat indahnya Islam dari proses-proses transaksi perbankan yang dikemas dalam bentuk prinsip syariah. Mulai dari proses jual beli dan simpan pinjam murabaha.

Disamping berkomentar tentang iklim bekerja antara perbankan syariah dan konvensional, ia juga mengomentari tentang perbedaan perbankan syariah dan konvensional dari sudut lain. “Pada dasarnya tidak terlalu banyak perbedaan antara bekerja di bank sistem konvensional dan bank bersistem atau prinsip syariah. Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh bank syariah dari bank konvesional ialah ketika bank syariah tidak hanya berfokus pada profit semata,” Ujarnya.

Lebih dari itu, beliau juga menekankan bahwa perbankan syariah sebetulnya murni di wilayah bisnis. Adapun perbedaannya terletak pada porsi penerapan syariahnya. Contoh yang paling konkret adalah, setiap bank yang menerapkan sistem syariah mengenakan zakat 2,5 persen bagi para nasabahnya. Tentu ini akan membawa keberkahan baki kedua belah pihak, baik nasabah maupun perusahaan, di dunia dan akhirat. (Alp/ddbs)

 


Back to Top