Sebelum Ramadhan Berakhir, Kewajiban Pribadi Ini Harus Sudah Selesai

Jakarta, (gomuslim). Sebelum bulan suci Ramadhan tutup tanggal, umat Islam berkewajiban melaksanakan satu hal yang tidak dapat ditunda hingga khatib Idul Fitri naik mimbar. Kewajiban yang bersifat personal itu adalah membayar zakat diri atau zakat fitrah.

Di dalam hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al Hakim dari Ibnu Abbas dijelaskan: "Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari noda-noda perkataan dan perbuatan yang salah, dan untuk memberi makan kepada fakir miskin.”

Zakat fitrah adalah kewajiban ‘personal’ setiap muslim-muslimah yang masih bernyawa dan dibayarkan sebelum mengerjakan shalat Idul Fitri. Jika zakat dibayar setelah shalat Idul Fitri, maka statusnya bukan lagi zakat diri tetapi menjadi shadaqah atau sedekah biasa.

 

Dengan apa zakat ditunaikan? Pada zaman Nabi dan para sahabatnya, zakat ditunaikan dengan bahan makanan seperti kurma, gandum, beras, jagung, beras atau lainnya. Oleh karena maksudnya untuk makanan fakir miskin, maka menurut mayoritas atau jumhur ulama, pembayaran zakat fitrah dapat diganti dengan uang senilai bahan makanan itu dengan keniscayaan setiap daerah mempunyai harga sendiri-sendiri.

Kepada siapa zakat fitrah itu dibagikan? Dikutip dari laman Badan Amil Zakat Nasional, zakat fitrah, sebagaimana dikemukakan KH Ahmad Azhar Basyir MA dalam Hukum Zakat (1997), zakat fitrah diberikan kepada fakir miskin di tempat pemungutannya. Jika terdapat kelebihan boleh dipindahkan ke tempat lain.

Hadits Rasulullah SAW menganjurkan, jika hendak membagi zakat fitrah atau zakat harta kepada fakir miskin, kenanglah lebih dulu fakir miskin dalam keluarga terdekat.

Berapa jumlah takaran zakat fitrah? Banyak yang menyatakan dalam kilogram atau liter. Akibatnya ukurannya jadi bermacam-macam. Karena itu jalan terbaik adalah kembali menyatakannya dalam ketentuan dari Rasul SAW, yaitu dalam takaran, atau volume.

Dalam bahasa kitab kuning disebut berdasarkan sabda Nabi SAW, kewajiban zakat fitrah adalah sebesar 1 sa’ Madinah. Maka, kita harus mencari sa’ Madinah ini, lalu kalaupun mengkonversi dalam volume juga, yaitu liter, tidak dalam timbangan, atau kilogram. Sebab, selain sa’ Madinah, banyak beredar di masyarakat yang masih menggunakan takaran tradisional ini, yaitu sa’ Baghdad. 

Shekh Abdalhaq Bewley dalam bukunya Restorasi Zakat (Pustaka Adina, 2004), menyatakan bahwa 1 sa’ Madinah adalah sama dengan empat mudd. Satu mudd adalah satu tangkup dua tangan orang dewasa rata-rata. Dalam konversi  volume modern setara dengan 2.035 liter.

Ulama Indonesia juga banyak berbeda pendapat tentang satu sha' seperti Kyai Maksum-Kwaron Jombang menyatakan satu sha sama dengan 3,145 liter, atau 14,65 cm2 atau sekitar 2751 gram.
Sedangkan pada umumnya di Indonesia, berat satu sha dibakukan menjadi 2,5 kg. Pembakuan 2,5 kg ini barangkali untuk mencari angka tengah-tengah antara pendapat yang menyatakan 1 sha' adalah 2,75 kg, dengan 1 sha' sama dengan di bawah 2,5 kg.
Sebab menurut kitab al-Fiqh al-Manhaj, Juz I, hal 548, 1 sha' adalah 2,4 kilo gram (Kebanyakan berpegang pada pendapat ini). Ada juga yang berpendapat 2176 gram (2,176 kg).

Untuk memverifikasikannya lagi, sejumlah lembaga keagamaan di tanah air telah menakar kembali  sa’ Madinah ini dengan beras, dan menemukan volume 2.035 liter. Ini mengkonfirmasi volume yang dinyatakan oleh Shaykh ABdalhaq Bewley di atas. 

Di masyarakat Indonesia takaran fitrah yang sering digunakan adalah sebanyak 3.5 liter atau 2.7 kilogram sebagaimana banyak dinyatakan oleh para pengelola zakat fitrah saat ini. Mungkin lebih banyak lebih baik karena akan bernilai shadaqah dari pada kurang dari takaran akan menyebabkan kurang afdhalnya amalan.

Demikianlah, karena ini adalah kewajiban personal, maka setiap pribadi muslim-muslimah wajib mengetahuinya.  (mm)


Back to Top