Refleksi Syawal: Persiapan Menuju Sebelas Bulan Mendatang

Jakarta, (gomuslim). Bulan Syawal telah memasuki hari ketiga. Namun berbagai peristiwa telah terjadi di berbagai belahan dunia lain. Mulai dari yang positif seperti toleransi umat lain terhadap umat Islam yang semakin cair, hingga yang negatif seperti serangan teror bom bunuh diri yang menyasar Turki, Indonesia, hingga kota suci Madinah Al-Munawwaroh yang menimbulkan puluhan korban jiwa dan korban luka. Dari serangkaian peristiwa tersebut, penting untuk mengambil pelajaran dari berbagai sudut pandang dan konteks dalam rangka refleksi Syawal menuju kefitrahan yang hakiki.

Di antara refleksi Syawal yang biasa diambil adalah pengendalian diri dari kehidupan di era millennium yang serba praktis dan cenderung tertutup alias sendiri-sendiri, sebagaimana yang diungkapkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin disela-sela kesibukannya menjelang Hari Raya Idul Fitri 1437H. “Hawa nafsu adalah musuh utama setiap kita. Memasuki Syawal, kita diharapkan bisa menjalani hidup ini dengan penuh kemampuan mengendalikan diri sehingga jati diri kita lebih terpelihara,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa  Idul Fitri secara harfiah berasal dari kata Id dan Fitri. Id berarti kembali, sedang fitri berarti kesucian. Maka Idul Fitri berarti kembali ke jati diri kemanusiaan. “Setelah sebulan menempa diri, maka di akhir kita diharapkan menjadi manusia baru yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Itu yang ke depan harapannya perlu dijaga dan dipelihara,” tandasnya dengan penuh harapan.

Refleksi Syawal melalui pengendalian diri dianggap penting karena tanpa pengendalian diri seseorang mustahil dapat hidup dengan tenang, aman, dan sejahtera, setidaknya untuk menghadapi sebelas bulan ke depan. Maka dari itu, momentum Ramadhan yang telah lalu kemudian dilanjutkan dengan momentum Idul Fitri ini harus menyadarkan kembali manusia kepada kefitrahannya sebagai manusia dengan berbagai pelajaran yang dapat diambil dari bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Sebagaimana yang kita ketahui, Hari Raya Idul Fitri sering disebut hari kemenangan, yakni kemenangan dari hawa nafsu, setelah sebulan lamanya berpuasa melawan hawa nafsu yang senantiasa mengajak pada keburukan, bukan hanya perut yang berpuasa, namun juga tangan dari berbuat yang tidak baik, kaki dari melangkah ke jalan yang tidak baik, mulut dari berbicara serta mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, telinga dari mendengar yang tidak baik, dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang tidak baik. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemudahan dalam menjalani sebelas bulan ke depan  hingga dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang. (alp)


Back to Top