Idul Fitri 1437 H

Ini Rekomendasi Kuliner Halal Saat Mudik Lebaran

Jakarta, (gomuslim). Lima hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah arus mudik dan arus balik masih terlihat di beberapa titik jalur utara dan selatan, begitu juga di banyak stasiun dan pelabuhan. Libur Lebaran yang bertepatan dengan liburan anak sekolah tahun ini menjadi salah satu alasan banyak pemudik berlama-lama di kampung halaman. Karena itu, banyak masyarakat menghabiskan waktu libur lebaran dengan mengunjungi berbagai tempat wisata dan juga mencicipi berbagai kuliner khas di daerah masing-masing.

Seperti di Bandung, Jawa Barat. Bagi pemudik Bandung dan sekitarnya, panganan yang satu ini sudah tidak asing lagi, bahkan menjadi kuliner wajib saat bertandang ke kota kembang ini. Adalah permen karamel  tradisional yang dibuat dari susu sapi menjadi oleh-oleh favorit wisatawan yang berwisata ke kawasan Pangalengan Kabupaten Bandung selama libur Lebaran 2016.

Menurut Komariah penjual makanan khas Pangalengan omset penjualan karamel meningkat signifikan, juga dodol buah buahan. Sebagian besar membeli dalam partai besar.

"Wisatawan dari luar Bandung banyak yang membeli dalam jumlah besar untuk oleh-oleh, selain untuk bekal berwisata," jelas Komariah.

Karena itu, banyak kendaraan wisatawan berjejer di hampir setiap kios penjualan makanan khas kawasan pengalengan itu baik kedaraan roda empat maupun roda dua.

Karamel Pangalengan selain menawarkan rasa original juga terrsedia dengan variasi rasa seperti rasa coklat, strawberry, nenas dan rasa pisang. Harga jual karamel bervariasi mulai dari Rp6.000, Rp20.000 hingga Rp30.000 per kemasan tergantung jumlah karamel di dalamnya. Karamel sendiri adalah  permen khas Pangalengan yang dibuat dari susu sapi yang diolah menjadi permen. Bahan permen dicetak besar kemudian diiris berbentuk kotak satu sentimeter kemudian dibungkus dengan kertas yang telah diberi cap pembuatnya.  Selain karamel para pedagang juga menjual dodol buah-buahan dengan rasa pandan, strawberry, nenas, sirsak dan pisang. Selain itu manisan buah pala juga menjadi manisan yang dijual oleh para pedagang di sepanjang jalan itu.

Kawasan Pangalengan merupakan obyek wisata di kawasan Bandung selatan yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Bandung melalui Baleendah - Bajaran - Pangalengan.

Lain hal dengan kota Surabaya yang memiliki tempat wisata kuliner yang sudah terkenal seNusantara. Adalah Rumah Makan Ria Galeria. Berlokasi di Jalan Bangka, nomor 2-4, Surabaya, rumah makan ini tak sulit untuk menjangkaunya.Karena restonya tepat berada  di pinggir jalan utama kota. Banyak plihan kuliner yang bisa Anda cicipi di resto ini, seperti rujak cingur, tumis lurjuk, sate sumsum sapi, rawon, kepiting gembos, dadar jangkang, es siwalan dan masih banyak hidangan lezat lainnya. Tak hanya makanan lezat dan konsep klasik yang menarik. Rupanya, restoran yang sudah berdiri sejak 1985 ini kerap jadi favorit tokoh ternama di Tanah Air, mulai dari pejabat, artis ibu kota, hingga mantan Presiden RI SBY dan Presiden Jokowi.

Beralih dari Pulau Jawa, Sumatera juga tak kalah seru dalam hal berwisata kuliner. Jumlah maupun ragam kuliner khas Sumatera yang dapat dinikmati pun terbilang banyak. Menurut foodie (penikmat makanan) Bondan Winarno dan penulis buku "100 Makanan Tradisional Indonesia Mak Nyus" (2013), keberadaannya bahkan mencerminkan kebhinnekaan bangsa ini.

Bondan Winarno memilih setidaknya 33 kuliner dari Pulau Sumatera di dalam bukunya itu. Ketiga puluh tiga makanan khas pulau yang dijuluki para pendatang dari India di masa lampau sebagai Swarna Dwipa atau Pulau Emas itu adalah Mie Aceh, Sie Itek (kuah bebek), Karee Kameng (kari kambing), Kaumamah, Gulai Kepala Ikan, Ayam Tangkap, dan Nasi Guri (Aceh). Selanjutnya ada Soto Medan, Kwetiau Kerang, Bihun Kari, Gurame Kencong, Gulai Ikan Salai, Anyang, Ikan Tombur, Arsik Ikan Mas dan Ayam Pinadar (Sumatera Utara); Ikan Asam Pedas dan Sop Ikan (Riau); serta Kembung Betelok dan Lempah Kuning (Bangka Belitung). Ada pula Rendang Kapau, Pangek Tuna, Gulai Itiak Lado Mudo, Dendeng Baracik, Dendeng Batokok, Udang Kipas Balado, Sate Danguang-danguang, dan Soto Padang (Sumatera Barat); serta Brengkes Tempoyak Patin, Pindang Udang Galah, Mi Celor, Tekwan dan Pempek (Sumatera Selatan).

Sekali pun banyak di antara jenis kuliner khas Sumatera itu kini dapat ditemukan di kota di mana para pemudik tersebut kini bermukim atau pun bekerja, mencicipi rasa makanan-makanan tersebut di daerah asalnya agaknya memberi pengalamanan tersendiri. Misalnya, bagi pemudik yang kebetulan melintas di Medan, mereka dapat menikmati aneka makanan khas Sumatera Utara itu di sejumlah rumah makan atau restoran yang ada di kota yang di masa lalu disebut Tanah Deli dan pada mulanya dibuka oleh seorang tokoh bernama Guru Patimpus ini. Bagi para penyuka Soto Medan, Bondan Winarno dan laman resmi sejumlah agen perjalanan yang berbasis di kota ini merekomendasikan Rumah Makan Sinar Pagi, kedai yang terletak di Jalan Sungai Deli 2 D/1.

Bagi para penikmat Mie Aceh namun tidak sempat mengunjungi daerah asal kuliner yang menunjukkan adanya pengaruh Tionghoa dan India itu, Mie Aceh Titi Bobrok yang terletak di Jalan Setia Budi 17 D Medan bisa menjadi salah satu pilihan karena ramai dikunjungi.  Kehadiran gerai-gerai makanan khas Nusantara hasil olahan beragam etnis di Sumatera itu turut menopang industri pariwisata Sumut. Karena itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara memasukkan kekuatan wisata kuliner tersebut ke dalam brosur promosi pariwisatanya.

Berbicara soal kuliner dari luar daerah, tak lengkap jika tidak membahas kuliner khas dari ibukota Jakarta. Adalah dodol Betawi. Panganan yang satu ini sering dotemui dalam perayaan hari raya dan juga hajatan keluarga Betawi. Salah satunya seperti kleuarga yang satu ini. Jika kaum perantauan memiliki tradisi mudik ke kampung halaman, keluarga Betawi di Kampung Cilalung, Jombang, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, juga memiliki tradisi yang masih dijaga menjelang Lebaran. Lebih dari sekadar membuat suguhan spesial hari raya, sama seperti mudik, membuat dodol betawi berarti menjalin silahturahmi antar keluarga dan tetangga, serta awal suka cita menyambut hari kemenangan. 

Untuk membuat dodol betawi itu, setidaknya dibutuhkan 25 kg tepung beras ketan hitam, 35 buah kelapa tua untuk diambil santannya, 16 kg gula merah, 10 kg gula pasir, setengah kilogram bawang merah, garam, dan minyak kelapa. Pembuatan dodol ini pun bisa melibatkan sepuluh orang dewasa atau lebih untuk mengaduk adonan dodol di kuali besar bersamaan. (fau/dbs)

 

 

 


Back to Top