Ini Peluang dan Tantangan Indonesia Wujudkan Destinasi Wisata Halal Dunia

(gomuslim). Indonesia yang memiliki ribuan pulau dengan beragam destinasi wisata beserta keunikan budaya masing-masing daerah menjadi surga bagi para wisatawan domestik dan asing. Ditambah dengan pemeluk agama Islam yang merupakan mayoritas membuat Indonesia memiliki berbagai peluang untuk mewujudkan pariwisata halal. Peluang tersebut adalah daya tarik pariwisata yang beragam dan sudah berkembang. Selain itu, Muslim friendly amenities seperti hotel, restoran dan lain-lain juga sudah mulai berkembang. Apalagi, saat ini kerjasama dengan organisasi multinasional untuk mengembangkan infrastruktur pariwisata halal relatif mudah dilaksanakan.

Menurut Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Indonesia Kementerian Pariwisata Riyanto Sofyan Indonesia mempunyai tiga hal terkait peluang dan tantangan dalam mengembangkan pariwisata halal. Kata Riyanto, hal itu karena sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia membuat Indonesia merupakan pasar produk-produk dan jasa wisata halal yang sangat besar.

Namun Riyanto menambahkan Indonesia menghadapi tiga tantangan dalam pengembangan pariwisata halal. Tantangan tersebut adalah rendahnya branding dan promosi Indonesia sebagai Muslim friendly destination, kurangnya sertifikasi untuk Muslim friendly amenities serta aksesbilitas dari dan menuju kota-kota besar mancanegara yang masih perlu ditingkatkan.

“Karena itu, perlu strategi percepatan untuk meningkatkan pariwisata halal Indonesia. Terkait perkembangan destinasi  hal yang perlu dilakukan adalah peningkatan infrastruktur pariwisata halal dan pengembangan atraksi dan amenitas pariwisata halal kelas dunia, “ jelas Riyanto, seperti dilansir dari publikasi Halhalal.

Sementara itu, pada sebuah diskusi bertema "Sosialiasi Strategi Kerjasama Pemasaran Wisatat Halal" yang berlangsung pada Mei 2016 lalu di Jakarta, Riyanto juga menjelaskan Indonesia telah berhasil menggarap dua juta wisatawan muslim dari seluruh dunia sepanjang tahun 2015. Tapi, jumlah tersebut masih kalah dibandingkan Malaysia yang berhasil mendatangkan enam juta wisatawan muslim sepanjang 2015.

Untuk itu, Riyanto mengajak pelaku industri pariwisata untuk turut serta memberikan pelayanan dan produk yang halal. Karena, kata Riyanto, wisata halal bukan berarti islamisasi atau arabisasi. Wisata halal merupakan extended service bagi wisatawan muslim untuk dapat berwisata dengan tenang. Untuk mencapai itu, dibutuhkan tiga syarat untuk memenuhi kategori tempat wisata halal.

Ketiga syarat tersebut adalah pemenuhan tempat ibadah, air mengalir untuk tempat bersuci, serta ketersediaan makanan halal. Namun, meski telah memenuhi itu semua, perlu ditambahkan jaminan berupa sertifikasi kehalalan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini untuk menjadi jaminan bahwa kehalalan sudah masuk ke dalam sertifikasi tersebut.

Hal ini pun sudah dilakukan pemerintah dengan melakukan sosialisasi  kepada banyak pihak, antara lain ke pengelola tempat wisata, hotel, dan restoran. Program ini akan mendapat subsidi dari pemerintah untuk lima destinasi prioritas halal, yaitu Lombok, Aceh, Sumatera Barat, Bandung, dan Jakarta.

Di sisi lain, meskipun telah memenuhi syarat tersebut, akan tak berarti jika tidak dipromosikan. Untuk itu, Kementrian Pariwisata dalam hal ini Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Indonesia mengajak para biro perjalanan untuk mulai menjual paket wisata muslim yang menarik, misalnya 15 hari paket wisata untuk tiga tempat, dimulai dari Jakarta selama tiga hari, lalu lanjut ke Bali dan Lombok. Paket ini terbukti berhasil menarik banyak wisatawan dari Timur Tengah. Terbukti, Lombok mengalami kenaikan kunjungan wisatawan asing hingga 50 persen pada tahun 2015. (fau/dbs)

 

 


Back to Top