Untuk Kedua Kalinya, Matahari Tepat Berada di Atas Kakbah. Saatnya Cek Arah Kiblat

(gomuslim). Dalam setahun menurut perhitungan bulan masehi, setidaknya terjadi dua kali peristiwa langka yang berkenaan langsung dengan kakbah, yakni posisi matahari yang berada tepat di atas Kakbah. Pada tahun ini, posisi matahari di atas kiblat atau biasa disebut Istiwa A’zham (Persinggahan Utama) atau disebut juga "Rashdul Qiblah" dalam bahasa Arab, pertama kali terjadi pada tanggal 28 Mei 2016 atau 27 di tahun kabisat, pukul 12:18 waktu Mekkah dan akan kembali terjadi pada  16 Juli 2016 atau 15 di tahun kabisat, pukul 12:27 Waktu Mekkah atau pukul 16.27 WIB.

Untuk menyikapi peristiwa ini, pemerintah melalui Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) mengatakan, berdasarkan tinjauan astronomis/falak, terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat di antaranya menggunakan kompas, theodolit, serta fenomena posisi matahari melintas tepat di atas Ka’bah yang dikenal dengan istilah Istiwa A’zam atau Rashdul Kiblat.

Lebih lanjut, salah satu pejabat di lingkungan Kemenag menjelaskan kiat-kiat Untuk menggunakan teknik Rashdul Kiblat. Pertama, pastikan benda yang menjadi patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus atau pergunakan Lot/Bandul; Kedua, Permukaan dasar harus betul-betul datar dan rata; dan Ketiga Jam pengukuran harus disesuaikan denganBMKG, RRI dan Telkom.

Akan tetapi, peristiwa Rashdul Kiblat ini tidak lantas bisa dimanfaatkan oleh seluruh penjuru bumi, mulai dari daerah paling utara hingga paling selatan serta daerah paling timur hingga paling barat. Dengan kemiringan sumbu Bumi yang mencapai 23,44 derajat, rupanya hal ini berdampak langsung terhadap perubahan posisi semu Matahari saat dilihat dari Bumi di samping memang akibat dari adanya rotasi bumi, dalam 24 jam setidaknya terdapat bagian bumi yang gelap dan bagian bumi yang terang terkena sinar matahari.

Untuk peristiwa Rashdul Kiblat mendatang, seluruh wilayah di benua Eropa, Afrika dan hampir seluruh Asia bisa melihat peristiwa ini. Hanya saja, daerah-daerah seperti Selandia Baru, sebagian wilayah Amerika Serikat, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Australia Timur serta Tenggara, Papua Nugini, dan negara-negara kecil lainnya di Asia Pasifik tidak dapat memanfaatkan peristiwa kebalikan dari Antipoda (Matahari tepat di bawah Kakbah) ini.

Bagi negara-negara yang dalam keadaan malam hari ketika matahari tepat di atas kakbah, mereka dapat memanfaatkan perisitwa lainnya yakni peristiwa ketika matahari tepat berada di bawah matahari. Negara-negara yang dapat memanfaatkan peristiwa ini untuk menentukan arah kiblat pun hampir kebalikan dari negara-negara yang memanfaatkan peristiwa Rashdul Kiblat.

Di Indonesia sendiri, pasca peristiwa Rashdul Kiblat pertama, ternyata banyak terkuak bahwa arah kiblat di Indonesia sesungguhnya bukanlah mengarah ke Barat melainkan mengarah ke Barat laut. Posisi tepat Barat lautnya pun berbeda-beda dengan derajat bervariasi antara 21o-27o menurut koordinat (garis lintang dan garis bujur) masing-masing daerah. Dengan adanya peristiwa Rashdul Kiblat ini, diharapkan seluruh warga mengecek arah kiblat masing-masing, baik di rumah, kantor, masjid, musholah, dan tempat-tempat lainnya. Karena, pergeseran arah kiblat sedikit saja, misalnya sebesar 1 derajat, dampaknya bisa melencengkan arah sekitar 100 km dari titik Kakbah. Semakin jauh kita dari Kakbah lencengan arah ini akan semakin besar. (alp/dbs)


Back to Top