Kemenag Siap Kerahkan Cyber Tim Agar Lebih Komunikatif dengan Masyarakat

(gomuslim). Kementrian Agama kini semakin berhias. Setelah di era Menteri sebelumnya yang dicap penuh dengan kejanggalan-kejanggalan dalam pelaksanaan haji dan umrah, kini di era Menteri Lukman Hakim Saifuddin Kemenag akan membentuk suatu tim yang dinamakan “Cyber Haji”. Pembentukan ini selain memberikan ruang khusus antara Direktorat Jenderal  Pelaksana Haji dan Umrah dengan masyarkat, nantinya juga ditujukan untuk mengawasi serta memberikan pemahaman kepada masyarakat soal informasi-informasi miring seputar haji dan umrah.

Dilansir dari situs resmi kemenag.go.id, pada hari selasa lalu telah diadakan rapat terbuka sebagai tindak lanjut pada rapat sebelumnya, yakni 30 Juni lalu. Adapun dalam rapat tersebut, di sana dibahas tentang pentingnya Kemenag untuk membentuk suatu tim Cyber haji. Adapun tim Cyber haji ini bagi kepentingan percepatan informasi.

Tim Cyber haji yang rencananya beranggotakan 3 orang ini, nantinya akan mengolah akun media sosial Kemenag, seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan media sosial lainnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat. Di samping itu, tim Cyber ini juga akan melalukan pemantauan pemberitaan di media, serta memberikan laporan pemantauan untuk didiskusikan dalam proses menjawab ketika pemberitaan itu miring.

"Era keterbukaan informasi saat ini yang terbuka luas siapapun untuk bicara sudah seyogyanya dapat dimbangi dengan kehadiran team cyber. Disamping berfungsi sebagai membangun komunikasi dua arah antar Ditjen PHU dengan masyarakat, menyebarkan informasi haji dan umrah dengan masif juga akan meluruskan pemberitaan yang miring dan tidak proporsional terhadap haji dan umrah," ujar Kabag Sistem Informasi Haji Terpadu Ditjen PHU Hasan Afandi.

Sebagaimana yang diketahui bersama, menjelang memasuki musim haji pada sebulan lebih beberapa hari yang akan datang, Pemerintah memang terus melakukan berbagai perbaikan Mulai dari survey kesiapan lokasi pemondokan jemaah haji Indonesia, manejemen konflik yang dalam hal ini seperti masalah prioritas, regulasi, akuntabilitasi, alternatif solusi ketika terjadinya hal-hal diluar perencanaan, hingga kesigapan dalam menyelesaikan masalah. Semuanya dipersiapkan dengan sematang mungkin.

Namun, dengan pengalaman dan memori buruk, insiden-insiden yang mencederai  jemaah Indonesia baru-baru ini serta stigma negatif terhadap Kemenag, masyarakat kerap kali mengabaikan hal-hal positif yang telah diusahakan oleh Menag dan jajarannya. Tentu ini sangat keliru mengingat kepercayaan dari masyarakat sangat dibutuhkan oleh Kemenag dalam menyongsong berbagai tugas berat mendatang, khususnya dalam pelaksanaan ibadah haji yang sudah di depan mata. (alp/dbs)


Back to Top