Kejar Defisit, Pemerintah Indonesia Wajib Maksimalkan Eskpor Produk Halal

(gomuslim). Beberapa saat yang lalu, Badan Pusat Statistik merilis bahwa neraca perdagangan Indonesia Surplus sebesar US$ 900,2 juta pada bulan Juni. Secara kumulatif di semester I 2016, surplus perdagangan mencapai US$ 3,59 miliar. Adapun terhadap 13 negara besar dengan kekuatan produk-produk eskpor serta kondisi dalam negeri yang mendukung, Indonesia masih tercatat defisit mencapai US$ 2,53 miliar di Januari-Juni 2016. Adapun negara tersebut di antaranya China, Jepang, Amerika Serikat (AS), India, Australia, Korea Selatan (Korsel), dan Taiwan.

Untuk memecah hegemoni atau defisit terhadap negara-negara tersebut, Indonesia harus meningkatkan ekspor produk-produknya, baik ke negara tersebut atau mengalihkannya dengan menambah kuota ekspor ke negara lain yang berpotensi seperti, Filipina, Switzerland, Vietnam, Pakistan, Hong Kong, Uni Emirat Arab, Spanyol, Inggris, Arab Saudi, Bangladesh, Mesir, Belgia, Turki, Brazil, dan Rusia, mengingat ekspor ke negara tersebut mengalami surplus dalam kuartal I tahun ini. Dan salah satu ekspor yang paling berpotensi selain barang-barang komoditas seperti karet, besi, baja, semen, dan minyak kelapa sawit, adalah produk-produk fashion khususnya produk-produk fashion syair’I asal Indonesia yang perlahan telah mendunia.

Meskipun belum menjadi daftar eskpor produk andalan Indonesia sebagaimana udang, kopi, kakao, minyak kelapa sawit, karet, elektronik, fish product, furniture, dan lain sebagainya, ekspor produk-produk fashion syar’i Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi andalan pemerintah dalam mengejar defisit terhadap negara-negara utama seperti yang telah tersebut di atas. Terutama ekspor ke Inggris dan Hongkong.

Untuk Hongkong, belakangan negara tersebut telah masuk dalam daftar sebagai negara tujuan muslim yang paling ramah dan menarik untuk dikunjungi. Hal itu pun kemudian disadari atau tidak berdampak langsung terhadap kebijakan dalam negeri dalam penyediaan fasilitas untuk umat muslim. Dari sisi ekonomi, tentu saja hal itu bisa berdampak pada aktivitas perdagangan, khususnya ekspor impor produk halal.

Adapun Inggris, sejauh ini negara yang baru saja memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa tersebut sudah tidak asing lagi dengan prinsip-prinsip Islam, mulai dari penerapan ekonomi Islam, kebijakan terhadap imigran dari negara-negara Islam, Kuliner yang berhubungan dengan Islam (kuilner halal), hingga fashion syar’i atau gaya berbusana ala Islam yang lebih tertutup. Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa pun sebetulnya telah meninggalkan celah yang cukup besar untuk pemerintah RI agar bisa menjalin kemitraan perdagangan dengan lebih intens lagi sehingga berpeluang untuk lebih ekspansif dibanding sebelumnya.

Meskipun demikian, penurunan mata uang Poundsterling akhir-akhir ini, bisa saja membuat skema Inggris menjadi sangat mahal terhadap ekspor dan lebih murah terhadap ekspor. Jadi, khusus untuk Inggris, peningkatan produktivitas ekspor harus tetap dibarengi dengan strategi-strategi lainnya agar bisa lebih efektif dan efisien dalam memaksimalkan perdagangan guna mengejar defisit neraca perdagangan terhadap negara-negara utama. (alp/dbs)


Back to Top