Lewat Peran Mualaf, Lembaga Pendidikan Islam di Amerika dan Kanada Berkembang Pesat

gomuslim.co.id- Pendidikan Islam berkembang tidak hanya di Indonesia. Perkembangan juga terjadi di beberapa negara lain, pendidikan Islam juga tengah menjadi sorotan. Pendidikan yang mengedepankan integrasi antara ilmu dan agama saat ini menjadi tren positif. Selain diharapkan menjadi ilmuan handal, namun tetap memiliki moral yang baik menjadi salah satu alasannya.

Baru-baru ini, lembaga pendidikan Islam di benua Amerika bagian utara telah menjadi primadona. Hal demikian terlihat setelah ratusan penyelenggara pendidikan memutuskan bergabung dalam sebuah organisasi bernama Islamic Society of North America (ISNA) yang telah berdiri pada 34 tahun silam.

Sebagai organisasi Islam tertua di Amerika Utara, ISNA sudah bertahun-tahun mengembangkan keislaman di barat, terlebih bidang pendidikan. Sekretaris Jendral ISNA, Abdalla Idris Ali mengatakan hingga saat ini terdapat sebanyak 500 lembaga pendidikan Islam yang telah bergabung bersama ISNA.

“Angka itu relatif cukup banyak  mengingat kami berada di wilayah minoritas Muslim. Sekolah-sekolah yang tergabung di ISNA tersebar di Amerika dan Kanada dan peminatnya juga sangat banyak, sekolah-sekolah terus maju dan berkembang,” tutur Abdalla Idris saat memberikan sambutan dalam acara Internasional Conference of Islamic Education (ICIE) yang diselenggarakan oleh Internasional Islamic Alliance (ITTHISAL) di Surakarta beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, dirinya membeberkan bagaimana kesuksesan yang dicapai ISNA dalam merangkul sekolah-sekolah Islam dan meningkatkan mutu dan kualitas pendidikannya. Ia mengatakan, pada awalnya ISNA melakukan sosialisai terhadap seluruh masyarakat di Kanada dan Amerika terlebih kepada umat Islam. “Awalnya kami lakukan sosialisasi terlebih dahulu sebagai langkah awal perkenalan,” ujarnya.

Abdalla menambahkan, masyarakat Amerika dan Kanada terlebih dahulu diberikan pemahaman tentang keunggulan lembaga pendidikan Islam. Selanjutnya, ISNA pun menggandeng sejumlah organisasi dan pengusaha-pengusaha Muslim yang mempunyai komitmen untuk bersama-sama mengembangkan pendidikan Islam.

“Kami menyalurkan 9 juta dolar amerika untuk pengembangan sekolah-sekolah di bawah naungan ISNA. Kami merangkul pengusaha, ilmuan, dan setiap masyarat muslim di sana. Hasilnya sekolah-sekolah kami menjadi besar dan yang terbaik dibandingkan sekolah-sekolah swasta atau negri yang ada,” tuturnya.

Kesuksesan Komunitas Islamic Society of North America (ISNA) dalam berbagai hal termasuk bidang pendidikan ini tidak lepas dari peran seorang mualaf. Ia adalah seorang yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat bernama Ingrid Mattson dan pernah menjabat sebagai presiden ISNA. “Saya punya kesalehan kanak-kanak yang polos dan sederhana,” ujar Ingrid dalam buku 'Seeking Truth Finding Islam (Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat)'.

Sempat menjadi atheis alias tidak mempercayai Tuhan. Ingrid kemudian memilih fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan memilih jurusan Seni dan filsafat. Namun darisanalah dirinya mengenal cahaya Islam. Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo, dia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Selanjutnya, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, dia berkenalan dengan beberapa Muslimah dari Senegal.

Mattson terpesona dengan ketulusan dan martabat yang dia lihat dari diri teman-teman Muslimnya itu. Bahkan di saat para muslim tersebut menghadapi prasangka buruk di sekelilingnya karena islampobia. Hal itulah yang kemudian membawanya untuk mempelajari Alquran. “Mereka punya kebijaksanaan yang seimbang,” ujarnya.

Sejak saat itu, Mattson mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap keluarga, anak-anak, tetangga dan sekitarnya untuk selalu berbuat baik.

Pada tahun 1986, dia lalu memutuskan bersyahadat dan menjadi muslimah. Dia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. Saat itu usianya 23 tahun. Mattson mendapatkan gelar Ph.D. di studi Islam dari Universitas Chicago pada tahun 1999. Dia terus menjadi sangat aktif dalam mendidik Muslim Kanada untuk menjadi partisipan aktif dalam masyarakat Kanada pada umumnya.

Pada tahun 2001 Mattson terpilih menjadi Wakil Presiden ISNA. Selama menjadi wakil, Mattson dinyatakan memiliki reputasi dan nilai yang sempurna. Hal itulah yang kemudian pada tahun 2006 menghantarkannya terpilih sebagai presiden wanita pertama dalam organisasi itu. (njs/dbs)


Back to Top