Moody's Sebut Indonesia Banyak Terbitkan Sukuk Syariah di Pasar Global

gomuslim.co.id- Sebuah lembaga pemeringkat saham Moody’s Investor Services memprediksi bahwa Malaysia dan Indonesia akan terus menerbitkan sukuk (Obligasi Syariah) negara sepanjang tahun ini, sedangkan negara-negara Teluk lebih melirik obligasi untuk membiayai defisit fiskal mereka. Penerbitan surat utang syariah tersebut diprediksi akan menembus angka US$28 miliar atau setara dengan Rp363,85 triliun pada tahun 2016 ini.

“Rancangan yang kuat terhadap penerbitan sukuk yang direncanakan sepanjang 2016 ini menitik beratkan pada stabilnya penerbitan sukuk tahun ini,” kata analis Moody’s Mathias Angonin, seperti dilansir dari publikasi Moodys, (11/11).

Sementara itu, negara-negara seperti Pantai Gading, Senegal, dan Sharjah yakni negara bagian Uni Emirat Arab kembali menerbitkan sukuk negara pada tahun ini. Angonin mengatakan bahwa volume surat utang syariah yang dirilis oleh Indonesia, Malaysia, dan Turki mendominasi pasar sukuk.

Lantas, bagaimana dengan negara Teluk seperti Arab Saudi dan lainnya, Angonin mengatakan bahwa negara-negara teluk lebih menyukai penerbitan surat utang konvensional daripada surat utang syariah. Hal ini sejalan dengan lesunya harga minyak dunia dan defisit fiskal yang kian melebar.

Angonin mengatakan sepanjang tahun 2016, Oman mendapatkan rating BAA1 (obligasi yang memiliki karakteristik spekulatif) stabil untuk sukuk yang pertama kali dirilis dan Sharjah mendapat A3 (Obligasi kwalitas baik dengan resiko kecil) stabil. Secara keseluruhan, sukuk negara yang dirilis negara-negara Teluk didominasi oleh Qatar, negara yang paling aktif menerbitkan sukuk negara jangka panjang di negara kawasan Teluk dan mendapatkan peringkat AA2 (Obligasi kwalitas baik dengan resiko kecil) negatif.

Dia menambahkan, opsi penerbitan obligasi atau sukuk ini bergantung kepada investornya. Dalam hal ini, Malaysia telah mengembangkan dan memperdalam pasar keuangan syariah, sedangkan Indonesia menjadi negara paling banyak menerbitkan sukuk di pasar global.

Untuk di negara Teluk, pertumbuhan deposition lebih tinggi di perbankan syariah daripada perbankan konvensional. Namun, perbankan di negara tersebut dibatasi dengan aturan penerbitan surat investasi syariah, termasuk sukuk negara.

Moody’s juga mencatat pemerintah negara Sub Saharan African (SSA) terus melanjutkan penerbitan surat utang syariah ini. Senegal yang merupakan negara baru penerbit sukuk negara mendapatkan peringkat B1 positif dan Pantai Gading mendapat Ba3 stabil. Sementara itu, Nigeria yang mendapatkan peringkat B1 stabil untuk sukuk negara ini, mulai meningkatkan volume surat utang syariah tersebut.

“Penerbitan sukuk negara oleh SSA ini tetap aktif seperti pemerintah yang tengah merancang kerangka kerja untuk perbankan syariah dan tes pasar,” tambah Angonin.

Untuk diketahui, Moody's sendiri merupakan perusahaan induk dari Moody's Investors Service yang menyediakan jasaanalisis keuangan dan analisis atas lembaga usaha dan lembaga pemerintah. Perusaahan ini juga memberikan peringkat atas kelayakan kredit dari peminjam dengan menggunakan peringkat standar. Perusahaan ini memiliki kontibusi sebesar 40% terhadap pangsa pasar pemeringkat kredit dunia. Pemeringkatan yang dilakukan oleh Moody's ini di Indonesia sendiri dikenal dengan sebutan "Peringkat Moody's". Perusahaan Moody's didirikan pada tahun 1909 oleh John Moody. (ari/dbs)


Back to Top