Bangun Masjid Ramah Lingkungan, Arsitek Muslimah Asal Bangladesh Ini Raih Penghargaan Internasional

gomuslim.co.id- Masjid merupakan sarana beribadah bagi setiap Muslim di dunia. Keberadaan Masjid begitu penting dalam membangun peradaban masyarakat Islam. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid juga memiliki peran sebagai tempat kegiatan sosial dilakukan dan salah satu wisata bagi para pengunjung. Keindahan dan keunikan arsitektur setiap bangunan Masjid menjadi salah satu alasannya.

Baru-baru ini ada sebuah Masjid yang unik dan berbeda dibandingkan dengan Masjid lainnya. Masjid ramah lingkungan yang berada di kota Dhaka, Bangladesh ini merupakan buah karya dari seorang arsitek perempuan bernama Marina Tabassum. Hasil karyanya ini mendapatkan penghargaan internasional Aga Khan Award for Architecture, yang dianugerahkan setiap tiga tahun sekali. Hal demikian karena Masjid tersebut memiliki sisi keunikan dan menarik dari arsitektur bangunan.

Nama Marina Tabassum baru muncul sebagai salah satu arsitek hebat Bangladesh, usai merancang Museum Kemerdekaan Dhaka. Ia mengatakan, dirinya merancang bangunan Masjid tersebut dengan berfokus kepada nilai spiritualitas. “Kami mungkin tidak memiliki tradisi perempuan pergi ke masjid untuk berdoa, tapi saya telah melihat beberapa ruang spiritual yang benar-benar indah, itu selalu jadi inspirasi besar bagi saya,” ujarnya sebagaimana dilansir beberapa waktu yang lalu.

Beraktivitas di masjid mungkin bukan kegiatan konvensional yang dilakukan perempuan Bangladesh. Di negara ini, memang arsitek perempuan masih terbilang minim. Namun, setidaknya sampai hari ini, Marina merupakan pendobrak sejarah, dengan menjadi satu-satunya arsitek masjid perempuan di Bangladesh.

Meski begitu, sisi konvensional terlihat cukup jelas dari rancangan masjid perempuan berusia 45 tahun tersebut. Menara tradisional dan kubah struktur bata bertingkat satu rancangannya, mampu membuat sinar matahari tetap sejuk di musim panas sekalipun.

Seperti kebanyakan perempuan Bangladesh, Marina terbilang baru akrab dengan masjid saat dewasa. Marina sendiri baru menginjakkan kaki di masjid ketika ditugaskan merancang bangunan 2005 lalu, setelah neneknya menyumbang sebidang tanah.

Tapi, Marina telah mengunjungi lebih dari 100 masjid, sebelum menetapkan rancangan untuk Masjid Baitur Rouf di Dhaka. Ia memiliki hasrat menciptakan surga kecil, di lingkungan miskin dan salah satu kota terpadat di dunia.

Desain masjidnya dirancang agar cahaya alami dan udara segar dapat masuk ke ruang shalat sehingga dapat lebih khusyuk. Rancangan ini juga mengurangi ketergantungan pada alat buatan. Marina mengaku, tidak menghadapi hambatan saat merancang masjid tersebut. Meskipun memang di Bangladesh masjid jarang dirancang oleh arsitek profesional.

Banyak pihak merasa senang karena masjid benar-benar dirancang oleh seorang arsitek. Selain itu, dia mengumpulkan dana dari donatur untuk membangun masjid tersebut, sehingga banyak orang yang menghargai karyanya.

Sebuah masjid biasa memiliki kubah, menara dan mimbar untuk khutbah. Namun, masjid Bait ur Rouf ini tidak. Menurut dia, secara historis, kubah digunakan sebagai atap untuk menutupi ruang yang besar, dan bentuk tersebut merupakan satu-satunya teknologi yang tersedia saat itu. Sekarang ada teknik lain yang berbeda selain itu kubah masjid merupakan peninggalan Ottoman.

“Saya percaya simbol ini mengalihkan perhatian kita dari esensi Islam. Itulah sebabnya, saya menolak desain tersebut dan fokus pada aspek kontemplasi dan spiritualitas agama,” ucapnya.

Sebagai masjid yang ramah lingkungan, dengan membiarkan cahaya dan udara masuk ke ruang shalat, maka akan mengurangi penggunaan listrik. Pengurus masjid juga dapat menghemat biaya perawatan karena hnaya membutuhkan 50 dolar per bulan. Masjid ini didesain supaya umat Muslim dapat berinteraksi secara bebas karena Masjid digunakan juga sebagai interaksi sosial. (njs/dbs)

 


Back to Top