Perkuat Industri Syariah, Belgia Akan Gelar Konferensi Halal Internasional

gomuslim.co.id- Ekonomi syariah terus mengalami pertumbuhan dalam beberapa dekade terakhir di beberapa negara dunia. Industri halal kini tengah menjadi primadona dunia. Berbagai sektor halal dan bisnis berbasis syariah terus dikembangkan oleh beberapa pengusaha dan negara di dunia. Kesadaran masyarakat akan produk halal yang meningkat, menjadi dasar pengembangan industri halal ini.

Data menunjukan, pada tahun 2015 perekonomian makanan halal di Amerika Utara dan Eropa diperkirakan mencapai angka 48 miliar US Dollar. Salah satu penyebab pertumbuhan ini yaitu adanya regulasi oleh pemerintah dan pembentukan lembaga halal di beberapa negara muslim.

Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Food Halal Council of Europe (HFCE) akan menggelar acara International Halal Food Conference (IHFC) yang ketujuh. Konferensi ini akan dilaksanakan pada tanggal 24 sampai 25 Oktober mendatang di Sheraton Brussels, Belgia.

Konferensi Halal 2016 akan fokus pada pasar halal negara berkembang. Selain itu, konfrensi ini juga akan menyediakan platform untuk diskusi antara industri, lembaga sertifikasi dan wakil pemerintah sehingga mampu memberikan beberapa pemahaman tentang tren pedoman halal dan akreditasi untuk dekade berikutnya.

HFCE merupakan salah satu lembaga sertifikasi halal terbesar di Eropa dan diakreditasi oleh MUI (Indonesia), MUIS (Singapore), JAKIM (Malaysia), MOEW (UEA) serta memiliki jaringan lembaga sertifikasi di seluruh dunia. HFCE terus bekerja dengan pemerintah dan pemula  untuk membantu industri mengakses pasar halal dan memastikan konsumen dapat menikmati produk halal. Seperti makanan dan minuman. Konfrensi ini akan dihadiri oleh beberapa perwakilan negara di seluruh dunia. Dari Indonesia akan hadir Direktur LPPOM-MUI Lukmanul Hakim.

Sementara itu, Forum Akreditasi Halal Internasional atau IHAF diminta untuk terus mendorong agenda standardisasi Halal. Sehingga, untuk ke depannya, diharapkan tidak terjadi lagi permasalahan yang berkaitan dengan perbedaan standardisasi halal. Hal demikian disampaikan dalam acara Global Islamic Economy Summit (GIES) 2016.

Sekretaris Jenderal IHAF, HE Mohamed Saleh Badri mengatakan GIES memberikan kesempatan yang ideal bagi IHAF untuk menyampaikan kepada pemangku kepentingan terkait pentingnya menyatukan standardisasi industri halal secara global.

Menurutnya, saat ini, industri halal memiliki tantangan terkait standarisasi. Untuk itu pentingnya bagi IHAF  membuat langkah untuk menciptakan pasar halal yang terintegrasi. “Berbagai negara memiliki set yang berbeda terkait kriteria sertifikasi produk halal, sehingga secara tidak sengaja membentuk hambatan perdagangan di antara mereka,” ujarnya.

Dia menambahkan, standardisasi adalah kunci utama untuk industri halal. Sangat penting bagi industri untuk memiliki skema terpadu yang menjamin pengembangan spesifikasi yang memadai, persyaratan, dan implementasi sistem verifikasi yang sesuai.

"Kami ingin menciptakan pasar halal global yang dipercaya oleh konsumen. Dan dengan pembentukan dan arah IHAF, standardisasi halal dapat dilakukan secara sistematis. Kami berusaha agar masyarakat internasional  menjadi akrab dengan cara IHAF," ujar Badri.

IHAF bertujuan untuk melindungi dan meningkatnya jumlah konsumen produk halal serta untuk memfasilitasi perdagangan internasional dengan menjalin kemitraan dan perjanjian multilateral antara negara-negara yang mengimpor dan ekspor produk halal. Saat ini, IHAF memiliki 10 anggota  termasuk UEA, Amerika Serikat, Inggris, Kerajaan Arab Saudi, Spanyol, Australia, Selandia Baru, Pakistan, Mesir, dan sisanya dari GCC (Dewan Kerja sama Negara Teluk). (njs/dbs)


Back to Top