Rancang Muslim Fashion, Hana Tajima Terinspirasi Muslimah Indonesia

gomuslim.co.id- Tren hijab merupakan sesuatu yang penting bagi kalangan muslimah. Apalagi jika mereka tertarik dengan hal-hal yang berhungungan dengan design pakaian. Busana Muslimah yang trendy namun tetap syari menjadi pilihan utama bagi kalangan mudah muslimah dunia. Ingin berpenampilan menarik tetapi masih dalam aturan Islam adalah pilihan untuk tampil percaya diri.

Hana Tajima, seorang mualaf keturunan Jepang-Inggris yang bergerak di dunia fashion blogger dan desainer terkenal ini mengaku mengaku banyak terinspirasi dari Muslimah Indonesia dalam merancang busana. “Saya mendapatkan begitu banyak inspirasi dari gadis-gadis Indonesia yang memakai jilbab,” katanya.

Lebih lanjut, Hana mengungkapkan tertarik dengan cara muslimah Indonesia memadukan warna dalam setiap design busananya. “Cara mereka mencocokkan warna seperti di tempat lain, dan itu adalah sesuatu yang saya sedang mencoba untuk dimasukkan ke dalam gaya saya sendiri,” ujarnya.

Hana yang terkenal dengan busana modest yang simpel, kasual, dan terlihat modern. Lewat blog-nya, StyleCovered (kini menjadi hanatajima.com), hijaber yang baru hijrah ke Islam pada usia 17 tahun ini telah menginspirasi banyak wanita muslim di dunia. Ia juga memiliki lini busana sendiri, Maysaa, yang meraih sukses baik di Inggris maupun internasional.

Kecintaannya terhadap dunia fashion mendorong perempuan turunan Jepang-Inggris ini merambah bidang design dan sukses sabet gelar designer hijab berbakat. Ciri rancangan Hana adalah simpel, trendy, namun tetap syar'i. Rancangan Hana jauh dari kesan girly atau berbalut warna cerah.

Muda, energik, dan visioner, kesan itulah yang barangkali muncul dari sosok yang dibesarkan di sebuah pedesaan, Devon, dari seorang ayah berdarah Jepang dan ibu asli Inggris. Ia adalah perempuan muda yang bergelut di dunia mode di Inggris. Ia memang bukan tipe pribadi yang terlalu terbuka terkait kehidupan masa lalunya. Ia lebih suka membicarakan kariernya di dunia fashion.

Desainer muda ini berasal dari keluarga yang tidak religius. Ia sendiri sama sekali tidak terpikirkan untuk menjadi Muslimah. Ia mengaku tertarik dengan agama, tetapi bukan tentang ritualnya melainkan tertarik kepada praktik agama dalam implementasi kehidupan sehari-hari.

Khususnya dalam kehidupan sosial. Perempuan yang lahir dan besar di London ini mengenal Islam saat ia memasuki perguruan tinggi. Saat itu, ia bertemu dengan banyak teman dari berbagai latar belakang agama, ras, dan budaya. Di kampus inilah ia berteman dengan beberapa Muslim.

Saat menjadi mahasiswa, Hana lebih memilih untuk menenggelamkan diri dengan membaca buku-buku filsafat dan juga isu gender. Buku tentang Islam pun ikut dibaca oleh Hana. Semakin banyak membaca, Hana semakin menemukan diri dan setuju dengan pemikiran Islam. Namun, saat itu ia belum memiliki keinginan untuk menjadi Muslimah.

Seiring berjalannya waktu, ia terus mempelajari tentang Islam. Membaca lebih banyak buku, berdiskusi, dan membaca terjemahan Alquran. Akhirnya, tibalah di satu titik ketika ia tidak dapat menampik kebenaran yang ada dalam Islam. Hana akhirnya bersyahadat. Ia pergi bersyahadat ditemani kakaknya yang bekerja sebagai fotografer.

Sejak bersyahadat, ia langsung memutuskan mengenakan hijab. “Semua pakaian dari masa lalu, saya wariskan untuk adik saya,” ujarnya. Dari sinilah, keinginannya untuk merancang busana Muslimah dimulai. Hana kesulitan menemukan busana Muslimah yang pas untuk dirinya.

Keluarga besar Hana tidak mempermasalahkan keputusan perempuan yang saat memeluk Islam masih berusia 17 tahun ini. Keluarganya akan merasa senang ketika Hana bahagia. Menurut pihak keluarga keputusan Hana menjadi Muslimah memberikan dampak positif bagi dirinya.

Namun, di mata sahabat dan koleganya, keputusan berhijab tersebut, sempat membuat orang-orang terdekat Hana merasa tidak nyaman atas perubahan penampilannya. Namun, ia berusaha santai dan bersikap biasa kepada teman-teman terdekatnya. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, teman-teman terdekat mulai dapat menerima penampilan barunya. Aku ingin menunjukkan hijab sebagai pembeda identitas antara Muslim dan non-Muslim, katanya.

Keinginannya menciptakan produk sendiri bermula dari kebingungannya memilih pakaian Muslimah yang pas untuk dirinya. Gaun hasil desain Hana sering diulas oleh beberapa negara. Bahkan, majalah Vogue pernah menampilkan ulasan terkait pakaian berkelas dan menampilkan hasil karyanya.

Dalam mendesain pakaian, Hana selalu memerhatikan beberapa hal. Pakaian yang ia desain harus sederhana, mengikuti tren, dan tentu saja tetap syari. Ia ingin memberi kesan bahwa Muslimah tidak harus menggunakan pakaian kebesaran, berwarna norak, dan terkesan berantakan.

Menurut dia, menjadi Muslim di dunia Barat memang sedikit menakutkan. Untuk itu, dengan pakaian yang pas maka akan membantu Muslimah melakukan aktivitasnya. Mereka tetap dapat diterima di lingkungan dengan pakaian dan hijab yang digunakan. Perjalanan kariernya dilalui bukan tanpa hambatan. Pada saat awal mengenakan hijab dan merancang busana Muslimah, banyak orang yang mengkritisi langkahnya. (njs/dbs)


Back to Top