Hijab Motion-Annisa Travel

Kajian KARUGAMI: Begini Rahasia Pernikahan Sakinah dalam Tausiyah Ustadz Asep

gomuslim.co.id- Annisa Travel kembali mengadakan Kajian Rutin Keluarga Islami (KARUGAMI), Hijab Motion dengan tema “Sakinah Bersamamu” (15/10/2016) di Aula Mabrur Annisa Travel, Lenteng Agung, Jakarta. Hijab motion ini selalu diadakan setiap bulannya dengan tema yang berbeda-beda. Kajian kali ini menghadirkan pembicara Ustadz Asep Supriatna atau lebih dikenal dengan Asep Fakhri.

Audiens terlihat antusias saat Ustadz Asep mulai menyampaikan tausiyahnya mengenai keluarga sakinah ini. Menurut Ustadz Asep, sakinah itu dalam definis Tafsir Jalalain, sakinah berarti betah, agar kita merasa betah dengannya.”Itu dengan pasangan kita, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Yunus, dengan kata yang sama, agar kalian tenang,” terang ustad yang juga trainer motivator di beberapa kajian Islam perkantoran.

Jadi, sakinah itu menjadi tujuan dari pasangan, yang sebelumnya bergejolak menjadi tenang. Dalam sakinah pun ada upaya dari diri sendiri untuk bisa mewujudkannya. “Sakinah itu tenteram damai, tenang, betah.  Wujudnya seperti apa, rumahnya harus besar, berkecukupan segalanya, belum tentu juga,  tergantung dari diri kita masing-masing mengupayakan keluarga sakinah itu,” kata Ustadz kelahiran Sukabumi, 1982 ini. Jadi yang pertama sakinah itu saling menjaga dari keburukan.

Ustadz lalu mengutip Imam Ath.Thobari, bahwa makna sakinah adalah supaya pasangan suami istri itu saling menjaga satu sama lain, “Supaya (kalian) mampu membangun ikatan (batin yang dalam) dengannya. Lalu ustadz menuturkan dekat meski terjarak, bersama meski terpisah. Itulah pasangan yang sakinah, dimana pun pasangan itu akan terhubungan secara batin.

“Artinya yang disebut sakinah itu, yang semula keji menjadi suci dengan adanya pernikahan. Walau dengan kalimat sederhanan, tapi kalimat itu menjadikan pasangan suci, tadinya berdosa malah mendapat pahala, yang tadinya hubungan tanpa pernikahan itu mengantarkan ke neraka, tapi dengan adanya pernikahan maka mampu mengantarkan ke surga,” terang Ustadz.

Jadi ketika suami mengatakan kepada istrinya untuk mengenakan hijab ketika berada di luar rumah, itulah upaya mengajak sang istri ke surga, menjaga istri dari perbuatan maksiat. Sehingga segala upaya kebaikan itu menjadikan pasangan itu telah berjalan ke arah keluarga sakinah, karena saling menjaga dari perbuatan yang menjauhkan dari ridho Allah  Ta’ala. “Jadi cemburu itu harus, ketika suami atau istri mulai melangkah kepada yang tidak dirihoi Allah. Cemburu merupakan langkah awal menjaga, karena kiita itu pakaian dari pasangan kita. Kalau Allah sudah memasangkan kita, bukan merasa tidak suka. Itulah pasangan kita. Apakah bisa memilih suami yang bisa menegur atau tidak,itu bagian dari takdir Allah,” papar Ustadz.

Selanjutnya dijelaskan pula bahwa pasangan itu adalah sebuah ikatan,baik lahir maupun batin. “Agar kita dengan dia selalu terikat, merasa dekat meskipun terjarak. Kita bisa merasa bersama meskipun terpisah. Setiap orang pasti bisa merasakan keterikatan itu, walaupun memang perlu perjuangan. Jangan sampai terjadi, meski dekat tapi terasa jauh. Misalnya masing-masing  sibuk dengan handphonnya. Sedang makan semeja tapi sibuk dengan handphonenya, itu namananya bersama tapi terjarak atau terpisah. Caranya, jika bersama pasangan kita, jangan disibukan dengan aktivitas lain bahkan walau hanya bikin statut di media sosial,” jelas Ustadz Asep.

Kemudian Ustadz menegaskan bahwa,  yang namanya kesetiaan bukan tanpa godaan tetapi ketika tergoda kembali kepada pasangannya di rumah. “Makanya Rosulullah mengajarkan kalau kalian tergoda di luar, apa yang yang membuatmu tertarik itu ada di rumah, jadi pastikan selalu dalam keadaan fresh ketika si istri di rumah,” lanjutnya.

Lebih jauh dijelaskan pula bahwa sakinah itu berarti untuk saling cenderung kepadanya,kepada pasangannya. Jadi ketika sesorang sudah dipasangkan oleh Allah maka kecenderungannya hanya kepada pasangannya. “Maka kita dengan pasangan kita pastikan saling cenderung. Dalam hal apa, baik perasaan maupun pemikiran. Kita harus satu meskipun berdua, kita harus sama meskipun berbeda. Sebab kita dengan pasangan itu pasti beda, tapi harus sama, berdua tapi harus menjadi satu,”terangnya.

Kalau dalam rumah tangga suami istri itu sama sifatnya, ingin berperan sebagai kepala rumah tangga, misanya, maka  kalau seperti itu sulit menghadirkan sakinah. Jadi, adanya kecenderungan itu tandanya menyamakan yang beda, dan menyatukakan yang sama. Kemudian, Sakinah pun akan muncul dalam keadaan tenteram. Dalam tafsir tersebut juga maksudnya,” Supaya (kalian) merasa tenteram dengannya.” . Tenteram dalam bersama, tenteram dalam berjauhan.

Sehingga sakinah itu akan bisa terwujud bila pasangan selalu mengupayakan hadirnya sakinah, melalui tindakan saling menjaga dari keburukan atau kemaksiatan, saling membangun ikatan batin yang kuat antara keduanya, saling cenderung satu sama lainnya baik dalam hati mapun akal, dan saling menciptakan ketenteraman diantara pasangan itu, tenteram saat bersama maupun kala berjauhan. Kuncinya adalah satu sama lain saling menitipkan kepada Allah Ta’ala. Dengan begitu, sakinah sebagai dambaan akan hadir menghiasi rumah keluarga Muslim, siapa pun itu.  (iys)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Back to Top