OJK Imbau Unit Usaha Tingkatkan Pasar Industri Asuransi Syariah

gomuslim.co.id- Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Nonbank (IKNB) I OJK Edy Setiadi baru-baru ini mengungkapkan bahwa industri syariah harus berupaya meningkatkan pangsa pasar di Indonesia. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun sepaham dengan pernyataan itu. Industri asuransi syariah pun harus ditingkatkan. Karena sejalan dengan harapan OJK untuk mendorong peningkatan ekonomi syariah.  

Otoritas jasa keuangan  menilai sebaiknya perusahaan asuransi syariah dan unit usaha syariah (UUS) harus bisa mengembangkan pasar, sehingga market share akan meningkat. Diharapkan peningkatan market share ini bisa mencapai 10%. Karena itu, induk atau perusahaan asuransi konvensional dapat memberikan target peningkatan market share unit usaha syariah berupa asuransi syariah. Dengan demikian, upaya tersebut, diharapkan dapat mendukung pertumbuhan pangsa pasar industri asuransi syariah ini secara berkelanjutan.

"Kami ingin induk dapat memberikan target dan tenggat kepada unit usaha syariah atau asuransi syariah agar mencapai market share 10%. Ini adalah strategi untuk menaikkan market share asuransi syariah, begitu pun dengan ketentuan di  bank syariah," tutur Edy.

Edi pun menjelaskan bahwa keinginan OJK untuk mendorong peningkatan market share asuransi syariah. Upaya ini sebagai bentuk imbauan namun dengan tegas disampaikan kepada induk atau perusahaan asuransi konvensional untuk turut serta mewujudkan dukungan terhadap unit usaha syariah, sub dari asuransi syariah. Seperti, tersedianya tenaga ahli dan pembagian segmentasi pasar yang jelas antara konvensional dan syariah.

"Jadi antara induk dan anak (UUS) tidak akan saling memperebutkan pasar yang sama. Sebaliknya, induk dapat membimbing UUS atau anak usaha mereka untuk membesarkan market share," ungkap Edy.

Sehubungan dengan itu, Pelaksana Tugas (Plt) Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Taufik Marjuniadi menyatakan bahwa merupakan hal yang wajar jika regulator meminta asuransi syariah yang berasal dari grup untuk meningkatkan market share hingga 10%.

“Sejauh ini, ada asuransi yang secara kontribusi sudah mencapai angka 10% , sementara di sisi lain, ada asuransi syariah lain yang secara market share masih kecil," tutur Taufik.

Kemudian, menurut Taufik dengan adanya transformasi UUS menjadi full fledged dan penambahan UUS di sejumlah perusahaan asuransi, akan membawa dampak pada keseluruhan total market share industri asuransi syariah selain dari ekspansi bisnis. Jika sebelumnya industri asuransi syariah ini sukar terlepas dari angka 5%, maka mulai akhir semester I-2016 posisi market share asuransi syariah terhadap konvensional bisa mencapai 6%.

Peningkatan industri asuransi syariah

Otoritas Jasa Keuangan pun telah mengeluarkan ringkasan terkait dengan keuangan asuransi syariah. Dalam ringkasan yang telah dipublikasikan tampak industri asuransi di Indonesia, telah membukukan kontribusi bruto sebesar Rp 932 miliar pada Januari 2016. Selanjutnya, pada kuartal I-2016 kontribusi bruto asuransi syariah menanjak ke angka Rp 2,75 triliun, dan menjadi Rp 5,95 triliun pada akhir kuartal II-2016. Sedangkan menurut ringkasan keuangan asuransi syariah pada Agustus lalu, terlihat kontribusi bruto sudah menyentuh Rp 7,83 triliun.

Jadi berdasarkan data tersebut, industri asuransi syariah berhasil membukukan kenaikan 15,15% untuk kontribusi bruto pada akhir Agustus 2026. Sementara itu, pada periode sama total aset industri asuransi syariah justru melesat 36,28% (yoy) dari Rp 23,90 triliun menjadi Rp 32,57 triliun.

Kemudian, disamping  himbauan untuk melakukan peningkatkan kontribusi UUS ataupun asuransi full fledged syariah, OJK tengah mempersiapkan Peraturan, yakni  OJK (POJK). Demikian juga mengeluarkan surat edaran (SE) yang isinya mengenai ketentuan pembuatan road map spin off perusahaan asuransi yang memiliki UUS.

Dalam kesempatan lain, Direktur IKNB Syariah OJK Mochammad Muchlasin menjelaskan bahwa OJK berharap setiap perusahaan asuransi dapat lebih matang menyiapkan pemisahan UUS. Lalu, mulai mengajukan proposal road map spin off pada awal tahun depan.

Sekarang ini, perusahaan di Indonesia pun berupaya untuk mewujudkan keinginan OJK. Akan tetapi, kini baru ada dua, perusahaan yang menyiapkan tindakan pemisahan bisnis syariah dengan konvensional. Beberapa pihak pun mengkaji pendiri UUS, agar sebaiknya terus meningkatkan bisnis asuransi syariah ini.

"Namun belum bisa diungkapkan perusahaan ini, karena masih  melakukan persiapan internal, selain juga  harus dikonfirmasi kepada OJK. Namun salah satu perusahaan asuransi yang baru saja melakukan spin off UUS Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912," ungkap dia.

Disamping itu, OJK pun telah mencatat pangsa pasar industri keuangan nonbank (IKNB) syariah mencapai 4,41 persen pada Juli 2016. Tentu saja,  meningkat dibandingkan Desember 2015 yang mencapai 3,19 persen. Namun, walaupun ada pertumbuhan yang meningkat terhadap industri syariah, Muchlasin menguraikan bahwa pangsa pasar ini hanya naik 5 persen di bawah dari target yang diharapkan.

"Baru asuransi syariah saja yang memiliki pangsa pasar di atas lima persen, sedangkan yang lainnya masih jauh," ujar Muchlasi. Sedangkan, OJK memberikan kewajiban spin off sampai dengan 2024 mendatang.

“Asuransi syariah atau takaful dapat menjadi penggerak revitalisasi keuangan syariah. Sebab, pengumpulan dana pihak ketiga melalui asuransi syariah, khususnya melalui produk asuransi jiwa mempunyai jangka waktu panjang. Pada tahun ini sudah ada tiga perusahaan asuransi syariah yang melakukan spin off yakni Jasindo Syariah, Reindo Syariah, dan Bumiputera Syariah,” jelas Muchlasin.

Disamping itu, bukan hanya asuransi syariah, OJK pun mendorong sektor IKNB syariah lainnya seperti, modal ventura, pergadaian, pembiayaan infrastruktur, dan dana pensiun. Tak sekadar upaya memberikan dorongan, OJK juga akan menguatkannya dengan regulasi.
"Dana pensiun syariah peraturannya sudah kami selesaikan, disamping itu juga dengan pegadaian syariah yang aturannya tergabung dalam kelembagaan pegadaian konvensional," jelas Muchlasin.

Sementara itu, industri pembiayaan syariah mencatat aset sebesar Rp 30,08 triliun. Hal tersebut mengalai kenaikan dibanding periode Desember 2015 yang sebesar Rp 22 triliun. Sedangkan sektor industri lain seperti industri modal ventura syariah mencatatkan aset sebesar Rp 1 triliun, naik dibandingkan periode Desember 2015 yang sebesar Rp 400 miliar. Sedangkan, lembaga jasa keuangan khusus termasuk pembiayaan ekspor syariah mencatatkan aset sebesar Rp 17,19 triliun. (iys/dbs)


Back to Top