Ekosistem Start Up Bisa Jadi Andalan Keuangan Syariah

gomuslim.co.id- Ekonomi Islam saat ini bukan hanya menjadi perhatian bagi umat Islam. Banyak perusahaan asing yang terbuka melakukan transaksi secara Islam dalam mengembangkan produk syariah. Hal demikian karena pasar global muslim yang semakin besar dan memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan bisnis.   

Beberapa produsen bahkan berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk menggaet pelanggan di Eropa dan Amerika Utara. Banyak startup muncul yang dibuat oleh umat Islam di barat dan telah mendapatkan pengakuan internasional. Para ahli industri mengatakan pemangku kepentingan dalam ekonomi Islam dinilai perlu memperhatikan potensi anak muda dan membangun ekosistem start up.

Pendiri Salaam Bank Dustin Craun mengatakan, potensi yang dimiliki kalangan muda saat ini tengah membangun ekosistem yang cukup baik. “Ekosistem start up penting untuk membangun perusahaan yang bernilai miliaran dolar. Kalangan muda memiliki peran luarbiasa dalam mengembangkan hal ini,” katanya saat menghadiri Global Islamic Economy Summit di Dubai beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Craun mengklasifikasikan setidaknya ada empat kategori yang bisa disasar oleh teknologi start up. Keempat kategori tersebut yaitu, umat Islam yang bekerja dalam perusahaan teknologi internasional, teknologi start up yang menargetkan konsumen Muslim untuk layanan reguler seperti aplikasi Alquran digital, start up layanan khusus seperti lokasi restoran halal, dan start up yang menyasar proyek sosial dengan menggunakan branding Islam namun beroperasi di negara non-Muslim.

“Semua kategori ini menjadi sangat potensial untuk disasar, terlebih saat ini beberapa negara tengah mempersiapkan untuk membuka pariwisata halal. Kebutuhan teknologi tentu akan menjadi hal utama bagi para pelaku usaha yang ingin mengembangkan semua produknya,” katanya.

Menurut Craun, ada beberapa penyebab ekosistem start up di dunia Islam belum berkembang karena umat Islam sendiri belum bersatu. Selain itu, perbankan syariah selama ini belum melirik segmen anak muda dan masih berfokus pada kalangan yang lebih tua. Padahal bank-bank konvensional telah mulai meluncurkan produk yang menggaet kalangan anak muda seperti aplikasi dan produk digital.

“Perbankan syariah hingga saat ini belum melihat jeli potensi yang ada pada pelaku usaha di kalangan muda. Padahal, mereka mempunyai aset yang lebih besar jika saja dilirik oleh perbankan syariah,” tambahnya.

Pasar Muslim setidaknya memiliki potensi 1,7 miliar konsumen yang belum dimanfaatkan dengan baik. Namun, baru sekitar satu persen dari negara-negara Muslim yang melakukan perdagangan secara online. “Pemanfaatan teknologi belum begitu dimaksimalkan oleh para pengusaha Muslim di beberapa negara,” ujarnya sebagaimana dilansir dari publikasi Albawaba, Rabu (19/10/2016).

Sementara itu, di Indonesia sendiri bisnis rintisan atau start up selama ini tengah berkembang pesat. Hanya saja, bisnis ini sedikit kesulitan untuk berkembang karena sulitnya sumber tambahan modal dari perbankan. Namun, keterbatasan ini ternyata secara tidak langsung menyebabkan bisnis start up dekat dengan prinsip syariah.

Presiden Direktur PT Ilthabi Pratama Ilham A Habibie mengatakan, kesulitan ini menyebabkan pengusaha start up terbebas dari bunga bank. Tambahan modal pun berasal dari tambahan dana secara bersama, sehingga prinsip gotong royong dalam ekonomi Islam sangat terasa dalam pengembangan bisnis start up.

“Kalau biasanya investor untuk start up itu semuanya syariah, perusahaan yang baru kan tidak bisa ambil utang, perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Artinya apa yang terjadi, beli saham. Jadi memang otomatis, banyakan start up di dunia ini, meskipun dia tidak disebut syariah tapi mereka jual saham, jadi sebenarnya tidak ada utangnya,” jelasnya beberapa pekan lalu.

Start up pun dapat menjadi pilihan utama bagi negara Islam untuk dapat mengembangkan bisnis berbasis syariah. Khususnya adalah pada industri keuangan syariah yang saat ini telah mulai berkembang pesat. “Jadi ini otomatis juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan,” ujarnya. (njs/dbs)


Back to Top