Hari Santri Nasional

Peringati Jasa Pahlawan Kemerdekaan, Hari Santri Nasional Refleksikan Islam dan Indonesia

gomuslim.co.id- Peringatan Hari Santri Nasional dinilai erat kaitannya dengan perjuangan meraih kemerdekaan. Peringatan yang dirayakan setiap tanggal 22 Oktober ini tidak hanya untuk mengenang jasa para santri dan kiai yang telah berjuang memerdekakan Republik Indonesia. Tapi juga untuk mengingatkan kembali susah payahnya mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan santri merupakan representasi kelompok Islam. Indonesia dibangun oleh para santri. Menurutnya, hari Santri Nasional memberikan sinyal bahwasannya kekuatan Islam telah menghadirkan kemerdekaan.

“Nilai-nilai Islam yang juga integral dengan nilai-nilai kebangsaan. Artinya tidak ada pemisahan antara nilai-nilai kecintaan terhadap perjuangan Islam dengan perjuangan merawat nilai-nilai kebangsaan,” katanya beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Dahnil menjelaskan, hari santri juga merupakan refleksi sejarah panjang Indonesia yang dibangun oleh semangat keagamaan. Teriakan takbir tiga kali kemudian meneriakan kata merdeka saat masa perjuangan, hal tersebut telah memberikan semangat kepada seluruh pejuang Republik Indonesia.

Ia menegaskan, semangat takbir itulah yang memerdekaan Indonesia. Hari santri juga menghasilkan nilai-nilai tauhid, Islam dan Indonesia. Semangat Islam dan tauhid telah mendorong Indonesia untuk merdeka. “Islam dan Indonesia itu menyatu, Islam mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, memperjuangkan Islam itu pararel memperjuangkan Indonesia,” katanya.

Di sisi lain, ia menyebutkan dari sekian banyak kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan. Salah satunya para santri. Mereka mempunyai peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, menurutnya, pendidikan di sejumlah pondok pesantren dinilai masih banyak yang terpinggirkan. Untuk itu, santri harus mempunyai kemampuan yang memadai dan integritas untuk dapat bersaing.

Peran pesantren juga harus mendorong para santri agar dapat kompatibel dengan globalisasi. Artinya, ketika mereka lulus dari pesantren, para santri punya daya saing yang baik di tengah globalisasi. “Kalau tidak (punya daya saing), santri akan tergerus menjadi kelompok marginal,” katanya.

Dalam rangka meningkatkan kualitas santri agar tidak terpinggirkan, menurut dia, kurikulum pesantren harus kompatibel dengan kebutuhan gelobalisasi. Tujuannya untuk mendorong para santri agar punya daya saing.

Ia menegaskan, selain meningkatkan kompetensi supaya mereka punya daya saing. Hal yang paling penting bagi para santri, mereka harus merawat integritas kejujuran dan nilai moral. Jangan sampai santri masuk pada kelompok masyarakat yang tidak punya integritas. “Maka salah satu kelebihan santri harus menjadi kelompok yang mengusung integritas,” ujarnya.

Sementara, Ketua Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU), KH Marsudi Syuhud menilai perhatian pemerintah terhadap madrasah dan sekolah umum berbeda. Apalagi perhatian pemerintah terhadap pesantren yang statusnya swasta.

Padahal, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua yang menjadi cikal bakal berdirinya Republik Indonesia. Agar para santri tidak tersingkirkan dan mendapat lebih perhatian, menurut KH Marsudi, pemerintah dan DPR tidak boleh memandang sebelah mata teradap pesantren. “Tidak boleh mengecilkan pesantren, karena di depan Undang-undang pendidikan sama, faktanya sekarang gak sama dalam kue pembangunan ini,” jelasnya.

Marsudi mengatakan, Hari Santri Nasional sangat penting untuk para santri. Sebab, momen hari santri dapat memotivasi para santri dan ulama agar memiliki jiwa nasionalis. Atau menghasilkan orang-orang nasionalis yang nyantri. “Resolusi jihad pangkal dari mengintegrasikan antara kiai dan nasionalisme,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hari santri berpangkal dari resolusi jihad. Sebab, darah umat Islam telah banyak mengalir di tanah Indonesia saat zaman penjajahan Belanda. Maka wajib hukumnya untuk menjaga apa yang telah disepakati Indonesia.

Saat memperjuangkan kemerdekan Republik Indonesia, pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad. Menurut KH Marsudi, fatwa tersebut intinya untuk perjuangan membela tanah air. Kemudian, terjadilah perlawanan para santri terhadap penjajah. “Berjuang membela tanah air hukumnya fardhu ain, jihad fisabilillah,” jelasnya.

Ia menegaskan, sampai hari ini resolusi jihad belum pernah dicabut. Maka hukumnya menjaga NKRI menjadi fardhu ain. Menurutnya, hal ini telah membedakan Islam di Indonesia dan negara lain. Di negara lain, kaum nasionalis dan ulama berdiri secara terpisah. Di Indonesia, santri dan ulama memiliki jiwa nasionalisme. Hal ini menjadi erat hubungannya dengan hari Santri Nasional. (njs/dbs)


Back to Top