Young Muslim Ascent Dorong Muslim Inggris Lulus Seleksi di Universitas Bergengsi

gomuslim.co.id- Young Muslim Ascent (YMA) sebuah komunitas di Inggris memiliki program untuk menggali potensi anak muda yang kesulitan masuk universitas unggulan. Hal tersebut berkaitan dengan banyak Muslim yang sulit untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Data terbaru menunjukkan bahwa Muslim di Inggris merupakan kelompok agama yang paling kurang mendapatkan akses ke pendidikan, dibandingkan etnis lainnya. Meskipun, banyak faktor yang menimbulkan hal itu. Dari berbagai dimensi, diantaranya kemiskinan ekonomi dan akibat dari efek mobilitas sosial yang buruk dan akses ke pendidikan yang minim.

Padahal, dalam Alquran Surat Al Alaq , ayat 1-5: Artinya : “Baca Baca! Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Berdasarkan ayat tersebut, untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat melalui pendidikan, sangat ditekankan dalam Islam. Dalam banyak referensi, tidak terbatas pada wahyu pertama kepada Nabi Muhammad (saw) ini, “Baca”.

Dengan demikian mendapatkan pendidikan tinggi ini sangat penting. Tapi, Muslim Inggris masih berada di urutan bawah dalam hal mendapatkan pendidikan tinggi. Pada sensus, data menunjukkan bahwa hanya 24% dari Muslim Inggris telah mencapai kualifikasi universitas. Hal itu lebih rendah dari rata-rata pencapaian nasional 27%. Data juga menunjukkan bahwa pengangguran hampir dua kali lipat rata-rata nasional dari 4% yang menunjukkan bahwa akses ke pasar tenaga kerja bagi Muslim Inggris masih rendah dan mengkhawatirkan.

Dalam laman ilmfeed pun disebutkan bahwa dalam studi lain oleh Profesor Anthony Heath dari Oxford University, Muslim di Inggris adalah kelompok agama yang paling kekurangan dalam pendidikan. Semua fakta ini, menggambarkan masa depan yang sangat berbahaya bagi generasi berikutnya dari umat Islam di Inggris, yang tidak hanya menghadapi mobilitas sosial-ekonomi yang buruk, tetapi juga akan merasa lebih sulit untuk memasuki pasar tenaga kerja.

Penelitian lain lebih spesifik menguraikan bahwa, berulang kali hasilnya adalah orang-orang dari latar belakang etnis minoritas atau daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, cenderung relatif sulit untuk diterima di Universitas Russell Grup, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang kaya. Berbagai ketimpangan yang muncul dalam  penerimaan mahasiswa dikarenakan akses terhadap sumber daya manusia masih kurang.

Seringkali guru di sekolah tidak memberikan bimbingan pengetahuan yang lengkap, mengenai pilihan tempat untuk mengoptimalkan keterampilan, seperti tempat kursus, atau fokus pada kepribadian siswa.

Mentoring Gratis

Kehadiran Young Muslim Ascent mengatasi hambatan-hambatan akses ke pendidikan dengan menyediakan sumber daya pemuda Muslim di Inggris. Pun, komunitas ini  membuka konsultasi, memberikan saran tentang sesuatu yang dibutuhkan, agar seluruh generasi muda Muslim ini dapat mengembangkan potensinya.

Young Muslim Ascent adalah program mentoring, bukan lembaga profit.  Komunitas ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara masyarakat yang miskin akses terhadap pendidikan dan universitas yang paling bergengsi di negara ini.  Penyebabnya adalah anak muda yang ingin melanjutkan ke jenjang universitas mendapatkan layanan informasi yang minim.

Apalagi, ada komunitas Muslim yang tidak membekali siswa dengan pemahaman melakukan proses UCAS, sebuah lembaga amal yang independen, yang menginspirasi, juga menyediakan informasi, saran, dan layanan penerimaan mahasiswa dan memfasilitasi perkembangan pendidikan. Layanan UCAS mendukung kaum muda membuat pilihan setelah itu mengajukan  pilihan  untuk mendaftar ke jenjang program sarjana dan pascasarjana.

Jadi, YMA giat melakukan uji coba ujian memasuki universitas, dengan melakukan mentoring. Sehingga Muslim muda yang berbakat ini akan mengaktifkan potensi yang ada dalam diri mereka. Young Muslim Ascent mencoba agar pemuda Muslim ini senantiasa belajar.

Pelatihan try out ujian ini benar-benar gratis dan semua mentor adalah sukarelawan. Walaupun begitu, tetap penting untuk mencari bantuan dari orang tua dan guru, walaupun pengetahun mereka terbatas karena tidak memiliki pengalaman dalam hal kursus.

Semua mentor tengah belajar di salah satu universitas terkemuka di Inggris. Sehingga, para mentor dapat memberikan saran yang kredibel tentang cara untuk berhasil diterima di universitas bergengsi. Tujuan dari mentoring, juga akan mengenalkan lingkungan dan kehidupan di universitas. Selain juga diselipkan mengenai wawasan karir setelah lulus universitas.

Adapun pendiri komunitas YMA ini adalah Fareen Mohmood, alumni LLB Law from the LSE 2016, Nadia Raslan, alumni BSc Philosophy and Economics from the LSE 2016, Rahat Siddique yang masih kuliah di BSc Economics at LSE, yang berharap akan lulus 2017, dan Samiha Begum, alumni BSc Social Policy from the LSE 2016.

“Kami ingin mengakui dan menyoroti pekerjaan luar biasa yang telah dilakukan oleh tim YMA. Para mentor yang telah merelakan waktu mereka untuk melatih bakat muda yang kita miliki di komunitas Muslim. Kami ingin berterima kasih kepada mereka atas dukungan mereka, dan berharap bisa terus ada di sini. Tanpa mereka YMA tidak akan berada di sini hari ini. mentor kami yang didominasi dari London School of Economics, Imperial College London, Oxford dan Cambridge,” ujar Fareen Mahmood.

Komunitas YMA kerap mempromosikan kegiatannya, agar lebih banyak Muslim yang terjaring. Seperti beberapa workshop yang pernah dilakukan di Manchester, London, dan Birmingham. Tekanan sosial berperan cukup tinggi dalam membentuk keputusan seorang pemuda Muslim untuk melanjutkan pendidikan. Dengan sedikit diskusi tentang kekuatan akademis, maka program ini berjalan lancar. “Sebagai mentor kami telah menyelesaikan proses pengajuan aplikasi mahasiswa, mereka juga menerima banyak masukan agar bisa kuliah,” terang salah seorang mentor.

Didalam komunitas YMA ada istilah Oxbridge, kepanjangan dari Universitas Oxford dan Universitas Cambridge. Kedua universitas ini sering menjadi acuan sebagai universitas terbaik. Proses penyerahan aplikasi untuk masuk universitas tersebut memang ketat. Jadi diperlukan banyak persiapan untuk sukses menjadi Oxbridge. Kedua universitas ini memiliki standar akademik yang lebih tinggi. Karena itu seringkali YMA memberikan mentor terbaik dari Oxford dan Cambridge.   

“Kami mendorong Anda untuk mengekspresikan minat untuk bisa masuk Oxbridge di bulan-bulan awal pendaftaran, ketika sekolah memasuki Tahun 12, sehingga Anda bisa mendapatkan tingkat terbaik dengan dukungan dari mentor. Sepanjang tahun akan mempelajari, bacaan tambahan dan pertanyaan untuk mempersiapkan proses pengajuan aplikasi ke universitas tersebut,” jelas Fareen.

Dengan cara yang efektif ini, YMA berusaha untuk membantu siswa Muslim dari seluruh Inggris dan dari berbagai latar belakang. Sementara, YMA pun fokus pada proses aplikasi ujian saringan masuk. (iys/dbs)

 


Back to Top