Biaya Visa Umrah Naik, Jemaah Diminta Bersikap Antisipatif

gomuslim.co.id- Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan regulasi terbaru tentang visa untuk umrah. Peraturan anyar tersebut yaitu adanya penambahan biaya sebesar dua ribu riyal untuk pemberangkatan umrah yang kedua dan seterusnya. Dengan demikian, umat Islam harus menyiapkan dana lebih besar jika ingin menjalani umrah kedua kali tahun ini.

CEO Satwika Royal Global (SRG), Ahmad Husaini mengungkapkan kenaikan biaya visa umrah itu tertuang dalam regulasi terbaru tentang visa untuk umrah yang dilansir Pemerintah Arab Saudi. “Jadi kalau berangkat November dan Januari, Januari terkena penambahan 2.000 riyal atau sekitar 7 juta lah,” jelasya beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Husaini mengatakan penambahan biaya visa itu sudah tentu memiliki implikasi secara bisnis. Terutama, dari sisi kualitas pilihan jamaah dari bintang lima ke bintang tiga. Apalagi, jamaah Indonesia memang memiliki tren umrah sendiri, yaitu melakukan umrah setidaknya 2-3 kali dalam satu tahun.

Di sisi lain, isu yang tidak kalah heboh dari penambahan biaya itu adalah kalau penambahan kedua akan dihitung, dari keberangkatan jamaah selama jangka waktu tiga tahun terakhir. Namun, dia menegaskan, kebijakan itu tidak jadi, sehingga penambahan hanya akan diterapkan tahun ini.

Terkait perubahan regulasi visa ini, Ahmad menilai, sangat penting jamaah memahami, karena tidak mungkin penambahan cuma dibebankan ke travel. Menurut Husaini, pemahaman turut dimiliki jamaah agar dapat melakukan antisipasi masing-masing, terkait penambahan biaya visa untuk tahun ini. “Saya harap jamaah pun bisa bersikap antisipatif terhadap hal ini,”ujarnya.

Sejatinya, keputusan terkait penambahan biaya visa ini telah diumumkan otoritas Arab Saudi sejak Agustus lalu. Dilansir Arab News, pemerintah setempat memastikan keputusan ini diberlakukan per 2 Oktober 2016. “Pengumuman resminya sejak awal bulan ini,” katanya.

Penambahan biaya visa ini merupakan rekomendasi kementerian perekonomian Arab Saudi. Pemerintah mencermati semakin meningkatnya penghasilan nonminyak. Keputusan ini kemudian diambil dalam rapat kabinet yang dipimpin Pangeran Mohammed bin Naif.

Dengan demikian, biaya visa sekali masuk untuk umum (bukan untuk haji dan umrah) ditetapkan 2.000 riyal atau sekitar Rp 7 juta. Akan tetapi, untuk jamaah yang baru sekali umrah ataupun haji, biaya ditanggung Pemerintah Arab Saudi.

Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) keberatan dengan peraturan biaya tambahan visa, yang dibebankan kepada jamaah yang sudah berumrah beberapa kali. Penambahan biaya 2.000 riyal dianggap akan membebani penyelenggara umrah di Tanah Air.

Ketua Umum Himpuh Baluki Ahmad menyatakan, sangat keberatan dengan peraturan tersebut. Pihak asosiasi pun telah berusaha mengonfirmasi peraturan itu langsung ke Konsul Arab Saudi, kemarin. “Sebenarnya, pihak penyelenggara umrah di Tanah Air sudah mengonfirmasi hal ini dan tidak diberlakukan ke konsul Saudi di Jakarta. Akan tetapi, belakangan biaya ini tetap diberlakukan, dengan visa berbayar bagi mereka yang telah berumrah paling tidak tiga tahun ke belakang,” jelas Baluki. 

Menurutnya, hal ini akan merugikan pihak penyelenggara umrah di Tanah Air, yang perlu pulang-pergi berkoordinasi umrah ke Tanah Suci. “Bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan kalau dikenakan biaya 2.000 riyal bagi yang sudah berumrah tiga tahun ke belakang, sedangkan penyelenggara hampir setiap tahun ikut berumrah,” katanya.

Himpuh sudah meminta kepada pemerintah untuk bertindak. Namun, Direktorat Jenderal Penyelengaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama menyatakan, belum ada aturan tertulis terkait hal itu. Padahal, aturan itu sudah berlaku di Imigrasi Arab Saudi. “Coba bayangkan bila ada jamaah yang terkena denda tersebut, sedangkan ia tidak membawa uang tunai, ini akan mempersulit jamaah Indonesia,” ujarnya.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Abdul Djamil mengakui, memang tambahan biaya visa sudah diberlakukan Pemerintah Arab Saudi beberapa waktu lalu. Ketentuannya, orang yang masuk ke Tanah Suci dan sudah pernah berumrah akan dikenakan biaya sebesar 2.000 riyal. “Mereka kalau sudah berumrah kedua dan ketiga akan dikenakan,” kata Abdul Djamil.

Selain itu, Djamil menegaskan informasi pembatasan kuota oleh Pemerintah Saudi Arabia bukan informasi yang benar. Sebab ia bersama jajaran perwakilan pemerintah Indonesia beberapa bulan yang lalu telah bertemu dengan Menteri Haji Arab Saudi. “Justru dalam pertemuan tersebut ia memberi pertmbangan untuk penambahan visa jamaah umrah dari berbagai negara,” pungkasnya. (njs/dbs)

 


Back to Top