IIF 2016

Ini Kisah Sukses Samah Safi Bayazid Sebarkan Nilai Islam Lewat Film

gomuslim.co.id- Ajang International Islamic Fair (IIF) Tahun 2016 menghadirkan talkshow menarik bertajuk Women Role in Social Media Era, Minggu (23/10) di Jakarta International Expo, Kemayoran. Acara ini menghadirkan Samah Safi Bayazid, seorang muslimah asal Amerika Serikat yang berprofesi sebagai sutradara. Ia adalah seorang hijaber yang berhasil memenangkan Award of Excellence in Indie Film Festival di California, Amerika Serikat. Puluhan pengunjung turut menghadiri talkshow peranan perempuan di media social yang dimoderatori oleh Syifa Fauzia ini.

Awalnya, Samah bercerita bahwa dirinya ingin menjadi seorang presenter di sebuah media. Namun, saat dia belajar tentang bagaimana membuat film, ia merasa bahwa film maker adalah fashionnya. “Saya merasa bahwa film menjadi suatu media yang punya pengaruh besar terhadap masyarakat. Dengan membuat film yang menarik dan inspiratif, dan ini bisa menjadi salah satu media untuk berdakwah,” katanya.  

Lebih lanjut, hijaber berdarah Yordania ini juga pernah menjadi asisten sutradara video klip penyanyi tenar Maher Zein yang berjudul Muhammad. Selain itu, bersama suaminya, Samah juga memproduksi sebuah drama seri pertama di Amerika yang bernuansa islami berjudul Inspiration.  

Drama seri ini menghadirkan keteladanan Rasulullah SAW melalui kehidupan yang dialami oleh seorang pemuda muslim masa kini. Tak sekedar tontonan yang enak dilihat, karya ini menjadi jawaban pula atas anggapan bahwa kehidupan pemuda modern saat ini tidak bisa terkoneksi dengan kehidupan Rasulullah Saw pada 14 abad yang lalu. “Film ini bertujuan supaya Muslim bisa lebih dekat dengan Rasulullah dengan mencontoh akhlaknya kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Rupanya, karya Samah mendapat sambutan baik dari masyarakat. Drama seri yang telah dibuatnya telah ditonton tidak kurang dari 50 juta pasang mata, baik melalui media sosial maupun televisi dan dialihbahasakan ke dalam 16 bahasa. Pada ICDA Dubai Festival, Inspiration berhasil meraih penghargaan dengan kategori The Best Creative Project. Film terbarunya Samah adalah Orshena.

Orshena adalah sebuah film pendek yang berkisah tentang penanganan para pengungsi di dunia yang mengalami masalah kehilangan orang-orang tercinta mereka. Film ini sarat akan nilai-nilai kemanusiaan dan sukses menyabet Award of Excellence pada Indie Film Festival di California Amerika Serikat. “Filmnya hanya menggambarkan emosi seorang Muslim. Durasinya hanya 10 menit. Tidak ada dialog dalam film pendek ini,” katanya.

Di sisi lain, Samah merasa ikut bertanggung jawab dalam mengubah persepsi negatif masyarakat Amerika terhadap Islam. Lewat film, dia menggabungkan  keinginan dan keyakinannya, untuk membuat tontonan yang baik bagi masyarakat di belahan dunia barat dan timur. Sebuah tontonan yang juga menunjukkan pada dunia mengenai sisi baik Islam dan muslim. “Dengan membuat film pendek, saya berharap supaya orang lain lebih mengenal lebih dekat dengan Islam,” ujarnya.

Samah berkeyakinan bahwa merasa bahwa dengan film yang baik dan membawa pesan-pesan kemanusiaan, nilai, serta moralitas, ia dapat membantu mengubah dunia menjadi lebih baik. “Masih banyak hal yang harus saya lakukan. Tentu dengan membuat film yang baik, ke depan kita dapat mengubah pandangan orang lain terhadap Islam selama ini,” paparnya.

Selain itu, Samah mengungkapkan bahwa saat ini banyak Muslimah di sosial media yang hanya fokus pada fashion dan makeup. Jarang diantara mereka yang memposting tentang karir. “Seorang Muslimah bisa menjadi apa saja. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk perubahan lebih baik di masa depan. Tidak terkungkung pada dunia fashion dan makeup saja,” kata Samah.

Kehadiran Samah dalam acara IIF 2016 memperkaya perspektif para pengunjung tentang Islam di berbagai belahan dunia. Profesionalitasnya berhasil mematahkan anggapan selama ini bahwa muslimah berhijab tidak mampu masuk ke dalam dunia produksi film. “Memang perlu proses dan belajar yang sungguh-sungguh untuk membuat sebuah karya yang menginspirasi banyak orang,” pungkasnya. (njs)


Back to Top