Brand Busana Muslim Dunia Gencar Promosikan Produk Lewat Media Sosial

gomuslim.co.id- Trend Busana Muslim tengah menjadi perhatian publik. Apalagi jika melihat pasar besar yang kebanyakan digandrungi oleh para Muslimah. Ingin tampil menarik namun tetap mengedepankan nilai syari tentu menjadi alasannya. Beberapa waktu lalu, pemerintah Prancis sempat melarang pemakaian Burkini (pakaian renang Muslimah) bagi warganya. Namun, pelarangan tersebut justru memicu peningkatan penjualan pakaian Muslim.

Salah satu perusahaan burkini asal Prancis Modanisa mengaku mengalami peningkatan penjualan hingga 35 persen saat pemerintah memberlakukan pelarangan. “Selama satu pekan dan pekan berikutnya pelarangan burkini berlaku, penjualan kami naik sebesar 20 hingga 25 persen. Khusus di Prancis meningkat 30 hingga 35 persen,” ujar pemilik perusahaan Modanisa, Karim Ture.

Lebih lanjut, ia mengatakan Busana Muslim atau yang umum dikenal modest fashion pun diprediksi akan jadi arus utama. “Saat orang-orang bicara soal burkini, mereka justru membelinya. Ini akan menjadikan Busana Muslim sebagai arus utama mode,” ujarnya sebagaimana dikutip Reuters beberapa waktu lalu.

Selain itu, perusahaan mode kelas dunia sekaliber Dolce & Gabbana bahkan meluncurkan abaya dan hijab awal tahun ini. Peluncuran produk tersebut mendapat sambutan bagus di pasar ritel Turki. “Isu tentang modest fashion, positif atau negatif, memicu pertumbuhan industri. Masyarakat justru lebih banyak yang mencari Busana Muslim,” katanya.

Ture menyebutkan, ketika banyak orang membicarakan mengenai burkini, mereka pun tertarik untuk membeli burkini. Media sosial dan penyebutan sederhana jenis pakaian sangat membantu pengusaha Muslim memasarkan pakaiannya. “Saat ini kami mengandalkan media sosial dalam memperkenalkan produk,” paparnya sebagaimana dilansir dari zawya.com.

Di sisi lain, Ture menyatakan Instagram masih jadi kanal promosi utama Modanisa dengan 509 ribu pengikut, meskipun laman Facebook mereka pun tak kurang diikuti oleh dua juta orang. “Instagram lebih efektif dibanding Facebook, meski kami juga segera menggunakan Snapchat untuk melihat respons pasar. Media sosial sangat memicu perkembangan industri ini,” katanya.

Sementara itu, Ture mengakui awalnya Facebook menjadi pembuka pintu bisnis Modanisa. Namun, biaya di Facebook terus meningkat. Maka Modanisa tentu harus mencari kanal lain yang lebih efektif bagi konsumennya. “Saat ini, konsumen kami bisa dibilang organik. Mereka hanya tinggal mengetik Modanisa dan orang akan mengingatnya. Kami pun tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk meraih pasar yang sama,” tuturnya.

Modanisa saat ini memiliki stok tiga ribu potong pakaian dan akan didistribusikan ke 75 negara. Dia memiliki website yang dikunjungi oleh 6 juta pengunjung untuk melihat model pakaian yang dijualnya bersaing dengan Sefamerve di Turki. Namun hanya 4 persen dari pembeli Muslim global yang biasanya berbelanja online untuk pakaian sederhana.

Terdapat 96 persen potensi konsumen Muslim yang lebih memilih belanja di toko konvensional. Modanisa pun membuka dua toko di Turki dua tahun lalu. “Kami berusaha untuk menunjukkan kepada konsumen kualitas, model dan ukuran pakaian kami. Mereka mencobanya di dalam toko dan membelinya nanti secara online,” ujarnya.

Penjualan pakaian Muslim Modanisa 35 persen didapat di Turki, sisanya tersebar di Australia, Kanada, Eropa, dan Amerika Serikat. Dolce & Gabbana juga meluncurkan produk abaya dan hijab dengan model sederhana tahun ini. Dia menargetkan penjualan di Turki bersaing dengan Modanisa. 

Menurut pendiri SohaMT Collection, Soha Mohamed Taha media sosial adalah kanal tepat memasarkan ide dan produk modest fashion bagi para pebisnis pemula. Selain Instagram, media sosial Snapchat kini juga tak bisa diabaikan. “Snapchat tumbuh dengan cepat. Orang-orang banyak menyukainya karena ini sangat spontan,” ujarnya.

Tak seperti Instagram di mana orang-orang hanya bisa menaruh gambar dan sedikit keterangan, Snapchat memungkinkan penggunanya untuk membagi video dengan mudah, melacak seberapa banyak orang melihat video itu dan sangat interaktif. 

Namun, Taha masih merekomendasikan penggunaan Instagram untuk para pengusaha mode pemula. Karena di sana mereka bisa mencari basis pengikut. “Saat orang melihat apa yang saya pakai dan model itu mudah divariasikan dengan gaya berbeda, mereka akan cenderung membeli produk ini. Pesan visual sangat memengaruhi,” paparnya. (njs/dbs)


Back to Top