Kembangkan Produk Ekspor, Tanzania Ingin Urus Sertifikasi Halal

gomuslim.co.id– Industri halal saat ini menjadi sebuah industri yang tengah berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyak pelaku usaha produk halal yang berasal dari negara muslim maupun dari negara yang umat muslimnya menjadi minoritas.

Industri halal sendiri tidak hanya mencakup produk makanan dan minuman semata, melainkan banyak sektor seperti produk fashion, obat-obatan, kosmetik, biro perjalanan halal bahkan saat ini industri e-commerce halal yang mulai bermunculan. Berkaca dari hal tersebut, Tanzania diharapkan untuk mengadopsi logo sertifikasi halal pada tahun depan, sebuah langkah yang akan meningkatkan ekspor dan perekonomian nasional.

Dilaporkan situs berita DailyNews (24/10), sekjen Dewan Muslim Nasional Tanzania (BAKWATA), Selemani Lolila mengatakan bahwa para pedagang Tanzania akan mampu mengekspor produk halal mereka ke lebih dari 30 negara setelah mengadopsi logo dan sertifikasi halal. Lolita berujar, halal adalah logo yang dicap untuk produk yang telah disiapkan sesuai dengan hukum Islam dan dijamin kehalalannya

Lolila juga mengatakan bahwa sertifikasi Halal akan memungkinkan pedagang Tanzania untuk mengekspor produk ke berbagai negara Arab dan dengan demikian akan meningkatkan perekonomian bangsa.

"Banyak negara Arab tidak menggunakan produk yang tidak membawa logo halal, dengan sertifikasi ini tentunya akan membantu Tanzania untuk meningkatkan bisnis mereka dengan memenangkan pasar yang lebih banyak," katanya.

Senada dengan Lolita, Direktur Sertifikasi Halal Tanzania, Mr Muhsin Hosein mengatakan bahwa sertifikasi akan membantu para pedagang untuk memenuhi kebutuhan ekspor. "Sertifikasi Halal akan membantu untuk meningkatkan ekspor dan memungkinkan pedagang untuk mencapai banyak pasar di berbagai negara," katanya.

Seperti diketahui, dalam seri ke empat dan terbaru dari State of the Global Islamic Economy Report (SGIE) 2016-2017 yang dibuat oleh Thomson Reuters bersama Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai (DIEDC) dan Dinar Standard mengungkapkan bahwa belanja muslim global untuk sektor riil halal mencapai 1,9 triliun dolar Amerika Serikat dan aset sektor keuangan Islam mencapai 2 triliun dolar Amerika Serikat. Jika dilihat secara agregasi, maka pengeluaran Muslim global mencapai 3,1 triliun dolar AS pada 2015.

Sementara itu, sektor pangan masih jadi pos belanja utama umat muslim global dengan menghabiskan dana sebesar 1,7 triliun, disusul belanja pakaian dan aksesorisnya yang berada di angka 243 miliar dolar Amerika Serikat, sementara belanja hiburan dan rekreasi mencapai 189 miliar dolar AS, pariwisata 151 miliar dolar AS, serta belanja farmasi dan kosmetik 78 miliar dolar AS.

Tidak hanya pengeluaran, laporan ini juga memperkirakan pendapatan perusahaan-perusahaan pangan yang bersertifikat halal secara global bisa mencapai 415 miliar dolar AS. Dari sisi pendapatan, pangan halal adalah pilar terbesar ekonomi Islam sekaligus industri yang matang dengan investasi privat yang terus meningkat. Lebih lanjut, laporan ini juga menggarisbawahi bahwa perbaikan dari segi regulasi juga terus muncul dengan pengenalan akreditasi badan sertifikasi halal dan mendorong lebih banyak pemain di industri ini.

Pariwisata halal juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan bertambahnya resort pantai halal, maskapai khusus wisata halal, dan aneka portal daring yang menjawab kebutuhan Muslim saat bepergian seperti Airbnb, Bookhalalhomes, TripAdvisor, dan Tripfez. Belanja Muslim untuk sektor ini diprediksi mencapai 243 miliar dolar AS pada 2021.

Hal ini juga diikuti dengan pertumbuhan sektor fashion Muslim juga tak bisa diabaikan para pemain utama seperti Dolce & Gabbana, Uniqlo, dan Burberry. Investasi dan transaksi yang meningkat, belanja fashion Muslim diproyeksi akan mencapai 368 miliar pada 2021. Produk farmasi dan kosemtik halal juga terus tumbuh dengan makin berkembangnya temuan bahan kimia halal dan pengembangan yang dilakukan seperti cat kuku permeabel dan vaksin halal. Secara agregat, belanja Muslim untuk sektor ini diprediksi mencapai 213 miliar dolar AS pada 2021. (ari/dbs)


Back to Top