Inilah Percetakan Mushaf Alquran Berstandar Perdana Milik Indonesia

gomuslim.co.id- Kini Indonesia sudah memiliki standar percetakan Alquran perdana yang diinisiasi oleh Kementrian Agama (Kemenag). Pada Selasa (25/10), Kemenag meluncurkan pencetakan perdana Mushaf Alq`uran Standar Indonesia. Peluncuran tersebut dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Unit Pencetakan Alquran (UPQ) Ciawi-Bogor. Peluncuran ditandai dengan penekanan tombol mesin cetak setelah sebelumnya Menag menandatangani sambutan Menteri Agama untuk mushaf tersebut.

Dalam sambutannya, Menag menyampaikan rasa syukurnya, pencetakan perdana Mushaf Alquran Standar Indonesia menjadi keinginan banyak kalangan sejak lama yaitu pencetakan Alquran dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama.

"Ini tentu adalah saat yang bersejarah, Alhamdulillah negara hadir agar bagaimana kitab suci umat Islam yang merupakan agama mayoritas yang dipeluk oleh bangsa kita yang kemudian dicetak langsung oleh Pemerintah melalui Kementerian Agama," ungkap Menag.

Adapun, tambah Menag, keinginan pemerintah menerbitkan dan mencetak sendiri Alquran juga merupakan keinginan para pendahulu di Kementerian Agama. Tahun ini, vita-cita tersebut akhirnya bisa terealisasi.

Hadir dalam peluncuran tersebut, Dirjen Bimas Islam Machasin, sejumlah pejabat Eselon II dan Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Target 35 Ribu Mushaf Alquran

Dalam hal ini, Kementerian Agama menargetkan bisa mencetak 35 ribu mushaf Alquran standar Indonesia hingga akhir 2016 ini. Ke depan, saat proses tender mesin selesai, kapasitas pencetakan bisa bertambah.

Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Machasin mengatakan dalam dua bulan tersisa menjelang akhir 2016, Unit Pencetakan Alquran (UPQ) Kemenag menargetkan bisa mencetak 35 ribu mushaf Alquran standar Indonesia. Kapasitas cetak saat ini mencapai 20 ribu eksemplar mushaf Alquran per bulan.

Kapasitas asli UPQ Kemenag sendiri mencapai 300 ribu eksemplar mushaf Alquran per bulan. Namun sayang tender mesinnya juga mundur sehingga target pencetakan 160-200 ribu mushaf Alquran per bulan baru akan dimulai pada 2017. "Bila itu terlaksana, target 1,5 juta eksemplar Alquran per tahun bukan hal yang sulit," kata Machasin.

Pencetakan mushaf Alquran perdana ini sendiri melewati tahap cukup panjang. Pada tahun 2008, Menteri Agama kala itu Maftuh Basyuni resmikan LPQ yang ada di bawah tanggungjawab Sekjen Kemenag. Lalu pada 2013 keluar Keputusan Menteri Agama yang menyatakan LPQ dipindahkan dari Sekjen ke Ditjen Bimas Islam, kemudian LPQ berubah menjadi UPQ. "Pembenahannya sendiri baru selesai tahun ini." pungkasnya.

Pesan Menag Terkait Percetakan Alquran

Kepada mereka yang langsung berkaitan dengan proses pencetakan Alquran, Menag Lukman berpesan agar lima nilai budaya Kemenag benar-benar dijaga dan betul-betul mewujud dalam proses ini. "Kita sudah banyak belajar, korupsi Alquran sudah cukup. Itu bukan hanya tamparan, tapi meruntuhkan integritas aparat sipil negara," kata Lukman.

Kedua, Lukman meminta profesionalitas dijaga dengan meneliti betul tiap ayat. Karena, apa yang dicetak akan jadi rujukan umat, tempat semua orang akan melihat. Tambah Lukman, kesalahan cetak tak bisa ditoleransi jika pencetaknya adalah negara. Kesalahan itu sulit diterima. “Mohon dengan sangat ketelitian, profesionalisme, tanggung jawab betul-betul dipegang," ujar Menag.

Pengalaman menunjukkan, salah terjemah saja jadi masalah luar biasa bagi masyarakat. Saat ini, mushaf yang dicetak UPQ Kemenag memang tanpa terjemah, tapi arah ke program penerjemahan itu bisa terjadi karena ada kebutuhan. Karena,

Terjemahan Alquran sendiri bukan Alquran. Sehebat apapun para mufassir, mereka tidak luput dari salah. Maka tak mengherankan kitab tafsir selalu diakhiri wallahu 'alam bi shawab. Sebab, manusia dengan segala keterbatasannya tidak bisa menterjemah dan menafsir kalam Allah SWT.  (fau/kemenag/dbs)

 


Back to Top