Tingkatkan Kunjungan Wisatawan, 10 Negara Ini Jadi Sasaran Kemenpar Promosikan Pariwisata Halal Indonesia

gomuslim.co.id- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia gencar melakukan promosi pariwisata halal yang ada di Indonesia. Sebagai negara yang populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai harus bisa memanfaatkan peluang pasar Muslim yang sangat besar. Karena itu, Indonesia perlu membuat wisata halal yang berkelas agar menjadi destinasi masyarakat Muslim dunia.

Populasi masyarakat Muslim di dunia hingga saat ini mencapai 1,6 miliar jiwa. Sekitar 40 tahun ke depan diperkirakan akan meningkat sebanyak 73 persen. Dari 1,6 miliar jiwa bisa menjadi 2,8 miliar jiwa pada 2050 mendatang.

Beberapa negara di dunia kini menjadi sasaran promosi Kemenpar dalam mengenalkan destinasi wisata halal Indonesia. Turis dari Timur Tengah hingga Eropa pun menjadi target utama dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Peningkatan pergerakan wisatawan Muslim dari berbagai negara membuat tren pariwisata halal terus berkembang. Tren ini dimanfaatkan Kemenpar untuk menggaet wisman Muslim ke Tanah Air dengan terus mempromosikan wisata halal Indonesia.

Kemenpar sendiri menargetkan kedatangan 5 juta wisatawan Muslim ke Indonesia di tahun 2019. Target ini meningkat dua kali lipat dari target tahun 2016. Untuk itu, sejumlah negara dengan potensi wisatawan Muslim pun menjadi target utama promosi Kemenpar.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kemenpar Riyanto Sofyan mengatakan, strategi untuk mencapai target tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa bagian. “Ini kita bagi tiga, Timur Tengah, Asia dan Eropa,” ujarnya dalam Media Discussion 'Understanding Generation M: Young Muslims Changing the World' di Ogilvy Office, Sentral Senayan III, Jakarta, Selasa (25/10).

Adapun mengenai 10 besar pasar turis Muslim mancanegara tersebut yaitu Timur Tengah yang meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar dan Kuwait. Kemudian Asia yang meliputi Malaysia, Singapura dan Tiongkok. Dan Eropa yang meliputi Jerman, Prancis dan Rusia. “Sepuluh negara ini menjadi sasaran utama karena seiring dengan banyaknya turis yang datang dalam beberapa tahun kebelakang,” ujarnya.

Berbagai destinasi yang ada di Tanah Air pun banyak yang dikembangkan untuk wisata halal. Hal ini agar turis-turis tertarik untuk datang. Sejumlah destinasi itu dimasukkan dalam kategori Great Batam yang meliputi pula Aceh serta Sumatera Barat. Lalu ada Great Bali dengan kawasan Lombok dan Great Jakarta untuk Jakarta dan Jawa Barat.

Destinasi tersebut kemudian akan dipoles dengan sentuhan Islami, yang tentunya ramah wisatawan Muslim. Sehingga turis Muslim pun tertarik buat datang berlibur. “Kita ciptakan ikon-ikon yang baru. Kemudian amenitis kita perbanyak dan juga promosi. Kita harus aktif untuk bisa branding dan juga menyatakan bahwa kita itu memang the world best halal tourism destination,” jelas Riyanto. 

Selain itu, Riyanto juga menambahkan, di objek wisata halal, makanan yang dijual halus terjamin kehalalannya. Untuk lebih meyakinkan konsumen, makanannya pun harus sudah terserifikasi MUI. “Toiletnya juga harus bersih dan bersahabat dengan gaya hidup masyarakat Muslim yang menjaga kesucian,” katanya.

Ia menerangkan, misalnya di toilet harus ada air untuk bersuci (wudhu). Jangan sampai di toilet hanya menyediakan tisu. Selain itu, di lokasi objek wisata harus ada Mushala atau masjid, menyediakan sajadah, memberi petunjuk arah kiblat dan informasi waktu shalat.

Intinya, sarana dan prasarana yang ada di objek wisata halal harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat Muslim. Hal demikian dalam rangka memberikan mereka kemudahan untuk beribadah karena masyarakat Muslim juga membutuhkan pelayanan yang bagus.

Menurut Riyanto, Indonesia sebenarnya sangat mudah untuk dijadikan wisata halal. Sebab, gaya hidup halal seharusnya merupakan hal yang biasa di Indonesia. Mengingat penduduk Muslim Indonesia populasinya terbanyak di dunia. “Masalahnya hanya kemasannya harus dipoles dengan sertifikasi, training dan promosi,” ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Presiden Ogilvy Noor yang bergerak di bidang Konsultan Branding Muslim, Shelina Janmohamed mengatakan gaya hidup Muslim telah menjangkau berbagai sektor mulai dari kuliner, perbankan, pariwisata dan layanan kesehatan. Masyarakat Muslim juga menjadi salah satu penggerak ekonomi terkuat di abad ke-21. “Generasi muda Muslim masa kini cenderung selektif dalam memilih produk yang akan dikonsumsi,” pungkasnya. (njs/dbs)


Back to Top