BNI Syariah Sabet Tiga Penghargaan di Ajang Digital Marketing and Social Media Awards 2016

gomuslim.co.id- Tiga penghargaan kembali diraih BNI Syariah di penghujung akhir semester 2016 ini. BNI Syariah berhasil menyabet gelar The Most Efficient Sharia Bank 2016, 1st Social Media, dan Best Website dalam Social Media Award 2016. Atas raihan ini, bank berbasis Islam tersebut telah menunjukkan kiprah hebatnya dalam dunia bisnis keuangan nasional.

Corporate Secretary BNI Syariah Endang Rosawati mengatakan, ketiga penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas raihan kinerja yang baik dalam dunia digital dari berbagai institusi perusahaan. Sebelumnya, Majalah Marketing bekerjasama dengan Surveyone Research menggelar acara Digital Marketing and Social Media Awards 2016.

“Kami sangat bersyukur, akhirnya BNI Syariah masuk sebagi nominasi dalam acara tersebut. Karena, untuk masuk dalam hal ini tidaklah mudah. Namun berkat kerjasama yang baik dari semua tim, kami bisa meraihnya,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Endang menjelaskan, beberapa kategori yang diberikan diantaranya The Best Website dan The Best Social Media. Kriteria penilaiannya meliputi content, commerce dan aktivitas di sosial media perusahaan seperti website, facebook dan twitter yang dilakukan sejak Mei-Agustus 2016. “Alhamdulillah, BNI Syariah meraih dua kategori The Best Social Media kategori Tabungan dan Best Website,” tambah Endang.

Selain itu, menurut perempuan berhijab ini, BNI Syariah selama ini telah mendapat sambutan positif dari masyarakat. “Berdasarkan penilaian juri, BNI Syariah dinilai cukup memberikan transparansi informasi baik dari sisi profil perusahaan, produk dan layanan content yang mudah diakses oleh pengunjung serta values Hasanah yang dimiliki BNI Syariah,” paparnya.

Endang menambahkan, peran media sosial menjadi sangat penting bagi sebuah institusi perbankan. Sebab, hadirnya media sosial dapat menjadi sarana yang memudahakn bagi masyarakat dalam mengakses informasi. Disisi lain, BNI Syariah pun dapat memperkenalkan produk values Hasanah dan meningkatkan engagement melalui website, facebook dan twitter.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Operasional BNI Syariah, Junaidi Hisom mengatakan BNI Syariah juga berhasil kembali meraih The Most Efficient Sharia Bank 2016 yang digelar oleh Bisnis Indonesia di Hotel JW Marriot Jakarta, Rabu (19/10) kemarin.

Menurutnya, kriteria penilaian diambil berdasarkan rasio kinerja keuangan di tahun 2015. Beberapa hal diantaranya seperti biaya operasional dan net interest margin. Semuanya mengalami peningkatan nilai effisiensi biaya operasional yang mencapai 80 persen.

“Penghargaan ini menambah rasa syukur BNI Syariah untuk terus meningkatkan performa strategi effisiensi di tahun 2016. Salah satunya dengan memacu produktivitas karyawan melalui penempatan sesuai dengan potensi sehingga kinerja lebih optimal,” pungkasnya.

Sementara itu, dalam kurun waktu triwulan III 2016, BNI Syariah juga mencatat peningkatan laba sebesar 37,42 persen dari Rp 156,62 miliar pada periode sama tahun 1015 menjadi Rp 215,23 miliar tahun ini. Pertumbuhan tersebut disokong ekspansi pembiayaan yang terjaga kualitasnya, kontribusi komposisi rasio dana murah, dan efisiensi operasional.

“Meskipun pertumbuhan ekonomi global melambat, namun BNI Syariah mencatat laba pada triwulan III tahun 2016 meningkat 37,42 persen dari Rp 156,62 miliar pada periode sama tahun 1015 menjadi Rp 215,23 miliar,” kata Direktur Utama BNI Syariah, Imam Teguh Saptono di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Teguh menambahkan, selama triwulan III/2016 ini, BNI Syariah mampu menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 19,53 triliun, meningkat 15,09 persen dibandingkan periode sama tahun 2015 sebesar Rp 16,97 triliun. Kualitas pembiayaan terjaga baik dengan pembiayaan bermasalah (non performing financing -NPF) 3,03 atau meningkat dari tahun lalu yang mencapai 2,54 persen.

Namun secara industri diperkirakan NPF akan lebih dari 5 persen. “Kenaikan NPF ini karena ekonomi makro yang belum pulih, bahkan sejak tahun 2014 terjadi perlambatan ekonomi dan diperkirakan tahun 2017 baru mulai tumbuh,” ujarnya.

Dari total pembiayaan tersebut, sebagian besar merupakan pembiayaan konsumer (53,46 persen), pembiayaan ritel produktif sebesar 22,55 persen, pembiayaan komersial sebesar 16,21 persen. Pembiayaan mikro sebesar 5,85 persen dan kartu pembiayaan Hasanah sebesar 1,93 persen.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 22,77 triliun atau meningkat dari tahun lalu yang mencapai Rp 18,93 triliun. Dengan komposisi dana murah (CASA) sebesar 47,42 persen mengalami peningkatan 43,76 persen dari tahun sebelumnya. “Pada tahun 2016, pertumbuhan DPK kami yang paling tinggi dari tahun tahun sebelumnya,” katanya. (njs/dbs)

Sementara pertumbuhan aset meningkat 17,88 persen dari Rp 22,75 triliun tahun lalu menjadi Rp 26,82 triliun tahun ini. Pertumbuhan aset ini didorong pertumbuhan pembiayaan sebesar 15,09 persen dan DPK sebesar 20,26 persen. (njs/dbs)


Back to Top