Begini Aktivitas Dakwah Islam di Negeri Ginseng

gomuslim.co.id-  Muslim Korea Selatan terus menggeliatkan terjemahan literatur-literatur Islam. Publikasi atas literatur tersebut menjadi salah satu aktivtas dakwah yang dilakukan di negeri gingseng tersebut. Hal ini tak luput dari adanya sebuah lembaga dakwah Islam di korea yang berdiri sejak tahun 1967. Lembaga tersebut bernama Korea Muslim Federation (KMF).

Meski dikenal dengan kota metropolis, ternyata geliat dakwah dan sentuhan hidayah Islam begitu terasa di Seoul. Ibukota Korea Selatan ini merupakan tempat yang banyak digelar kegiatan-kegiatan keislaman. Berbagai kajian, seminar dan konferensi menjadi hal yang sudah biasa di Hannamdong Yongsangu, Seoul, sebagai pusatnya KMF.

Selain itu, KMF juga menghelat beberapa kegiatan lainnya seperti membuka kursus bahasa Arab secara gratis, dan membuka kelas madrasah pada Ahad bagi anak-anak Muslim. Pelatihan kepemimpinan bagi calon pemimpin Muslim serta mengirim siswa untuk belajar ke institut Islam di negara-negara Islam menjadi bagian dari program KMF.

Di sisi lain, KMF pun mendorong dibukanya cabang KMF di berbagai negara Islam yang menjadi tujuan bisnis warga Korea, yaitu Arab Saudi (di Jeddah), Kuwait, dan Indonesia. Selama ini, KMF memfokuskan aktivitas dakwahnya pada pendidikan dan penelitian Islam. Seperti ditulis Mozammel Haque dalam islamicmonitor.

Seorang pengurus KMF mengatakan hadirnya lembaga ini untuk memfasilitasi kaum Muslim di korea dan mensyiarkan Islam kepada masyarakat. “Kegiatan seperti seminar dan kuliah umum tentang Islam secara rutin diadakan di ruang konferensi Masjid Sentral Seoul,” ujarnya.

Aktivitas keakademisan ini mencapai puncaknya ketika diselenggarakan Seminar Islam Internasional di Seoul pada Agustus 1997. Berbarengan dengan seminar ini diresmikan juga Institut Kebudayaan Islam atau Korea Institute of Islamic Culture (KIIC). “Lembaga pendidikan ini sudah ada sejak era 90 an,” katanya.

Sementara itu, sebuah madrasah bernama Sultan Ibnu Abdul Haziz pun telah berdiri di Islamic Centre, Masjid Sentral Seoul. Madrasah ini berhasil didirikan pada Oktober 2001 berkat bantuan dana sebesar 300 ribu dolar AS dari Pangeran Kerajaan Arab Saudi, Sultan Ibnu Abdul Aziz.

Islamic Centre di Seoul ini juga menyelenggarakan pendidikan tentang Alquran, bahasa Arab, dan bahasa Inggris. Ada pula kelas khusus yang mempelajari semangat Islam dan hanya beranggotakan 15 siswa di tiap kelasnya. Nantinya, Islamic Centre ini diharapkan bisa berkembang menjadi Institut Pendidikan Islam. “Semoga semua cita-cita ini terlaksana di masa depan,” harapnya.

Dakwah Islam di Seoul dan juga Korea Selatan memiliki masa depan yang cukup menjanjikan. Hal ini lantaran Korea Selatan menganut sistem kebebasan beragama dan diatur dalam konstitusi. “Negara mengatur hal ini dalam undang-undang,” ungkapnya.

Menilik dari sejarahnya, Perang Korea (Juni 1950- Juli 1953) membawa berkah tersendiri bagi kebangkitan Islam di Negeri Ginseng. Saat itu, gara-gara perang, negeri ini luluh lantak dan menyeret warganya pada keputusasaan. Di tengah suasana yang menyengsarakan ini, Islam hadir laksana oase yang memberikan kesejukan dan keikhlasan untuk berserah diri kepada Tuhan, seperti lilin kecil di tengah gulita.

Adapun, Islam telah ada di Semenanjung Korea jauh sebelum Perang Korea pecah. Sejarah mencatat, Islam masuk ke Korea Selatan pada abad ke-7 lewat kafilah dagang yang menuju Cina lalu menjalin hubungan dengan Kerajaan Shilla, salah satu dari tiga negara besar di Korea pada masa lalu.

Hubungan itu terus terjalin dan sebagian pedagang Muslim itu tertarik untuk menetap di sana. Maka, tak heran jika pada periode Koryo (918-1392) terdapat komunitas Muslim di Korea Selatan dalam jumlah cukup besar di Kaesong, Ibu Kota negara masa itu. Komunitas Muslim juga terdapat di Itaewon, Seoul, yang terus berkembang menjadi kota besar hingga sekarang. (njs/dbs)


Back to Top