Terapkan Pendidikan Karakter, Pemerintah Kabupaten Purwakarta Wajibkan Shalat Dhuha Bagi Pelajar Muslim

gomuslim.co.id- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta menerapkan sistem pendidikan berkarakter berbudaya kepada pelajar SD, SMP, hingga SMA. Penerapan sistem ini telah dilakukan sejak tahun 2008 silam. Program-program pendidikan yang aplikatif menjadi hal utama dalam menjalankan sistem tersebut.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan sejak awal kepemimpinannya, ia memang menginginkan pendidikan berbasis budaya sunda diterapkan di semua sekolah. Selain itu, perpaduan antara budaya dengan agama juga menjadi hal penting. Salah satu program yang menjadi unggulannya yaitu mewajibkan para pelajar muslim untuk mengerjakan Shalat Dhuha.

“Kita ingin anak-anak di Purwakarta tidak hanya pintar dalam pelajaran, tapi harus cerdas secara akhlak. Hal ini tentu akan terwujud jika instansi pendidikan menerapkan pendidikan berbasis karakter,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Dedi menjelaskan, sebelumnya para siswa/siswi masuk sekolah pukul 07.00 WIB. Namun, sejak dirinya menjabat Bupati, masuk sekolah dimajukan jadi pukul 06.00 WIB. Hal demikian supaya anak-anak terbiasa bangun pagi dan dapat melaksanakan Shalat Dhuha. Selain itu, kata Dedi, waktu belajar yang paling efektif adalah pada saat pagi hari.

“Para pelajar kami wajibkan untuk masuk sekolah lebih pagi dari sebelumnya. Ini supaya mereka terbiasa dengan pola hidup sehat dan disiplin. Lama-lama mereka akan terbiasa dengan pola semacam ini,” katanya

Ketika sudah di sekolah, para pelajar tak langsung melahap pelajaran dari para guru. Namun mereka selama 15 menit akan mengaji, dan dilanjutkan untuk mengikuti kegiatan bersih-bersih sekolah selama 15 menit. “Sebelum anak-anak masuk ke kelas masing-masing, kita ada waktu sekira 15 menit untuk melaksanakan Shalat Dhuha. Setelah itu baru masuk kelas masing-masing untuk belajar,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Dedi, proses pembelajaran aplikatif di Purwakarta terdiri dari tiga aspek penting. Ketiganya yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). “Shalat Dhuha merupakan salah satu upaya untuk membuka nalar spiritual anak-anak dengan pendekatan SQ,” katanya.

Shalat Dhuha, kata Dedi, juga membuka ruang kontemplasi sebelum memulai pelajaran agar bisa lebih fokus dan proses transfer ilmu secara tafakur dan tadabur antara guru dan murid. “Ada banyak manfaat dari shalat duha, salah satunya proses belajar mengajar di sekolah menjadi lebih hidup,” ujarnya.

Di sisi lain, Dedi mengungkapkan terhitung mulai 1 Desember 2016 nanti, program pendidikan baca, tulis, dan kajian Alquran dan kitab kuning akan mulai. Selain itu akan ditambah dengan mendatangkan guru-guru khusus yang kini dalam tahap penyeleksian. “Jadi setelah belajar alquran dan kitab kuning selesai, baru salat duha akan dimulai,” paparnya.

Adapun mengenai para pelajar non muslim, Dedi memastikan mereka tetap mendapat hak yang sama untuk melakukan ritual sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. “Kalau untuk hal itu, tentu disesuaikan dengan keyakinan siswa/siswinya,” ujarnya.

Saat ini, program mewajibkan pelajar salat duha masih berlaku untuk SD, SMP, dan SMA yang berada di bawah naungan langsung Pemkab Purwakarta. Sementara, bagi pelajar yang bersekolah di swasta, program ini hanya bersifat anjuran. (njs/dbs)


Back to Top