Potensi Wakaf Besar, Pengelolaan Dana Wakaf Perlu Libatkan Perbankan Syariah

gomuslim.co.id- Pengelolaan dana wakaf di Indonesia saat ini telah dilakukan oleh beberapa lembaga. Pemanfaatan dana ini dapat menumbuhkan ekonomi sosial Islam. Namun, supaya dapat berjalan dengan efektif dan optimal, pengelolaan wakaf perlu melibatkan banyak instansi, salah satunya adalah bank syariah.

Demikian disampaikan Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono beberapa waktu lalu. Ia menambahkan, perbankan syariah dalam hal ini sebagai lembaga yang sudah terbiasa mengelola dana masyarakat dinilai sangat bisa menopang dana wakaf. Menurutnya, pengelolaan dana wakaf oleh beberapa instansi ini akan meningkatkan kepercayaan publik.

“Karakteristik dari wakaf itu, uang yang diwakafkan oleh masyarakat nilainya nggak boleh turun. Lembaga yang sudah terbiasa mengelola dana masyarakat atau nilai masyarakat yang tidak turun adalah bank, dan dalam hal ini harusnya bank syariah," katanya.

Lebih lanjut Imam berharap, ke depannya dibuat sebuah skema di mana lembaga-lembaga wakaf seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan lembaga wakaf lainnya memiliki link ke perbankan syariah. Nantinya, hubungan antara bank syariah sebagai pengumpul atau memobilisasi dana wakaf masyarakat akan memiliki semacam perjanjian dengan lembaga-lembaga wakaf untuk pengembangan aset wakaf.

Hal ini sebagaimana layaknya hubungan antara bank dengan nasabahnya. Dengan demikian, dana wakaf yang disalurkan oleh masyarakat itu bisa secara tertib administratif dikelola oleh bank syariah. “Sistem semacam ini sebetulnya akan lebih memudahkan bagi semua pihak, jadi akan lebih banyak memberikan manfaat,” tambahnya.

Imam mencontohkan, misalnya Dompet Dhuafa ingin wakaf dalam bentuk rumah sakit, maka BNI Syariah akan mengeluarkan tabungan wakaf di mana dalam brosurnya menyebutkan bahwa tabungan wakaf ini akan digunakan untuk pembangunan rumah sakit. Kemudian tabungan ini dilempar ke masyarakat sebagai alat untuk memobilisasi dana.

Menurut Imam, ‪hal ini sebagaimana layaknya rekening sehingga masyarakat bisa melihat berapa jumlah dana yang sudah disetorkan dan nasabah juga bisa akses di ATM. Akan tetapi, bedanya uang wakaf tidak bisa diambil. “Kemudian, lembaga wakaf tidak bisa serta merta mengambil seluruh uang hasil wakafnya. Nanti, bank syariah akan memberikannya sesuai prestasi progres pembangunannya,” katanya.

Dengan demikian, dapat dipastikan apabila nasabah akan membuka rekening wakaf maka aset wakaf yang ditujukan untuk bangunan bisa benar-benar terbangun dan pencatatan cashflow-nya bisa berjalan dengan tertib. Apabila langsung ke lembaga wakaf dikhawatirkan nantinya terjadi pengambilan kas terlalu berlebihan sedangkan pembangunan di lapangan tidak sesuai progres, sehingga uang wakafnya habis. “Jadi, bank benar-benar memiliki kewenangan mencairkan uang tabungan wakaf sesuai progres yang ada di lapangan,” papar Imam.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (BSM) Agus Sudiarto mengatakan, pengelolaan dana wakaf oleh perbankan syariah akan menjadi salah satu instrumen pendanaan murah. “Ide ini akan menjadi sebuah inovasi yang menarik jika bisa diwujudkan oleh semua pihak,” ujarnya.

Menurutnya, wakaf dalam bentuk aset tidak bergerak juga bisa menjadi jaminan pembiayaan di masa yang akan datang. Misalnya saja, tanah yang dihibahkan bisa menjadi jaminan bank untuk mengelola nilai tunai tanah tersebut. “Kami selalu siap untuk memberikan yang terbaik dan bermanfaat untuk masyarakat,” pungkas Agus. (njs/dbs)


Back to Top