Kenalkan Budaya Pesantren, Santri dan Warga Ikut Nobar Film Dokumenter 'Jalan Dakwah Pesantren'

gomuslim.co.id- Para santri dan warga sekitar di Pondok Pesantren Salafiyah Desa Karangasem, Kecamatan Kertanegara Kabupaten Purbalingga mengikuti acara nonton bareng film dokumenter keislaman dan kepesantrenan beberapa waktu lalu. Film berjudul 'Jalan Dakwah Pesantren' karya sutradara Yuda Kurniawan ini mendapat sambutan hangat dari para penonton yang menyaksikan.

Bertempat di pelataran pesantren, acara nobar tersebut membuat para santri seperti bercermin pada dirinya sendiri. Hal demikian karena film tersebut jelas menggambarkan tentang bagaimana kehidupan dan peran pesantren di Indonesia dalam membangun pendidikan bagi generasi penerus.

Salah seorang santri Zaki Maftukhan mengatakan dirinya tersentuh saat menyaksikan film documenter tersebut. “Setelah menonton film ini, saya merasa bangga menjadi santri di Indonesia. Ternyata santri dan pesantren mempunyai kontribusi besar dalam membangun peradaban bangsa dan menjaga perdamaian,” ujarnya.

Film dokumenter berdurasi 37 menit itu berkisah tentang sejarah panjang lembaga pendidikan berciri khas keagamaan yang lekat dengan lokalitas dan beragam tradisi serta budaya di Indonesia. Lembaga tersebut kita kenal dengan istilah pondok pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Purbalingga Gus Mansur Awit mengatakan santri zaman sekarang harus lebih terbuka terhadap dunia luar, sehingga memiliki strategi berdakwah yang menyejukkan dan efisien. Dengan begitu, dakwah Islam yang damai akan terus hadir  ada di dunia ini karena peran pondok pesantren sangat besar dalam menanggapi aksi kelompok-kelompok Islam garis keras.

“Ini menjadi tantangan dan tanggung jawab para santri harus tahu bagaimana sejarah dakwah Islam masuk Nusantara. Kemudian memanfaatkan teknologi internet, setidaknya untuk mengimbangi dakwah-dakwah versi wahabi yang sudah terlebih dahulu menggunakan teknologi itu,” tuturnya.

Lebih lanjut, pengasuh pesantren yang sempat mengenyam pendidikan di Al-Azhar Kairo Mesir ini mengungkapkan, tantangan dan tanggungjawab santri saat ini semakin besar. “Kalian akan tertinggal jika tidak bisa menguasai dan memanfatkan teknologi yang ada pada saat ini,” tambahnya.

Sebelumnya, film yang diproduksi Kementerian Agama RI, Rekam Docs dan 1926 ini telah diputar dan menjadi bahan diskusi keliling Pulau Jawa di puluhan pondok pesantren, kampus, dan beberapa lembaga pendidikan lain seperti di Universitas Negeri Jakarta, Ponpes Cipasung Tasikmalaya, Ponpes Babakan Ciwaringin Cirebon, Ponpes Al-Azhar Muncar Banyuwangi, dan Stadion Maguwoharjo Yogyakarta.

Sebelum film dokumenter tersebut diputar, sebagai pembuka juga diputar film-film pendek produksi Ponpes Salafiyah yang memancing antusias penonton. Usai pemutaran yang difasilitasi CLC Purbalingga ini digelar diskusi yang menghadirkan sutradara Yuda Kurniawan dan pengasuh Ponpes Salafiyah Gus Mansur Awit.

Di hadapan para santri dan warga sekitar pesantren, Yuda menceritakan pengalamannya selama proses produksi film yang diproduseri Hamzah Sahal ini. Dia mengaku sangat menikmati proses pembuatan film dokumentar ini, sehingga hasil produksinya diharapkan bisa maksimal. '”Biasanya, kalau membuat film dokumenter, saya inginnya cepat selesai. Untuk film ini malah sebaliknya, karena saya sangat menikmati,” terangnya.

Setelah singgah di Purbalingga, pemutaran film 'Jalan Dakwah Pesantren' akan terus berkeliling ke sejumlah daerah. Antara lain, pemutaran film di kampus IAIN Purwokerto dan santri di Ponpes Al Ihya Ulumaddin Cilacap. (njs/dbs)


Back to Top