Untuk Kembangkan UKM, Pemerintah Malaysia Diminta Rilis Alternatif Logo Halal

gomuslim.co.id– Menurut data dari Kementerian Perdagangan dan Industri Malaysia, saat ini hanya terdapat 11 persen dari perusahaan-perusahaan milik Muslim yang terdaftar untuk produk halal di pasar ekspor. Pada tahun lalu, Negeri jiran Malaysia meluncurkan maskapai halal pertama, yakni Rayani Air. Semua makanan di Rayani Air adalah halal, sementara ada peraturan melarang mengonsumsi alkohol selama perjalanan, serta ada pembacaan doa sebelum lepas landas dan saat mendarat.

Namun hal ini tidaklah cukup, pasalnya pemerintah Malaysia didesak untuk membuat logo khusus bagi produk buatan muslim. Ini diharapkan bisa membuat Usaha Kecil dan Menengah berkembang.

Zahidi Zainul Abidin, anggota parlemen untuk Padang Besar mengatakan gerakan itu bertujuan menjembatani antara muslim dan non-muslim baik pada industri halal lokal maupun internasional, tulis kantor berita Malaysia, Bernama (2/11).

"Ada kesenjangan besar antara muslim dan no n-muslim yang kini mengontrol 89 persen pasar produk halal untuk ekspor internasional. Secara lokal, 70 persen pasar produk halal sedang dikendalikan oleh non-muslim sementara muslim hanya memegang sisa 30 persen," ujar Zahidi saat mendebatkan Supply Bill 2017 di Dewan Rakyat.

Ia mengatakan kebanyakan pebisnis muslim dalam UKM menghadapi kesulitan meraih logo halal yang dikeluarkan JAKIM. Padahal logo diperlukan untuk memperbesar penjualan produknya.

Menurut Zahidi, ini terjadi karena aturan yang dibuat JAKIM tergolong rumit dan hanya bisa dipenuhi oleh perusahaan serta pebisnis besar. Meski begitu, Zahidi yang juga kepala Rubber Industry Smallholders Development Authority (RISDA), mengatakan logo produk muslim tidak bermaksud menggantikan logo halal JAKIM. Tapi hanya untuk membantu pebisnis kecil dan menengah.

Datuk Zahidi Zainul Abidin menambahkan langkah membuat logo khusus merupakan langkah tepat untuk menjembatani kesenjangan antara Muslim dan non-Muslim di industri halal lokal dan Internasional. Menurutnya, ada kesenjangan yang besar antara Muslim dan non-Muslim yang saat ini mengendalikan 89 persen pasar produk halal untuk ekspor internasional.

"Secara lokal, 70 persen dari pasar produk halal sedang dikendalikan oleh non-Muslim, sementara Muslim hanya memegang sisanya 30 persen," kata Zahidi saat debat di Dewan Rakyat.

Senada dengan Zahidi, Dr. Nik Mazian Nik Mohamad dari parlemen Pasir Puteh jug amendukung usulan ini. Ia menyampaikan bahwa logo dapat menunjukkan bahwa produk merupakan buatan muslim.

"Produk halal tidak selalu diproduksi muslim, jadi saya setuju seharusnya ada logo lain seperti yang diusulkan Zahidi, untuk disertifikasi oleh JAKIM atau Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Konsumerisme," ujar Dr Nik kepada Bernama.

Sebelumnya, RISDA mengeluarkan usulan logo produk halal baru untuk produk buatan muslim bagi pebisnis yang gagal mendapat logo halal JAKIM. Namun JAKIM meminta RISDA menjelaskan aksi tersebut karena lembaga pengeluar sertifikasi halal Malaysia ini merasa usulan bertentangan dengan Trade Description (Certification and Marking of Halal) Order 2011. (ari/dbs)


Back to Top