Kurangi Dampak Pokemon Go, Mahasiswa IPB Rintis Game Online Syariah

gomuslim.co.id- Inovasi dalam dunia teknologi terus dilakukan oleh semua kalangan, terutama kalangan pemuda dan mahasiswa. Baru-baru ini, dua orang mahasiswa asal Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat sebuah permainan Game Online Syariah (GOS). Aplikasi game ini sebenarnya mirip dengan Pokemon Go yang belum lama sempat pembicaraan hangat di media massa.  

Meski berkonsep seperti pokemon go, game online ini menggunakan sistem kendali “warning” berbasis islami sehingga tetap menjalankan aturan Islam yang menjamin keamanan dan kebermanfaatan bagi penggunanya. Hal demikian untuk dapat meminimalkan dampak negatif dari permainan 'game Pokemon Go' yang sedang digemari banyak orang di dunia.

Pengguna Pokemon GoS akan diberikan fasilitas game online berupa kendali warning yang berisi tanda, peringatan waktu, peringatan kondisi tempat, dan peringatan kondisi lingkungan sosial, serta informasi seputar keagamaan yang dikombinasikan dengan permainannya.

Muhammad Yusuf, mahasiswa Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB yang merupakan salah satu penggagas game Pokemon GoS mengatakan, dirinya membuat aplikasi game online tersebut berawal dari kerprihatinannya kepada anak-anak dan pecinta game online.

“Desain game ini mirip dengan Pokemon Go namun dilengkapi dengan sistem warning untuk membantu pemain lebih terjamin keselamatannya dan mengedukasi dengan akidah-akidah Islam. Dengan inovasi yang menarik dan fitur-fitur warning yang mendidik diharapkan Pokemon GoS dapat dijadikan sebagai game online yang digemari oleh masyarakat Indonesia khususnya anak-anak dan remaja,” ujarnya beberapa waktu lalu.  

Yusuf bersama dengan Adih dari Fakultas Peternakan menyebutkan gagasan baru dari game Pokemon GoS untuk meminimalisir dampak negatif penggunaan Pokemon Go. Hasil penelitian di Amerika, anak berusia 12 hingga 18 tahun rata-rata menghabiskan wkatu 5,5 jam di rumah untuk menonton televisi, memainkan video game, dan menjelajahi internet.

Dari hasil penelitian itu, sekitar enam persen pengguna internet mengalami ketergantungan game online. Gamers-sebutan bagi penyuka game online mengalami gejala yang sama dengan ketergantungan obat bius yakni lupa waktu dalam bermain game online.

“Beberapa media telah memberitakan terkait dampak penggunana Pokemon Go dari skala ringan hingga berat. Bahkan tidak tanggung-tanggung dampaknya dapat menghilangkan nyawa pemainnya, karena terlalu fokus bermain tidak memperhatikan situasi di sekitarnya dengan baik. Maka kami menggagas Pokemon GoS (Game Online Syariah) sebagai Inovasi Alternatif Pokemon Go,” katanya.

Melihat fenomena tersebut, Yusuf dan Adih menggagas permainan 'game Pokemon GoS' sebagai inovasi alternatif Pokemon Go. Yusuf menjelaskan Pokemon GoS adalah sebuah game online sejenis Pokemon Go yang menggunakan sistem kendali warning atau peringatan berbasis Islami yang bertujuan untuk memberikan kemudahan dan jaminan keselahatan, kebermanfaatan, dan keuntungan bagi penggunanya.

Pengguna Pokemon GoS diberikan fasilitas permainan online berupa kendali peringatan berisi tanda, peringatan waktu, peringatan kondisi tempat, dan peringatan kondisi lingkungan sosial, serta informasi seputar keagamaan yang dikombinaskan dengan permainan.

”Rancangan game ini mirip dengan Pokemon Go, namun dilengkapi dengan sistem peringatan untuk membantu pemain lebih terjamin keselamatannya dan mengedukasi dengan akidah Islam,” ungkapnya.

Dengan inovasi yang menarik dan fitur-fitur peringatan yang mendidik, lanjut Yusuf, diharapkan game Pokemon GoS dapat dijadikan sebagai game online yang digemari masyarakat Indonesia khususnya anak-anak dan remaja. “Gagasan game online syariah ini berhasil menjuarai Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Alquran IPB ke VIII/2016 sebagai jara tiga,” katanya.

Sebelumnya, pokémon GO-Pockét Monster Google and NintendO adalah salah satu jenis game online milik Nintendo sebagai publisher. Game ingress tersebut pertama kali dirilis secara eksklusif untuk perangkat android tanggal 15 November 2012 silam, dan tersedia untuk iOS Apple pada 14 Juli 2014. (njs/dbs)


Back to Top