'Aku Perlu Tahu' Jadi Film Pendek Pertama Karya Santri di Ajang Eagle Award 2016

gomuslim.co.id- Kiprah generasi muda Indonesia dalam menciptakan film-film dokumenter berkualitas sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui Eagle Award beragam karya film anak negeri hadir menjadi suguhan hiburan sekaligus sebagai media penyampaian pesan melalui nilai-nilai kehidupan dari alur cerita yang disampaikan dalam film yang berdurasi pendek.

Keunikan yang dimiliki film dokumenter adalah tuntutan untuk memberikan sudut pandang yang unik terhadap sebuah fakta peristiwa dan menyampaikannya dengan kreatif. Film dokumenter yang baik harus mampu meyakinkan penontonnya agar setuju atau setidaknya berpikir terhadap sebuah fakta yang ditampilkan.

Eagle Awards memberikan sebuah media bagi anak-anak muda yang kreatif agar kritis terhadap sebuah fakta, peristiwa, dan sebuah masalah yang sedang terjadi di dalam masyarakat luas agar menjadi sebuah inspirasi perubahan. Sinergisitas antara Eagle Awards dan anak-anak muda menghasilkan cerita inspiratif dari berbagai sudut pandang yang unik dan tegas. Melalui Eagle Awards anak-anak muda diajak untuk peduli dan kritis terhadap keadaan disekitar mereka dan menjadikan mereka para sutradara dokumenter Indonesia. Dan melalui pemikiran anak muda, Eagle Awards mencoba mengajak masyarakat untuk melihat berbagai potensi bangsa Indonesia yang ada dibalik banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi.

Tebuireng Institute sukses membawa film dokumenter berjudul 'Aku Perlu Tahu'  menjadi lima besar dalam ajang kompetisi Eagle Awards Documentary yang digarap oleh salah satu televisi swasta. Film berdurasi 00:23:14 itu merupakan karya pemuda santri Mufti Rasyid (29) warga Desa Cukir, Kecamatan Diwek yang merupakan TOEFL Director Tebuireng Institute, dan Fery Sriafandi (26) warga Pondok Hidayah, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Melalui film tersebut, kedua santri asal Jombang ini bercerita tentang Ahmad Fathul Iman (26), salah seorang guru SMA-LB di Jombang beserta siswinya, Iris Sofiyya (18), seorang penyandang tuna rungu-tuna wicara. Dengan segala tantangan yang dihadapi, Iman berusaha dengan segala cara kreatifnya untuk meningkatkan pemahaman para siswa difabel tentang kesehatan reproduksi.

"Tentunya di sini Iman tidak bekerja sendiri. Dibantu dengan Iris dan beberapa pihak lainnya, Iman berusaha memberikan pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksi pada kaum difabel. Sebagai sesama warga negara, kaum difabel berhak mendapatkan pengetahuan yang sama dalam segala hal, termasuk juga dalam bidang kesehatan repoduksi," ungkap Fery Sriafandi, salah satu pembuat film dalam keterangannya, Selasa (1/11/2016). 

Menurutnya, selama ini para siswa difabel memiliki pengetahuan yang kurang tentang masalah reproduksi, hal ini berdampak pada rentannya mereka terhadap beberapa penyakit alat reproduksi serta tindakan kekerasan seksual. Data-data yang ada menunjukkan anak-anak difabel memiliki resiko kekerasan seksual yang lebih tinggi dibandingkan anak normal.

"Hebatnya, di Jombang yang dikenal dengan kota santri, ternyata ada SMA-LB yang mengajarkan materi kesehatan reproduksi pada siswa difabel. Sedangkan itu tidak ada dalam kurikulum Diknas," jelasnya.

Fery mengatakan melalui film yang dikerjakan sekitar dua bulan, dirinya dan Rosyid ingin mengajak masyarakat untuk melindungi kaum difabel. Memberi hak yang setara, ditemani dan diberi kesempatan seperti halnya masyarakat yang normal.

"Dengan melihat film ini semoga masyarakat tidak lagi memandang kaum difabel dengan sebelah mata dan bersama untuk mengayomi mereka dari tindak kekerasan seksual," ujarnya.

Film ini akan kembali diputar pada salah satu televisi swasta, Kamis 10 November 2016 pukul 15.30 WIB. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk berkarya sekaligus menyebarkan informasi positif, salah satunya yakni dengan mengemas dalam sebuah film dokumenter seperti halnya yang dilakukan oleh Mufti Rasyid dan Fery Sriafandi dua pemuda santri asal Jombang ini. (nat/dbs)  

 


Back to Top