Ini Destinasi Pilihan Wisata Religi di Pulau Buton

gomuslim.co.id- Jika wisatawan menumpang kapal laut ke Buton dan merapat di pelabuhan Murhum kota Bau-Bau (pusat Kesultanan Buton dahulu), maka yang pertama menarik perhatian adalah benteng keraton Kesultanan Buton yang berdiri kokoh dan megah di atas bukit kota Baubau. Menurut hasil penelitian beberapa arkeolog mengemukakan bahwa besar kemungkinan benteng keraton Kesultanan Buton itu merupakan benteng keraton terluas, terkuat, dan terasli di nusantara.

Leluhur Buton telah memberikan sesuatu yang lebih dari semua itu, mereka telah mewariskan gedung peradaban Islam yang megah dan kokoh, serta menitipkan lembaga kearifan sebagai kunci emas untuk membuka dan merawat gedung peradaban yang membanggakan itu. Dengan kedua pusaka agung itu, tentu sangat kita mengerti bahwa leluhur di Buton tidak hanya mengharapkan anak cucunya untuk berjaya di dunia yang penuh tipu daya dan kepalsuan ini, tetapi juga bisa selamat dan terhormat tempatnya di akhirat kelak. Di Bawah pohon beringin, terdapat sebuah makam yang besar dan mempunyai panjang sekitar lima meter. Makam besar tersebut merupakan makam Sultan pertama di Kesultanan Buton, yakni makam Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis atau dikenal Lakilaponto atau Haluoleo.

Lokasi Makam Sultan Murhum berada tak jauh dari Masjid Agung Keraton Buton yang berada di dalam benteng Keraton Buton. Makam Sultan Murhum merupakan salah satu wisata religi yang dilakukan para wisatawan untuk mengenal Sultan Murhum dari dekat.

Salah seorang pengunjung Asal Makassar Judi saat ditemui, Selasa (1/11) mengatakan, kalau dia baru mengetahui bahwa Sultan Murhum merupakan Sultan Buton yang pertama di Pulau Buton, dan beliau sudah pernah mengalahkan bajak laut.

Keberadaan pohon beringin yang lebat menjadikan makam tersebut menjadi teduh dan sejuk. Ditambah semilir angin begitu terasa di atas makam yang lokasinya berada di tempat perbukitan tersebut.

Seorang pengunjung yang lain, Dewi, mengaku sudah mengetahui cerita tentang Sultan Murhum yang mempunyai kesaktian mengalahkan bajak laut bermata satu, La Bolontio.

Menurut alkisahnya, Sultan Murhum juga merupakan satu-satunya sultan yang berhasil menguasai daerah Sulawesi Tenggara.

“Saya datang ke sini mau ziarah kubur ke makam Sultan Murhum. Yang saya ketahui, di masa kepemimpinan dia, penyebaran Islam di Pulau Buton mulai masuk. Saya dengar, sultan ini orangnya tinggi besar, ternyata makamnya memang besar,” ujar Dewi.

Sultan Murhum memerintah Kerajaan Buton selama 26 tahun dan menjadi sultan yang mendapat pengakuan Sultan Rum dari Kesultanan Turki di tahun 1558 masehi. Makam ini sudah banyak dikunjungi para pejabat negara yang datang ke Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Berada di bawah pohon beringin, makam ini bercat putih, terawat dengan baik dan bersih. Belum lama ini Wali Kota Baubau, AS Thamrin bersama Wakil Wali Kota, Wa Ode Maasra Manarfa, melakukan ziarah kubur ke makam Sultan Murhum dalam rangka napak tilas hari jadi Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dan memaknai perjuangan kepemimpinannya dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Buton. (nat/dbs)

 


Back to Top