Imbau Dosen Ambil Beasiswa Doktoral, Menag Impikan Indonesia Jadi Pusat Pendidikan Islam di Dunia

gomuslim.co.id- Pemerintah Indonesia terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan, tak terkecuali pendidikan Islam. Sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di perguruan tinggi Islam di Tanah Air, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta semua dosen di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memanfaatkan program beasiswa doktoral yang sudah disediakan.

Sebagaimana diketahui, saat ini pemerintah telah menyediakan 5.000 beasiswa doktor. Namun, baru sekitar 2.000-an dosen yang memanfaatkan program beasiswa doktoral tersebut hingga sekarang. Hal demikian disampaikan Menag saat melakukan orasi ilmiah wisuda sarjana strata 1 periode XXI dan wisuda pascasarjana strata dua periode III Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Jawa Tengah belum lama ini.

Menag mengimbau, seluruh dosen di perguruan tinggi Islam di Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan doktor, untuk segera mendaftarkan diri dalam program beasiswa doktoral yang disediakan Kementerian Agama tersebut. “Silakan manfaatkan program beasiswa pendidikan S3 itu di dalam negeri maupun luar negeri. Masih banyak kuota yang tersisa,” ujarnya.

Lebih lanjut Menag menambahkan, adanya program 5.000 doktor untuk kurun waktu 2015-2019 itu dalam rangka mempercepat penambahan jumlah doktor keagamaan dan ilmu umum di perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Dia menilai ketika kompetensi dosen semakin meningkat, maka mereka bisa diajak untuk lari kencang dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi Islam di Tanah Air.

Di sisi lain, Kemenag setiap tahunnya menyediakan beasiswa program doktoral untuk 1.000 dosen dari tenaga kependidikan perguruan tinggi keagamaan Islam. Adapun jumlah perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri di Indonesia saat ini sebanyak 55, meliputi 14 STAIN, 30 IAIN, dan 11 UIN. “Kemenag ingin mewujudkan Pendidikan Islam yang unggul dan moderat supaya nantinya Indonesia menjadi destinasi pelopor pendidikan Islam dunia,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga meresmikan kelas internasional STAIN Kudus. Pembukaan kelas ini sebagai wujud komitmen STAIN untuk mengembangkan pendidikan yang berkualitas dan bertaraf internasional. “Di Indonesia ada beberapa kampus yang telah membuka kelas internasional, tetapi untuk kategori sekolah tinggi, ini sudah sangat bagus,” paparnya usai meresmikan dan meninjau kelas Internasional di STAIN Kudus.

Sebagai perguruan tinggi Islam, STAIN Kudus selama ini telah membuktikan prestasinya. Bahkan jurnal STAIN Kudus telah menempati peringkat keempat setelah UIN Surabaya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. STAIN Kudus juga memiliki LIPI Corner sebagai pusat penelitian.

Bersama delapan STAIN lain di Indonesia, STAIN Kudus telah mengajukan perubahan menjadi Intitut Agama Islam Negeri (IAIN). Perubahan ini akan segera diwujudkan oleh Kemenag agar STAIN dapat memberikan pelayanan akses yang lebih luas kepada masyarakat. Serta peningkatan kualitas pendidikan Islam.

Dengan peningkatan kualitas ini oleh sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia, Lukman optimis jika Indonesia semakin cepat menjadi pusat pendidikan Islam di dunia. “Langkah konkret untuk perbaikan pendidikan Islam ini perlu dilakukan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua STAIN Kudus Fathul Mufid mengungkapkan, dari 178 dosen yang ada, sebanyak 43 dosen di antaranya bergelar doktor, sedangkan 36 dosen sedang menyelesaikan S3 di luar negeri. Menurutnya, dalam rangka meningkatkan kualitas dosen, beberapa dosen menjadi dosen tamu di perguruan tinggi terkemuka di luar negeri.

Bahkan, menurutnya, saat ini ada tiga dosen yang mengikuti kursus singkat di luar negeri. “STAIN Kudus juga menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di luar negeri guna meningkatkan kualitas di bidang akademik,” ujarnya. (njs/dbs)


Back to Top