OPQ 2016

Seminar Pendidikan Tauhid untuk Anak Usia Dini: Begini Cara Tanamkan Akidah Islam pada Anak

gomuslim.co.id- Rangkaian kegiatan Olimpiade Pencinta Quran (OPQ) yang diselenggarakan oleh One Day One Juz (ODOJ) terus berlangsung ramai. Kali ini, panitia menggelar seminar bertajuk “Pendidikan Tauhid untuk Anak Usia Dini” pada Ahad (06/11) di Islamic Centre Kota Bekasi.

Ustadz M. Fauzil Adhim seorang penulis buku, pakar parenting Islam, dan konsultan pernikahan menjadi narasumber utama dalam kajian keislaman ini. Hadir pula pasangan selebritis Muslim Tanah Air yaitu Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar selaku narasumber kedua. Kegiatan ini dimoderatori oleh Ahmad Nashiruddin dari DPP ODOJ.

Dalam pemaparannya, Ustadz M Fauzil Adhim mengatakan pentingnya menyiapkan generasi penerus Islam yang berkualitas dan memiliki akidah yang kokoh. “Pendidikan tauhid sejak dini untuk anak-anak wajib kita lakukan. Karena dengan keyakinan kuat pada agama Islam, kita akan siap menghadapi segala macam tantangan zaman. Keimanan adalah hal pertama yang harus ditanamkan pada anak-anak,” ujarnya.

Lebih lanjut, penulis buku “Saat Berharga Untuk Anak Kita” ini menjelaskan sebagai Muslim kita juga wajib untuk memperbaiki dan mengokohkan keimanan dengan terus berpegang teguh kepada Alquran. “Ketika Alquran dan Sunnah menjadi pegangan hidup, maka keimanan akan terus diperkuat. Namun, hal ini juga harus dibarengi dengan ilmu. Perpaduan ilmu dan keimanan akan melahirkan adab dan akhlak mulia,” jelasnya.

Tidak hanya itu, M Fauzil Amin juga menjelaskan tentang bagaimana mempelajari beberapa hal yang berkenaan dengan akidah. Menurutnya, memberi penjelasan atau informasi terkait akidah kepada anak itu berbeda dengan menanamkan keyakinan. “Pengetahuan tidak bermanfaat apa-apa kalau orang itu sudah yakin. Banyak orang tau banyak hal, tapi dia  tetap melakukannya meskipun dilarang. Jadi paham saja tidak mempengaruhi apa-apa karena itu bukan mencintai,” tegasnya.

Selain itu, menurutnya, orangtua Muslim setidaknya harus membangun dua hal bagi diri anak. Pertama, menjadikan sosok yang dapat dipercaya oleh anak. Kedua, menumbuhkan sikap hormat anak terhadap orangtua. “Bicaralah dengan perkataan yang benar, jujur dan bijaksana serta mudah diterima oleh anak. Tidak dengan memaksanya, tetapi dengan teladan yang baik bagi anak,” ucapnya.

“Buat si anak merasa orangtuanya patut untuk dimuliakan. Kalau anak hormat, dia akan tetap taat meski orangtua sedang tidak ada didekatnya. Dua hal penting ini akan memberikan kemudahan bagi orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Jika itu belum ada, maka berarti orangtua harus memperbaiki,” paparnya

Perintah dan larangan, lanjutnya, perlu diberikan kepada anak. Hal demikian untuk saling menguatkan. Larangan itu untuk menguatkan perintah. Sementara perintah untuk menegaskan larangan. “Ketika si anak menunjukan usaha untuk lebih baik, maka usaha itu lebih baik dari usaha orangtua itu sendiri karena proses menanamkan keyakinan telah mulai dirasakan oleh anak,” ujarnya.

Tidak ada bedanya dalam memberikan pemahaman kepada anak. Yang membedakan hanyalah caranya. Karena menanamkan keyakinan berbeda dengan sekedar memberikan pemahaman atau penjelasan. Menanamkan dapat menumbuhkan akhlak. Tapi, jika memberi penjelasan saja hanya sebatas argumentasi semata.  

Dalam kesempatan yang sama, Teuku Wisnu mengungkapkan pendidikan untuk anak harus dimulai dari memilik ibu untuk anak-anak itu sendiri. Hal demikian karena ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. “Ini khususnya bagi kaum laki-laki yang saat ini sedang memilih pasangan hidup atau jodoh,” ungkapnya.

Selanjutnya, Wisnu mengatakan, kewajiban orangtua yang selanjutnya adalah memberikan nama terbaik sebagai doa untuk anak. “Nama untuk anak adalah doa dan harapan penuh orangtua kepada anaknya agar kelak menjadi orang yang membanggakan agamanya,” paparnya.

Dan yang terakhir, lanjut Wisnu, adalah mengajarkan Alquran dan ibadah kepada anak sedini mungkin. “Ketiga hak ini wajib dipenuhi oleh semua orangtua Muslim. Karena orangtua pun dianggap berdosa jika tidak memberikan hak-hak untuk anaknya, dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya,” tegasnya.

Wisnu mencontohkan, bisa saja sebagai orangtua mencontohkan ibadah di depan anaknya. “Mengajarkan ibadah, atau bisa juga menggendong anak kita sambil melakukan ibadah sholat. Hal ini dibolehkan bahkan dicontohkan oleh Nabi,” katanya. Selain itu, kata Wisnu, penting juga menanamkan persepsi yang baik untuk anak-anak. “Ceritakan kepada anak-anak tentang kisah para nabi, sahabat dan tokoh Muslim yang mempunyai pengaruh besar terhadap peradaban Islam di dunia,” tandasnya. (njs)


Back to Top