OPQ 2016

Lebih Dekat dengan Keluarga Hafidz Quran di Ajang Olimpiade Pecinta Quran

gomuslim.co.id- Pembentukan keluarga Qurani menjadi harapan setiap keluarga Muslim. Dalam rangka menginspirasi umat Islam untuk lebih mencintai Alquran, Olimpiade Pencinta Quran (OPQ) melalui One Day One Juz (ODOJ) menggelar talkshow betajuk “Lebih Dekat dengan Keluarga Hafidz Quran” di Islamic Centre Kota Bekasi, Ahad (06/11) sore.

Kegiatan ini menghadirkan para hafidz cilik dengan segudang prestasi seperti Muhammad Khairurrazaq Al-Hafizi, Hilyah Qonita, dan si kembar Al-Ghazali Tsaqib Janitra Raja & Al-Khalifi Zikri Jonea Raja. Dengan didampingi orang tua masing-masing, keluarga hafidz Quran ini berbagi cerita dan tips mereka mendidik anak untuk menghafal Alquran sedini mungkin.

Pertama, Lalu Muhibban Al-Hafiz, ayah dari Muhammad Khairurrazaq Al-Hafizi ini bercerita tentang bagaimana dirinya mendidik seorang anak sampai menjadi juara  bahwa tahfidz se Asia Pasifik. Menurutnya, peran orangtua menjadi yang utama dalam memberikan pendidikan Alquran kepada anak-anak. “Kami memulai dari diri sendiri, dari keluarga. Tidak ada hal lain yang diharapkan dari anak-anak kecuali menjadi penerus agama di masa depan. Terlebih lagi supaya menguasai dan menghafal Alquran,” ujarnya.

Selanjutnya, ayah dari juara MHQ Nasional ini juga memberikan tips bagi orangtua yang ingin anaknya menjadi hafiz Alquran, untuk bisa memahami karakter kejiwaan dari anak-anak. “Masing-masing orangtua tentu punya metode masing-masing. Kalau metode saya, selalu mengikuti irama anak. Dia senangnya apa? Kita ikuti, tapi juga harus ada nilai pendidikannya. Misalnya, kita pancing mereka supaya mau membaca dan menghafal satu ayat saja. Pelan-pelan kita masukan kebiasaan menghafal Quran ini,” paparnya.

Selain itu, ia menambahkan, pendidikan Alquran harus dimulai sejak anak masih dalam kandungan. “Ibunya harus membiasakan diri membaca dan mendengarkan Alquran. Biarkan anak mendengarkan dan mengikuti. Lama-lama anak akan sadar dia mencintai alquran. Memang butuh proses yang tidak mudah di awalnya, tapi kita jalani saja proses dulu. Hasil akan mengikuti kemudian,” jelasnya.

Kemudian, Muslim Ibnu Mahmud dan Nuroniah Al Manaf, orangtua dari Hilyah Qonita mengungkapkan butuh sinergi dan berkomitmen untuk mengawali pendidikan anak-anak dengan alquran. “Awalnya motivasi dari suami yang ingin membentuk keluarga yang Qurani. Ingin memberikan pendidikan Alquran bagi anak-anak. Karena hal ini merupakan perintah langsung dari Allah dan rasul-Nya,” katanya.

Lebih lanjut, ibu dari pemenang ajang Hafidz Cilik 2013 ini menuturkan, dirinya punya program hadiah khataman untuk jamin ketika hamil. “Program tilawah Alquran satu hari satu juz ini sudah saya lakukan sejak dulu. Setiap usia kehamilan bertambah, janin dapat hadiah khataman dari saya. Saya pernah baca satu artikel tentang janin yang diberikan stimulus, otaknya akan lebih optimal berkembang,” ungkapnya.

Berkahnya, kata ibu dari juara MHQ kota Tangerang ini, ketika memasuki masa pembelajaran, Allah memudahkan Hilyah untuk belajar Alquran. “Saat usia 6 bulan, sudah bermain huruf hijaiyah dan surat-surat pendek. Usia 3,8 tahun Hilyah sudah bisa membaca alquran dengan tartil. Dan saat umur 4 tahun, baru diberikan hafalan. Tidak banyak-banyak, saya batasi hanya 3 baris saja setiap hari,” paparnya.

“Saya memfasilitasi hafalannya per juz. Hilyah selalu membawa Alquran kemana-mana. Saat sudah hafal, dia akan setor ke saya. Kuncinya satu, selalu minta pertolongan kepada Allah supaya anak selalu dibimbing dan dimudahkan untuk menghafal. Juga tentunya sabar dan tetap istiqomah. Alhamdulillah, saat usia Hilyah 8 tahun, sudah hafal 30 juz,” imbuhnya.

Hilyah mengaku, dirinya bercita-cita ingin pergi keliling dunia untuk dakwah dengan Alquran. “Senang sudah bisa hafal Alquran. Hilyah mau jadi orang terbaik di dunia. Karena kata Rasul, sebaik-baiknya orang di dunia adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain,” harapnya.

Sementara itu, Erwin Raja, ayah dari si kembar Al-Ghazali dan Al-Khalifi mengatakan pendidikan Quran kedua anaknya ini berawal saat dirinya menggarap program Hafiz Indonesia. “Waktu itu saya berpikir, anak orang lain ko bisa ya? masa anak saya tidak bisa. Akhirnya saya bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan Alquran kepada anak-anak saya. Beliau adalah orang yang sangat berjasa bagi keluarga kami,” tuturnya.

Di sisi lain, peraih naik haji sekeluarga ini juga bercerita bahawa saat ini si kembar telah memiliki sekolah sendiri yaitu Tahfidz Anak Usia Dini (TAUD). “Tahfiz usia dini ini fokus 100 % terhadap Alquran. Anak-anak kami wajib mengerti dan menghafal Alquran. Tinggal bagaimana prosesnya mereka bisa menghafal 30 juz. Target kami, anak-anak ini nantinya akan menghafal Alquran di usia 8 tahun dan bersanad,” pungkasnya. (njs)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top