Kembangkan Industri Asuransi Syariah, OJK Siapkan Aturan Spin Off

gomuslim.co.id- Sebagai lembaga negara yang berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan kebijakan yang mendorong pertumbuhan industri keuangan. Baru-baru ini, OJK menyatakan komitmennya untuk mendorong perkembangan industri asuransi syariah atau takaful dalam beberapa tahun kedepan yang diyakini memiliki proses cukup bagus.

Direktur Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M. Muchlasin mengatakan OJK sedang mempersiapkan Peraturan OJK (POJK) tentang ketentuan spin off asuransi syariah. Menurutnya, saat ini memang belum ada ketentuan untuk spin off asuransi syariah. Ketentuan dalam aturan tersebut mencakup kejelasan mulai dari jangka waktu dan cara perusahaan asuransi untuk spin off.

“Jadi, ketentuan ini lebih menitikberatkan pada panduan dan arah bagi perusahaan asuransi yang memiliki unit syariah untuk melakukan spin off. Peraturannya sendiri akan diterbitkan di akhir tahun ini,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Mochlasin menjelaskan peraturan tersebut lebih mengatur panduan dan proses bisnis perusahaan yang akan melakukan spin off. “Ketentuan yang kita coba atur apakah, misalnya pemegang polis nantinya mau pindah ke perusahaan baru setelah 'spin off'. Itu adalah apakah bisa? harus ada kejelasan dari perusahaan, kapan dia bisa melakukan itu, itu yang kita buat,” paparnya.

Sebetulnya, asosiasi sudah membuat panduan bagi perusahaan yang memiliki unit asuransi syariah dalam melakukan spin off. Menurut Muchlasin, peraturan OJK akan sejalan dengan panduan yang sudah dibuat oleh asosiasi. “Jadi peraturan ini seperti payung hukumnya, karena kalau gak dibikin begitu panduan yang dibikin oleh asosiasi tidak akan terpakai,” katanya.

Dalam aturan tersebut, OJK memberikan jangka waktu kepada perusahaan asuransi untuk melakukan spin off sampai tahun 2024. Muchlasin mengatakan bahwa 77,2 persen pemegang polis asuransi konvensional berminat memiliki polis asuransi syariah. “Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak masyarakat belum mengetahui mengenai asuransi syariah, namun minat mereka untuk memiliki produk ini sangat tinggi,” ucapnya.

Dengan demikian, peluang pasar industri asuransi syariah termasuk asuransi jiwa syariah masih sangat terbuka lebar. Akan tetapi, rendahnya penetrasi asuransi jiwa syariah tidak lepas dari beberapa persoalan antara lain masih rendahnya tingkat sosialisasi kepada publik mengenai industri dan produk asuransi syariah.

“Dalam lima tahun ke depan, pertumbuhannya bagus. Kami merasa dalam lima tahun ke depan aset kami akan naik terus dari Rp 85 triliun mudah-mudahan bisa mencapai Rp100 triliun,” ujarnya.

Selain itu, OJK juga mengedarkan surat edaran yang akan memuat tentang ketentuan pembuatan road map spin off perusahaan asuransi yang memiliki unit usaha syariah. Dengan regulasi itu, OJK berkeinginan agar setiap perusahaan asuransi dapat lebih matang menyiapkan pemisahan unit usaha mereka dan mulai mengajukan proposal roadmap spin off pada awal tahun depan.

Dorongan OJK untuk spin off agar perusahaan asuransi syariah dapat mandiri dan leluasa untuk mengembangkan bisnisnya. Menurut Muchlasin, masih banyak tantangan untuk mengembangkan bisnis asuransi syariah, antara lainnya, lemahnya penetrasi, minimnya modal, dan juga penguasaan teknologi. Pelaku industri asuransi syariah juga saat ini tengah fokus untuk meningkatkan penetrasi ke masyarakat.

Chief Proposition and Syariah Officer FWD Life Ade Bungsu mengatakan pihaknya berstrategi untuk meningkatkan penetrasi dengan mengoptimalkan layanan teknologi dan meningkatkan kualitas layanan. Dia menargetkan kontribusi asuransi syariah ke FWD Life dapat bertambah 10 persen setiap tahun. “Idealnya dalam tahun pertama kita ingin tumbuh 10 persen, tahun kedua 20-30 persen kontribusinya. Kita ingin keseimbangan antara syariah dan konvensional,” ungkapnya.

Sebagai gambaran, untuk asuransi jiwa syariah, kontribusinya baru Rp 6,1 triliun per Agustus 2016, dengan pangsa pasar asuransi jiwa syariah terhadap keseluruhan industri asuransi jiwa mencapai 6,82 persen. Sementara aset asuransi jiwa syariah per Agustus 2016 mencapai Rp 26,573 triliun, berdasarkan data Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). (njs/dbs)


Back to Top