OPQ 2016

Belajar Parenting Islam di Olimpiade Pecinta Quran

gomuslim.co.id- Setiap muslim memiliki kewajiban untuk belajar banyak hal, terutama untuk muslimah dalam hal mengasuh anak. Ilmu parenting Islami sangat dianjurkan bagi calon orangtua dalam mengasuh, membesarkan dan mendidik anak-anaknya agar kelak menjadi anak yang tumbuh cerdas dan berakhlak sesuai dengan pola asuh Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. 
 
Pada talkshow pertama di hari ke-6 Olimpiade Pecinta Qur’an (OPQ), kali ini membahas mengenai materi: “Ibu Hamil & Menyusui” jika ditinjau secara syariat Islam. Peran ibu dan ayah dalam mengasuh anak sangat besar karena awal anak mengenal dunia berangkat dari didikan orangtua. Tahapan ini diawali oleh masa hamil dan menyusui seorang ibu, peran suami tentunya menjadi sosok yang berpengaruh terhadap kondisi istri di masa kehamilan. Kasih sayang suami kepada istri mampu meningkatkan hormon dalam membangun kepercayaan diri istri dalam menjalani masa hamil dan menyusui. 
 
Salah seorang pembicara yang berprofesi sebagai bidan dan penulis buku “Jodoh Dunia Akhirat” Fufuel Mary mengatakan bahwa dalam menjalankan rumahtangga dibutuhkan komitmen diawal pernikahan untuk bersama-sama membesarkan buah hati. “Bagi calon orang tua penting untuk membuat komitmen sebelum menikah agar saling support satu sama lain dalam kondisi apapun,” ungkap Fufuel. 
 
Selain Fufuel ada pembicara yang kedua yaitu Winny Nizia seorang Konsultan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang turut berbagi pengalamannya seputar kegiatan AIMI.
 
Winny menjelaskan bahwa suami memiliki peran penting dalam pendamping istri di saat masa kehamilan hingga masa pemberian ASI atau menyusui. Perhatian suami kepada istri di saat masa pemberian ASI mampu meningkatkan hormon oksitosin atau yang biasa dikenal dengan hormon cinta.
 
“Karena ASI dipengaruhi oleh permainan alam bawah sadar. Semakin banyak ASI dikeluarkan maka juga semakin banyak diproduksi,” ungkapnya.
 
Tambah Winny, di dalam Alquran surah Al-Baqarah telah dijelaskan bahwa pemberian asi dianjurkan, pembuktian ini diperkuat dengan adanya penelitian ilmu kedokteran yang menjelaskan bahwa asi penting diberikan kepada anak minimal selama dua tahun pertama. 
 
ASI adalah karunia dari Allah SWT berupa makanan pertama bayi menuju masa pertumbuhan, dan sudah menjadi fitrah bagi wanita untuk memberikannya kepada anak. karena itu produksi ASI yang sehat harus diupayakan oleh setiap wanita. Banyak cara yang dapat ditempuh agar menghasilkan ASI yang produktif, salah satunya dengan menjaga pola hidup sehat dan menjaga kesehatan emosional.
 
Setelah anak sudah lahir tanggung jawab orangtua semakin besar, peran ibu yang luar biasa dalam membesarkan anak sangat berpengaruh. Peran ayah tidak hanya menjadi pencari nafkah namun ayah harus menjadi idola anak-anaknya. 
 
Pada usia 0 sampai 2 tahun dekatkan anak dengan ibunya, usia 2 sampai 7 tahun dekatkan dengan ayahnya, usia 7 sampai 14 tahun dekatkan anak sesuai dengan jenis kelamin kepada orangtua, kemudian di usia 14 tahun pendekatannya di balik. Hal ini bertujuan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang dewasa sesuai kodratnya.
 
Winny menegaskan bahwa jika seorang anak perempuan yang dekat dengan ayahnya maka akan terbentuk sikap percaya diri, tangguh dan kuat. Anak tidak mudah badmood karena kurangnya kasih sayang ayah. “Saat ini mengapa banyak kasus berpacaran, karena disebabkan anak perempuan yang kurang dekat dengan ayahnya, ia mencari kasih sayang lain oleh  pria lain selain ayahnya,” ujarnya.
 
Berangkat dari melihat keprihatinan sebuah fakta menerangkan bahwa ada 10 orang ibu dan 9 dari ibu butuh pertolongan untuk mensosialisasikan pentingnya pemberian asi bagi anak dan perawatan masa asi ibu. 
 
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang didirikan oleh Winny telah memiliki 15 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Organisasi ini sempat menjadi salah satu dari tiga organisasi yang berpengaruh di sosial media Indonesia. Kini anggota AIMI mulai beragam, tidak hanya didominasi oleh ibu-ibu yang sedang menyusui. Kalangan gadis dan lansia turut bergabung di sini, karena program yang dibuat AIMI tidak hanya untuk ibu menyusui, tapi sudah dimodifikasi untuk para calon ibu. 
 
Kegiatan AIMI antara lain Kelas Edukasi Sosialisai ke Puskesmas, Seminar Pekan Asi, Program Unggulan Kelas Edukasi Setiap Bulan Sebelum dan Setelah Melahirkan, AIMI Goes to Community & Office serta Advokasi ke Pemerintah.
 
Winny menambahkan agar ASI yang dihasilkan berkualitas, penting bagi seorang suami untuk mengikuti edukasi hal serupa agar membantu proses produksi asi istri. Fakta menunjukkan bahwa menyusui dapat mengurangi kangker ovarium sebanyak 20 persen dan membakar 450 kalori. 
 
“Selain itu, dalam menghentikan masa program ASI, tentunya harus dilakukan secara bertahap, karena cara menyapih yang salah akan berpengaruh terhadap watak anak. Di AIMI juga diajarkan bagaimana cara menyapih anak yang baik dan benar agar anak dan ibu tidak stress. Maka dari kedua pihak tersebut harus sama-sama siap. Karena pemberian asi diawali dengan cinta maka proses penyapihan pun harus diakhiri dengan cinta,” ungkap Winna. (nat)

Back to Top