Market Share Keuangan Syariah Terus Naik, Sukuk Wakaf Bisa Jadi Produk Unggulan

gomuslim.co.id- Perkembangan keuangan syariah makin meluas dengan inovasi berbagai produk transaksi ekonomi di Indonesia. Tidak hanya berupa perbankan, saham dan reksa dana, kini sukuk berbasis wakaf pun mulai masuk dengan konsep syariah. Apalagi, banyak kalangan menilai sukuk berpotensi mendanai aset wakaf.

Direktur Eksekutif Badan Wakaf Indonesia (BWI) Achmad Djunaedi mengatakan dengan telah diterbitkan sukuk wakaf itu merupakan peran lembaga negara membuka program bagaimana orang lebih memanfaatkan wakaf uang dan bagimana proyek-proyek itu akan digarap.

“Kalau  lembaga negara akan memiliki bobot yang  lebih nyata dalam pengembangan sukuk berbasis wakaf,”  kata Achmad, seperti dilansir dari publikasi AkuCintaKeuanganSyariah.

Bank Indonesia bekerja sama dengan Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan perwakilan BUMN, pada  3rd Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang akan digelar di Surabaya Oktober 2016 lalu telah meluncurkan model sukuk linked waqaf yang merupakan inovasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset Wakaf dengan Sukuk. “Peluncuran wakaf ini karena begitu banyak peluang untuk memanfaatkan aset wakaf,” ujar Achmad.

Menurut Achmad, sudah terjadi seluruh dunia Timur Tengah pada  umumnya negara itu pinjam uang wakaf, seperti  Mesir dan Turki, misalnya. Indonesia kalau ini sudah pengembangan sukuk wakaf sudah berhasil tidak perlu pinjam-pinjam uang ke negara lain, bisa pakai dana sukuk wakaf intuk pembangunan infrastruktur misalnya.

“Kalau ini sudah berhasil pemerintah nggak perlu ngenjot pajak. Kan kelas menengah Indonesia itu sudah 60 persen yang Muslim.Itu kalau dia tersentuh, dia sadar, buat mereka wakaf cuma 1 juta nggak apa-apa.Jadi yang penting kelas menengah itu harus ditingkatkan, harus ditangkap,” ujarnya.

Tapi di sisi lain, Achmad mengatakan kelemahan utama dari pengelola wakaf (nazhir) adalah ketidakmampuan mereka dalam menghimpun dana untuk membangun infrastruktur diatas tanah wakaf. Ini karena mereka wakafnya banyak untuk misi sosial, padahal wakaf itu misi sosial tapi pemanfaatannya komersial.

Pengembangan keuangan syariah itu terdiri dari berbagai jenis, seperti instrumen sukuk ritel, sukuk berbasis proyek,  sukuk dana haji dan lainnya. “Jadi sukuk itu bukan barang baru. Sukuk itu instrumen pasar keuangan syariah yang punya potensi mendanai aset wakaf, maka pemerintah kawinkan menjadi  sukuk berbasis wakaf. Diharapkan model sukuk ini bisa meningkatkan market share keuangan syariah Indonesia tidak hanya di titik 5 persen,” tegas Achmad.

Achmad menyakini market share industri keuangan syariah Indonesia bisa meningkat. Apalagi menurutnya, Presiden Joko Widodo telah membentuk Komite Keuangan Syariah ( KNKS). “KNKS ini akan mendorong  sukuk wakaf,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah dikenal dunia sebagai penerbit sukuk global terbesar. Kendati demikian, pasar sukuk korporasi di tanah air masih sangat minim. Sampai Juli 2016, pangsa pasar sukuk korporasi baru sebesar 3,9 persen. Oleh karena itu, hadirnya model sukuk wakaf diharapkan akan dapat turut mendorong pasar sukuk korporasi di Indonesia.

Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) Rifki Ismal pun memaparkan sejumlah keuntungan jika instrumen sukuk wakaf terealisasi. Ia menuturkan, jika sukuk wakaf terbit, otomatis instrumen tersebut akan menambah varian sukuk di Indonesia.

Di sisi lain, pasar keuangan syariah juga akan turut memperoleh dampak positif. “Jika sukuk wakaf ini terbit, maka investor sukuk akan bertambah dan transaksi pasar uang syariah, terutama pasar sukuk, akan bertambah dan menyebabkan pasar menjadi likuid. Itu menjadi salah satu indikator pasar sudah dalam,” cetusnya.

Dalam fatwa nomor 32/DSN-MUI/IX/2002, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia mendefinisikan sukuk sebagai surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil margin atau fee, serta membayar kembali dana obligasi saat jatuh tempo. (fau/acks/dbs)

 


Back to Top