Akad Salam Bisa Jadi Solusi Pembiayaan Bank Syariah untuk Sektor Pertanian

gomuslim.co.id- Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli (al muslam) pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Akad ini disebut-sebut bisa digunakan di sektor pertanian. Tapi, banyak bank yang jarang menggunakan.

Dalam perbankan syariah, bermacam-macam skema produk (akad) bank syariah sudah semakin banyak diperkenalkan. Selain produk pembiayaan perumahan, perbankan syariah memiliki banyak produk. Salah satunya adalah akad salam. Akad ini bisa digunakan untuk pembiayaan sektor pertanian.

Deden Firman H, selaku Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam acara "Pelatihan dan Gathering Wartawan Media Massa" di Bogor, Jawa Barat, Senin (14/11) mengatakan bahwa Akad ini bisa digunakan untuk produk pertanian.

Akad salam alias akad beli tangguh adalah akad pembiayaan suatu barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga yang dilakukan terlebih dahulu dengan syarat tertentu yang disepakati. Barang yang dibeli diserahkan belakangan. "Akad salam ini pembayarannya di depan," terang Deden.

Deden mengatakan akad salam ini berbeda dengan sistem ijon yang biasa digunakan dalam praktik jual beli produk pertanian. Ijon adalah pembelian padi dan sebagainya sebelum masak dan diambil oleh pembeli sesudah masak, atau kredit yang diberikan kepada petani, nelayan, atau pengusaha kecil, yang pembayarannya dilakukan dengan hasil panen atau produksi berdasarkan harga jual yang rendah. Sedangkan pengijon adalah orang yang membeli padi dan sebagainya dengan cara ijon.

Deden memberikan contoh, jika, ada sistem jual beli mangga seharga Rp 5 juta dengan sistem ijon. Satu pohon mangga ini belum bisa diketahui berapa jumlahnya. "Kita tidak tahu berapa buah yang dihasilkan dalam satu pohon itu. Bisa jadi lebih banyak yang busuknya daripada yang tidak," kata dia.

Berbeda dengan akad salam, kata Deden, akad jual beli dengan salam ini menggunakan perjanjian di depan dan ada persyaratan kuantitas.

"Misalnya, membeli 1 ton padi sehingga nantinya saat panen ada kuantitas (sebanyak 1 ton padi yang diterima)," ungkapnya.

Sayangnya, akad tersebut sangat jarang di perbankan syariah. Deden menduga faktor risiko di pertanian menjadi alasan perbankan syariah jarang melirik akad tersebut. "Pertanian dianggap berisiko dan dilihat dari sisi marjinnya (kurang menguntungkan)," katanya.

Pengertian Salam menurut bahasa dari kata “As salaf” artinya pendahuluan karena pemesan barang menyerahkan uangnya di muka. Menurut Terminologi para fuqaha menamainya al mahawi’ij (barang barang mendesak) karena ia sejenis jual beli yang dilakukan mendesak walaupun barang yang diperjualbelikan tidak ada di tempat. Dilihat dari sisi pembeli ia sangat membutuhkan barang tersebut di kemudian hari sementara si penjual sangat membutuhkan uang tersebut.

Syarat Salam yang pertama adalah pembayaran dilakukan di muka pada majelis akad, yang kedua penjual hutang barang pada si pembeli sesuai dengan kesepakatan dan yang ketiga barang yang disalam jelas spesifikasinya baik bentuk, takaran, jumlah, dan sebagainya. (nat/dbs)


Back to Top