Untuk Hadapi MEA, Kadin Jatim Sosialisasikan Sertifikasi Halal ke UKM

gomuslim.co.id– Sertifikasi halal saat ini menjadi sebuah alat yang penting untuk mengetahui kehalalan suatu produk bagi para konsumennya. Sertifikasi halal juga dapat meningkatkan omzet penjualan para pelaku usaha karena sudah jelas kehalalan produknya.

Berkaca dari hal tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menargetkan separuh atau sekitar 50 persen dari total enam juta UMKM di wilayah setempat mempunyai produk yang tersertifikasi halal, untuk persaingan pada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Wakil Ketua Umum Pengembangan Jaringan Usaha Antar propinsi Diar Kusuma Putra di Surabaya, Selasa (15/11) mengaku akan terus mendorong pelaku UMKM untuk melakukan sertifikasi halal pada produknya. Sebab, tambah Diar Kusuma Putra menjelaskan, total UMKM dan Perusahaan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang memiliki sertifikasi halal hanya sekitar 15 persen dari enam juta UMKM di Jatim.

"UMKM kita melimpah namun produk kita masih sulit menembus pasar luar negeri. Sebab produk UMKM Jatim tak memiliki sertifikasi resmi. Karena itu produk kita banyak ditolak, padahal kualitasnya bagus," ucap Diar dalam acara dialog dan sosialisasi sertifikasi halal serta sehat.

Ia mengatakan, apabila tidak memiliki sertifikasi halal, produk UMKM Jatim pada MEA akan terancam dan terus tergerus bahkan kalah dengan produk asal negara tetangga. Sebagai contoh, produk asal Malaysia juga sudah mulai mendominasi pasar di Jatim, seperti makanan, minuman dan kosmetik yang mudah ditemukan. "Itu karena produk mereka sudah memiliki standarisasi dan sertifikasi yang bagus," ujarnya menjelaskan.

Sementara itu, Kepala Kompartemen Jaringan Usaha Antar Propinsi Kadin Jatim, Tri Prakoso dalam kegiatan yang sama mengatakan bahwa perlu adanya perombakan sistem manajemen di UMKM.

Sebab, menurutnya manajemen UMKM di Jatim masih berpatokan pada sistem tradisional dan tidak mau jika diajak melakukan sertifikasi pada produknya.

"Padahal, harga untuk melakukan sertifikasi halal maupun PIRT cukup terjangkau, yakni untuk setiap produk dikenakan Rp2-3 juta dan sertifikasi harus diperbarui setiap dua tahun," katanya menambahkan.

Melihat baru 15 persen dari total 6 juta pelaku usaha yang memiliki sertifikat halal, oleh sebab itu Kamar Dagang dan Industri Provinsi Jawa Timur menggelar sosialisasi sertifikasi halal dan sehat kepada para pengusaha UMKM, di Graha Kadin Jatim, Selasa (15/11).

Diar mengatakan bahwa perkembangan MEA selama 10 bulan ini sudah banyak barang-barang produk asing seperti Malaysia, Singapura dan Thailand yang beredar di Indonesia. Produk seperti makanan, minuman dan kosmetik terutama dari Malaysia sudah mencantumkan label halal.

"Pelaku UMKM ini perlu pendampingan agar bisa sejajar dengan produk asing," kata Diar kepada wartawan di sela-sela acara sosialisasi.

Menurutnya, selama ini pengusaha UMKM membuat produk kurang memperhatikan manajemen produksi maupun pencatatan keuangan. Sosialisasi tersebut dilakukan untuk membimbing para pelaku UMKM mendapatkan sertifikasi halal dari LPOM MUI dan izin pangan industri rumah tangga (PIRT) dari BPOM. Dari target awal sebanyak 50-75 peserta, lanjutnya, yang mendaftar 125 peserta se-Jatim. (ari/dbs)


Back to Top