Prospek Cerah, IKNB Syariah Targetkan Capai Aset Rp 100 Triliun pada Tahun 2019

gomuslim.co.id- Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah di Indonesia dinilai memiliki prospek yang cukup bagus di masa depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat IKNB Syariah terus mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Terhitung sejak enam tahun terakhir, aset IKNB syariah meningkat hingga tujuh kali lipat. Aset yang dimiliki pun diprediksi akan terus meningkat di beberapa tahun ke depan.

Direktur Industri Keuangan Non Bank Syariah (IKNB Syariah) OJK M Muchlasin mengatakan aset IKNB syariah terus mengalami peningkatan. Tercatat di tahun 2010 masih di angka Rp 10,5 triliun. Sementara di akhir September 2016 lalu sudah mencapai Rp 85,09 triliun. "Ini menjadi prospek yang baik,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Muchlasin mengatakan peningkatan aset terbesar terjadi pada industri asuransi syariah dan pembiayaan syariah. Data OJK menunjukkan, aset perusahaan per 2010, perasuransian syariah mencapai angka Rp 6,97 triliun. Sedangkan pada akhir September 2016 lalu telah mencapai Rp 32,99 triliun.

Sementara itu, aset perusahaan pembiayaan syariah mencapai Rp 2,36 triliun pada 2010 dan menjadi Rp 33,89 triliun pada akhir September 2016. Namun demikian, Muchlasin mengaku, pangsa pasar IKNB syariah terhadap total IKNB masih sangat kecil. “Secara share IKNB syariah masih sangat kecil, per September 2016 pangsa pasar IKNB syariah mencapai 4,5 persen,” katanya

Muchlasin menyebutkan dalam rangka mengembangkan IKNB syariah, OJK telah menyusun kerangka rancangan master plan pengembangan syariah di masing-masing bidang. roadmap atau peta jalan IKNB syariah, lanjutnya, telah diluncurkan pada November 2015 oleh OJK. Adapun arah kebijakan dan strategi pengembangan IKNB syariah tersebut terdiri dari tiga aspek utama.

“Tiga aspek tersebut adalah meningkatkan peranan IKNB syariah dalam mendukung perekonomian dan keuangan inklusif, mewujudkan IKNB syariah yang tangguh, terkelola, dan stabil, serta meningkatkan dukungan sumber daya manusia (SDM) infrastruktur, dan teknologi informasi. Saat ini IKNB syariah terdiri dari perasuransian syariah, pembiayaan syariah, modal ventura syariah, penjaminan syariah, dan LKM syariah,” jelasnya.

Atas pencapaian tersebut, Muchlasin memperkirakan pada 2019 aset yang dimiliki pelaku usaha IKNB syariah menembus Rp 100 triliun. “Salah satu pendorong peningkatan aset adalah aksi korporasi yang dilakukan perusahaan di industri non bank syariah. Seperti asuransi, pembiayaan, sampai lembaga jasa keuangan lainnya,” ungkapnya.

Di produk asuransi misalnya, sejumlah perusahaan masih merumuskan rencana pemisahan unit syariah sesuai dengan ketentuan undang-undang perasuransian. Pemisahan unit syariah ini akan diikuti perkembangan bisnis dan suntikan modal sehingga aset pun ikut naik. Setelah memisahkan diri, perusahaan hasil spin off akan berkembang, sehingga secara organik sisi aset terus menggelembung.

Selain bisnis produk asuransi, bisnis keuangan syariah yang diharapkan bisa mendorong aset IKNB syariah adalah pembiayaan syariah. Sejumlah kreditur terutama dari Timur Tengah sangat tertarik memberikan pendanaan infrastruktur berbasis syariah. Hanya saja mereka terkendala karena tidak adanya perusahaan pembiayaan infrasruktur yang bisa memfasilitasi. “Kini PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) telah memiliki unit usaha syariah (UUS) jadi bisa lebih lancar,” katanya.

Lembaga keuangan lain yang juga menyiapkan rencana ekspansi di segmen syariah adalah PT Pegadaian. Direktur Utama Pegadaian Riswinandi mengaku memiliki rencana membentuk unit khusus yang menjalankan bisnis syariah di tahun depan. Meski sudah menjalankan bisnis gadai berprinsip syariah sejak beberapa waktu lalu, namun Pegadaian belum memiliki unit usaha syariah. Saat ini, outstanding bisnis syariah Pegadaian menembus Rp 3 triliun.

Chief of Product Proposition & Sharia PT FWD Life Indonesia Ade Bungsu mengatakan pihaknya masih merumuskan rencana spin off unit syariah. Pasalnya bisnis syariah FWD Life masih terbilang muda. Meski begitu perusahaan ini optimistis prospek bisnis syariah tumbuh pesat.

Apalagi mereka giat meluncurkan produk baru. Meski begitu kontribusi bisnis syariah kecil yakni di bawah 10% dari total premi FWD Life. Tapi beberapa tahun ke depan kontribusinya diharapkan mencapai 30%. “Kami harapkan syariah dan konvensional lebih seimbang,” tuturnya. (njs/dbs)


Back to Top