Ini Peluang dan Tantangan Jatim Kembangkan Ekonomi Syariah

gomuslim.co.id- Perkembangan ekonomi syariah Indonesia terus meluas ke berbagai daerah Nusantara. Tak terkecuali Jawa Timur. Baru-baru ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Benny Siswanto mengatakan bahwa Provinsi Jawa Timur mencatatkan pertumbuhan industri keuangan syariah yang menjanjikan. 
 
Dilihat dari aspek perbankan, dia menyebut pangsa aset perbankan syariah di Jawa Timur hingga Juli 2016 mencapai 4,5 persen hingga 4,8 persen dari total aset perbankan. Sedangkan total pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah di Jawa Timur telah mencapai Rp 24,3 triliun, dengan komposisi penyaluran kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar 26 persen.
 
Meski tampak menjanjikan, Benny menyebut ada beberapa tantangan yang dihadapi. Kredit oleh perbankan syariah dinilai masih cukup mahal oleh UMKM. “Perlu ada sosialisasi dan edukasi agar UMKM terdorong untuk terlibat dalam ekonomi syariah,” kata Benny.
 
Besarnya potensi Jawa Timur  sebagai basis pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia mendorong perlunya wadah organisasi khusus yang dapat mensinergikan berbagai stakeholder ekonomi syariah Jatim yang bekerja dengan visi yang jelas, spesifik, sistematis, dan terukur. Ini dapat dibuktikan dengan perkembangan cukup pesat mencapai 5,32 persen. Potensi Jatim bahkan mengalahkan perkembangan ekonomi syariah nasional yang tidak lebih dari 5 persen.
 
Ditambah lagi mayoritas penduduk Jatim sebesar 96 persen beragama Islam. Memiliki Pondok Pesantren (Ponpes) lebih dari 6000 Ponpes. Semuanya berdiri secara mandiri. Pentingnya akselerasi itulah Bank Indonesia Jawa Timur bekerjasama dengan Pemprov Jatim membentuk Satuan Tugas Akselerasi Ekonomi Syariah ‘Satu Akses’ secara resmi dibentuk melalui keputusan Gubernur Nomor 188/600/KPTS/013/2016 tentang Satuan Tugas Akselerasi Ekonomi Syariah Provinsi Jawa Timur.
 
Berkaitan dengan hal itu Gubernur Jawa Timur Soekarwo menganggap ekonomi syariah sangat bagus diterapkan di wilayahnya dengan penduduk 90 persen muslim. Namun, orang nomor satu di lingkungan Pemprov Jatim itu pesimistis ekonomi syariah bisa diterapkan di Jatim.
 
"Ekonomi syariah itu sangat bagus. Tapi untuk diterapkan di Jatim cukup berat, karena pelaksanaannya harus mengedepankan kejujuran, dan ini masih sulit," ungkap Karwo, dalam acara Seminar Ekonomi Transformasi Struktur Ekonomi Jawa Timur, Selasa (15/11).
 
Meski demikian pihaknya tidak patah arang untuk terus mencoba. Karwo mengatakan, ekonomi syariah di Jatim diterapkan dengan cara memakai flat suku bunga rendah. "Dengan cara ini bisa dilakukan di Jatim, itu double account," katanya.
 
Sementara itu, Anggota DPR Sohibul Iman menambahkan pihaknya lebih fokus pada perbankan syariah dan alternatif pembiayaan dengan wakaf dan zakat. Ia mengungkapkan market share eknomi syariah di Indonesia jauh di bawah Malaysia. Padahal penduduk muslimnya lebih sedikit dibanding Indonesia.
 
"Market share kita hanya lima persen. Ini ironis, jauh dibanding Malaysia. Padalah umat Islam lebih besar Islam kita lebih besar.  Kami di DPR RI sudah memperjuangkan. Ada Undan-undang syariah. Kini tinggal implementasinya bagaimana," kata Sohibul Iman. Menurut dia, potensi zakat dan wakaf jika di Indonesia sangat besar.
 
"Total penduduk muslim sekitar 200 juta orang. Anggap separuhnya saja setiap hari seribu rupiah, itu besarnya bisa mencapai Rp100 miliar per bulan," pungkasnya. (nathasi/dbs)

Back to Top