Badan Pusat Statistik: Ini 10 Catatan Jemaah Tentang Evaluasi Haji 2016

gomuslim.co.id- Penyelenggaraan Haji 2016 sudah berakhir, tapi pembicaraan dan rapat kerja perihal evaluasinya masih berlangsung. Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil surveinya pada penyelenggaraan haji 1437H/2016M. Temuan BPS mencatat bahwa indeks kepuasan jamaah haji tahun ini sebesar 83,83 atau naik 1,16 point dibanding tahun lalu.

Secara umum, survei BPS menunjukan bahwa jemaah haji merasa puas atas kinerja Pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji. Tapi, Kepala BPS Suhariyanto dalam publikasi resmi Kemenag menyebutkan ada beberapa catatan jemaah yang terekam dalam kuesioner dan observasi lapangan para petugas BPS.

Berikut adalah 10 Catatan Jemaah tentang Haji 2016:

Pertama, jemaah masih menjumpai petugas kloter yang kurang aktif. Mereka berharap petugas kloter dapat memberi arahan dan koordinasi secara intensif. Ketua kloter diharapkan orang yang sudah pernah berhaji, memahami aspek manasik haji, lebih mengayomi jemaah, serta tidak mementingkan diri sendiri dalam beribadah.

Kedua, jemaah masih menjumpai petugas non kloter yang kurang ramah. Mereka berharap petugas non kloter menerapkan prinsip 3S, yaitu; Salam, Senyum, Sapa dalam melayani jamaah dan lebih "ringan tangan" dalam membantu jemaah.

Ketiga, jemaah meminta pemilihan petugas pembimbing ibadah haji dilakukan lebih selektif. Pembimbing ibadah haruslah orang yang benar-benar memahami manasik haji dan berkomitmen penuh dalam tugasnya.

Keempat, pemondokan sudah memuaskan, namun jemaah berharap ada tambahan fasilitas berupa tempat dan mesin cuci, area berjemur, alat kebersihan, serta informasi tentang denah dan fasilitas hotel.

Kelima, jemaah berharap jumlah MCK dan tempat wudhu di Arafah dan Mina ditambah. Keamanan di Arafah dan Mina dapat agar ditingkatkan dengan adanya patroli keliling yang terjadwal oleh petugas dari tenda ke tenda. Pendingin udara perlu ditambah, dan kebersihan di area sekitar tenda ditingkatkan.

Keenam, BPS mencatat bahwa kepuasan jemaah terhadap layanan katering naik signifikan, tetapi harapan jamaah juga naik sehingga indeks kepuasannya menurun 0,22 point dari tahun sebelumnya. Sebagian jemaah merasa makanan yang disajikan belum memenuhi cita rasa Indonesia. Variasi menu juga dinilai masih kurang. Karena ada larangan memasak di pemondokan, jemaah minta layanan katering diberikan selama di Tanah Suci.

Ketujuh, jemaah berharap koordinasi antar petugas transportasi dengan para sopir bus antar kota perhajian ditingkatkan sehingga insiden jemaah dari Madinah yang "tidak niat" umrah di Bir Ali (miqat makani) tidak terjadi lagi.

Kedelapan, terkait layanan bus shalawat, jemaah merasa armada bus yang disiapkan masih kurang sehingga waktu tunggu di shelter cukup lama. Mereka juga berharap ada jalur antrian naik bus shalawat sehingga tidak berebut. Jemaah juga berharap ada tenda berteduh saat menunggu bus di shelter yang jauh dari rumah pemondokan, seperti di sektor 8.

Kesembilan, layanan bus armina menduduki indeks kepuasan paling rendah. Jemaah merasa armada bus kurang sehingga sebagian dari mereka terpaksa berdiri. Fasilitas bus juga banyak yang tidak berfungsi dengan baik, di samping kondisi bus kurang layak. Waktu tunggu datangnya bus juga terlampau lama, terutama dari Arafah ke Muzdalifah atau Mina.

Kesepuluh, jemaah berharap sosialisasi pos-pos layanan di sekitar Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Jamarot ditingkatkan agar jemaah yang tersesat mudah mencari pertolongan. Kasus koper atau tas jamaah yang hilang juga diharapkan dapat lebih cepat tertangani.

Terkait catatan ini, Menag Lukman Hakim Saifuddin menegaskan masukan BPS agar diterima sepenuhnya oleh jajaran Ditjen Penyelenggaraan Haji dan umrah. Survei BPS tidak diragukan kredibilitasnya. Menurutnya, survei ini merupakan masukan untuk evaluasi penyelenggaraan ibadah haji mendatang.

Sebelumnya, Menag Lukman membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaran Ibadah Haji Tahun 1437H/2016M yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah di Jakarta, Selasa (15/11) petang.

Menag dalam sambutan dan arahannya menyatakan, keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji ini adalah karena kerja keras dari semua pihak.

"Keberhasilan ini adalah keberhasilan kita bersama. Alhamdulillah, tadi saya mendapat data dari Badan Pusat Statistik, survey mereka membuktikan, indeks kepuasan penyelenggaraan haji tahun ini meningkat," terang Menag.

Menag menyatakan, jika pada Penyelenggaraan Haji Tahun 2014, 81, 52 %, dan tahun 2015 82,67 %, maka tahun 2016 ini meningkat menjadi 83,83 %.

"Saya berharap, kita tidak tumbang oleh caci-maki, namun juga tidak terbang oleh pujian. Pelayanan harus kita tingkatkan, kita jaga dan pelihara kualitasnya. Masukan dari berbagai pihak seperti BPS, Itjen dan lain sebagainya harus kita perhatikan," ujar Menag.

Selain itu, kata Menag, ada beberapa hal yang belum memuaskan, utamanya pada titik-titik di mana Kemenag tidak mempunyai kewenangan. Antara lain, tentang bus yang kurang layak dan toilet yang terbatas. "Semoga Bapak Dubes kita mampu melakukan lobi agar Kerajaan Saudi meng-upgrade bus," harap Menag.

Menag juga minta agar sebelum Ramadhan tahun 2017, visa diusahakan bisa tuntas. Karena tahun depan, kuota haji Indonesia akan kembali normal. (fau/kemenag)


Back to Top