Kampanye Peduli Lingkungan, Masjid Agung Kauman Yogyakarta Manfaatkan Limbah Air Bekas Wudhu

gomuslim.co.id- Wudhu membutuhkan air yang tidak sedikit dan umumnya berwudhu dilakukan dengan air yang mengalir. Air bekas wudhu itu pun mengalir begitu saja ke selokan. Namun hal ini tidak pada Masjid Gede Kauman, Yogyakarta. Limbah air wudhu akan ditampung dan dimanfaatkan untuk penyiraman rumput di Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta. Saat ini, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan ESDM Pemda DIY tengah membangun saluran untuk penyiraman tersebut.

Kabid Cipta Karya Dinas PUPESDM Pemda DIY Mohammad Mansur mengatakan, saat ini, pihaknya tengah membuat lubang mengelilingi Alun-alun Utara tersebut. "Nanti akan kita tanam pipa untuk penyiraman Alun-alun," ujarnya yang dilansir dalam publikasi kahfi baru-baru ini.

Menurutnya, pipa tersebut akan terhubung dengan penampung bekas air wudhu di Masjid Gede Kauman Yogyakarta. Penampung air wudhu tersebut akan dibangun di bawah pintu masuk masjid tersebut. "Selama ini air wudhu hanya terbuang begitu saja. Jadi, kita tampung dan manfaatkan. Debitnya juga cukup banyak." katanya.

Namun kata Mansur, debit itu tidak cukup untuk penyiraman alun-alun. Sehingga pihaknya juga memanfaatkan air yang ada di selokan sekitar Kraton dan Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta.

Pihaknya akan memasang kran di beberapa titik disekitar Alun-alun untuk proses penyirman. "Jangan dibayangkan seperti kran putar yang biasa digunakan menyiram rumput taman. Ini akan berbeda. Hanya dibuka jka digunakan untuk penyiraman," tutur Mohammad Mansur.

Proyek pembangunan sarana penyiraman Alun-alun Utara menggunakan bekas air wudhu masjid Gede Kauman ini menelan dana Rp 1 Miliar. Dana tersebut diambilkan dari Dana Keistimewaan DIY tahun ini.

Adapun, Masjid Gedhe Kauman Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah masjid raya Kesultanan Yogyakarta, atau Masjid Besar Yogyakarta, yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta. Masjid ini merupakan masjid tertua yang ada di Indonesia.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M atau 6 Robi’ul Akhir 1187 H. Awalnya masjid ini dibangun sebagai sarana beribadah bagi keluarga raja serta rakyatnya untuk kelengkapan sebuah kerajaan Islam.

Masjid ini memiliki atap bersusun tiga dengan gaya tradisional Jawa bernama Tajuk Lambang Teplok. Mengalami penambahan berupa serambi yang dinamakan Al Makhamah Al Kabiroh, guna menampung jamaah yang semakin banyak, dua tahun kemudian. Al Makhamah Al Kabiroh ini juga dijadikan tempat pertemuan para Alim Ulama, pengajian dakwah islamiyah, pengadilan agama, pernikahan, perceraian, pembagian waris maupun peringatan-peringatan hari besar Islam.

Komplek masjid memiliki luas keseluruhan mencapai 16.000 m3. Selain bangunan utama masjid terdapat pula bangunan-bangunan lain, di antaranya 2 buah Pagongan, yang terletak di sebelah utara dan selatan merupakan tempat gamelan, 2 buah Pajagan (tempat berjaga), Pengulon (rumah para ulama dan imam) serta makam, kantor sekretariat, dewan takmir serta kantor urusan agama.

Ruang sholat utama ini ditopang oleh 36 tiang yang terbuat dari kayu jati jawa tanpa sambungan. Kemudian saka guru atau tiang utama terdiri atas 4 tiang dengan tinggi masing-masing 4 meter. Diperkirakan tiang kayu ini telah berusia 400-500 tahun. Kampung Kauman terletak di sebelah barat Alun-alaun Utara Keraton Yogyakarta. Terletak di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. (nat/dbs)


Back to Top