Miliki Peran dan Potensi Menjaga Perdamaian Dunia, PTAI di Indonesia Makin Menjamur

gomuslim.co.id- Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang ada di Indonesia dinilai memiliki peranan penting dalam menciptakan perdamaian dunia. Apalagi, saat ini jumlah PTAI semakin banyak tersebar di berbagai wilayah. Pesan dan potensi besar ini diharapkan dapat memberikan kontribusi fundamental dalam menjaga toleransi dan perdamaian secara global.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag Kamaruddin Amin beberapa waktu lalu di Semarang, Selasa (22/11). “Kami berharap keberadaan perguruan tinggi, khususnya PT Agama Islam, bisa memberikan kontribusi terhadap perdamaian dunia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut diungkapkannya saat membuka sekaligus menjadi keynote speaker dalam seminar international bertajuk “Contribution of Islamic Higher Education for Global Peace”. Kegiatan yang diprakarsai oleh UIN Walisongo Semarang dan Asian Islamic University Association ini dilaksanakan di Hotel Novotel Semarang.

Lebih lanjut, Kamaruddin menjelaskan ajaran Islam yang diemban dan dikembangkan di kalangan Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia selama ini adalah Islam yang moderat, toleran dan apresiatif terhadap kemajemukan atau pluralitas. Kondisi ini sangat berpotensi untuk memberikan kontribusi pada perdamaian dunia.

“Jadi, seminar ini yang membahas berbagai isu global, termasuk peradaban dunia, pluraltas, HAM, dan global peace (perdamaian dunia) bisa terdiseminasi ke seluruh Indonesia. Gagasan-gagasan dan pesan-pesan yang tercetus dalam seminar ini diharapkan bisa disebarluaskan ke seluruh Indonesia dan dunia,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Muhibbin Noor mengakui terancamnya perdamaian dunia secara umum, termasuk Indonesia secara khusus, memang menjadi salah satu keprihatinan. “Perdamaian yang didambakan seluruh umat manusia, termasuk masyarakat Indonesia terancam oleh banyak hal, seperti radikalisme agama dan pandangan kekerasan,” ungkapnya.

“Latar belakang munculnya hal tersebut banyak sekali, radikalisme dalam pemikiran diwujudkan dalam perbuatan yang muncul hanya ada perbedaan. Tidak ada toleransi didalamnya, semua mengaku paling benar dan yang lain paling salah, muncul banyak sekali pertentangan dan konflik, ini bahaya sekali,” tambahnya.

Selain itu, ia juga menegaskan tidak ada lagi toleransi dalam menyikapi suatu perbedaan dengan sama-sama merasa paling benar sehingga menimbulkan pertentangan atau konflik yang sangat berbahaya jika tidak segera diatasi. “Perbedaan itu seharusnya menjadi kekuatan untuk bersatu, bukan sebaliknya menjadi sebuah perpecahan yang tidak diinginkan oleh siapa pun,” tambahnya.

Keberadaan UIN Walisongo sebagai PT Agama Islam, lanjutnya, merasa terpanggil untuk bersama-sama mengajak seluruh pihak. Terutama kalangan perguruan tinggi untuk membantu mewujudkan kehidupan beragama yang toleran. “Kami mengajak semua kalangan untuk bersama-sama menjaga sikap toleransi dan perdamaian di dunia,” kataya.

Sebagai bentuk keragaman dan toleransi, sejumlah tokoh internasional yang bukan dari kalangan Islam juga diundang dalam seminar tersebut. Hal demikian karena dirinya meyakini tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan seluruh agama mengajarkan kebaikan. “Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti kami dengan selalu memberikan literasi dan mengajarkan sekaligus merealisasikan kehidupan damai dan toleran dalam sistem pembelajaran,” paparnya.

Dengan tertanamnya kehidupan damai dan toleran di dalam lingkungan kampus, kata dia, mahasiswa dan alumni UIN Walisongo sekalipun akan mengimplementasikannya di dalam kehidupan. Muhibbin mengakui peran PT Islam untuk membantu mewujudkan perdamaian dunia sangat besar dengan keberadaan lembaga Islam dan PT Islam terbesar dengan jumlah 55 PT Islam negeri dan 600 PT Islam swasta.

“Belum dengan keberadaan PT umum yang substansinya mengajarkan kehidupan yang islami. Ini menjadi modal luar biasa untuk mengembangkan Islam yang damai, moderat, dan Islam yang rahmatan lil alamin sebagaimana penjelasan dalam kitab suci Alquran yang menjadi pendoman kita,” jelasnya.

Sementara Wakil Rektor I Universitas Islam Negeri Walisongo Musahadi menyatakan topik yang diangkat dalam seminar mengenai perdamaian dunia tetapi tidak dilatarbelakangi peristiwa yang baru-baru saja terjadi. Menurutnya, kegiatan ini sudah direncanakan sejak lama dan diharapkan dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran baru tentang perdamaian dunia. (njs/dbs)


Back to Top