Sempurnakan Terjemahan Alquran, LPMQ dan UAI Gelar Konsultasi Publik

gomuslim.co.id- Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa aslinya. Karena berbahasa asing, proses penterjemahan pun harus dilakukan secara hati-hati. Hal ini karena hasilnya kemudian akan menjadi konsumsi publik khususnya umat Islam. Baru-baru ini, Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) menggelar konsultasi publik.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al-Azhar ini dalam rangka menghimpun masukan bagi penyempuraan terjemahan Alquran Kementerian Agama. Forum tersebut dihadiri ratusan tamu undangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Universitas Islam Negeri Jakarta, Pusat Studi Alquran, Universitas Islam Bandung, sejumlah organisasi masyarakat, serta dosen dan sivitas akademika dari beberapa perguruan tinggi di Jakarta.

Dalam pelaksanaannya, forum dibagi menjadi dua sesi yaitu pagi dan sore. Pada sesi pagi, tampil sebagai narasumber adalah Dr Muchlis M Hanafi, Dr Ir Ahmad H Lubis, Dr Moch Syarif Hidayatullah. Sedangkan pada sesi sore, narasumber yang tampil adalah H Sobirin HS, Dr A Husnul Hakim IMZI, MA, Dr Nur Rofiah, dan Nur Hizbullah, M.Hum. Pgs Kepala LPMQ Muchlis M Hanafi mengatakan, materi perkembangan terjemahan Alquran di Indonesia dan sejumlah problematiknya.

Menurutnya, penyempurnaan terjemahan Alquran merupakan program prioritas Kementerian Agama yang hasilnya sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas. “Ini penting karena hubungannya dengan kepentingan umat,” ujarnya. Sementara Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia Ahmad H Lubis yang mendapat giliran kedua menghubungkan terjemahan Alquran dengan perkembangan teknologi masa kini. “Isi kandungan Alquran, masih tetap sejalan dengan perkembangan zaman. Teori-teori abad kini yang telah muncul, telah dibahas dalam Alquran yang turunnya jauh lebih lama sebelum teori itu ada,” katanya.

Pada bagian lain, dosen Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pengasuh Pesantren Kreatif Al-Kitabah Moch. Syarif Hidayatullah memaparkan tentang pilihan-pilihan metode, diksi, dan ideologi dalam terjemahan Alquran. Dalam paparannya, Syarif Hidayatullah juga mengemukakan sejumlah contoh pertimbangan diksi dan usulan terjemahan. “Ideologi penerjemahan adalah prinsip atau keyakinan tentang benar-salah dalam penerjemahan yang ia bagi dalam istilah domestikasi, yaitu, terjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber, dan foreinisasi yaitu terjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar Sobirin memaparkan soal implikasi terjemahan Alquran pada hukum Islam, serta ambiguitas sebagai ciri khas keunikan bahasa Arab sebagai bahasa Alquran. Begitu juga Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Jakarta A Husnul Hakim IMZI yang memaparkan pengaruh terjemahan dalam akidah. Husnul mengingatkan, terjemah harfiyah bukanlah tafsir, dan terjemah tafsiriyah juga tidak bisa dikatakan secara langsung sebagai yang dimaksudkan oleh suatu ayat.

“Karena itu, kebenaran dan ketepatan sebuah penafsiran menjadi relatif, tidak sampai pada kebenaran absolut atau mutlak (haqq), kecuali jika makna suatu ayat memang tidak diperselisihkan maknanya,” paparnya. Pada bagian lain, dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Jakarta Nur Rofiah, memaparkan tentang perlunya mempertimbangkan konstruksi gender bahasa Arab dalam penerjemahan Alquran.

Dia mengemukakan, beberapa contoh nilai patriarki pada masa pewahyuan yang terkait dengan nilai patriarki dalam bahasa Arab, dan menyampaikan respons Islam atas nilai patriarki tersebut dengan beberapa contoh ayat Alquran. Sedangkan narasumber terakhir adalah dosen Universitas Al-Azhar Indonesia Nur Hizbullah. Dia memaparkan perlunya pertimbangan lingustik dan semantik dalam terjemahan Alquran.

“Pertimbangan ini penting dalam penyempurnaan terjemahan,” katanya. Konsultasi publik ini mendapat respons dan masukan yang baik dari para peserta yang hadir, dan menjadi bahan yang sangat penting bagi tim penyempurna terjemahan Alquran Kementerian Agama yang tengah bekerja keras untuk menyelesaikan tugasnya.

Sebagain informasi, Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) adalah lembaga di pemerintahan yang bertanggung jawab mengeluarkan tanda tashih. Dengan tanda tashih, maka penerbit diperkenankan menerbitkan Alqurannya. Biasanya, tanda tashih ada di halaman awal Alquran. (njs/dbs)


Back to Top