Selain Produk Halal, Asbisindo Juga Usulkan Pengelolaan Dana Umrah Gunakan Produk Perbankan Syariah

gomuslim.co.id- Berbagai upaya dilakukan untuk mengembangkan pangsa syariah. Setelah sebelumnya menyarankan industri halal agar menggunakan jasa produk perbankan syariah, kali ini Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) mengusulkan agar travel penyelenggara jasa umrah juga melakukan hal sama. Hal ini dinilai potensi transaksi yang sangat besar ada pada pengelolaan dana umrah.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Asbisindo Ahmad Permana beberapa waktu lalu. Lebih lanjut ia mencontohkan, sebelumnya pada pengelolaan dana haji yang dilakukan oleh perbankan syariah terbilang sukses. Atas kesuksesan ini, diharapkan hal serupa kembali dilakukan dalam pengelolaan dana umroh. “Pencapaian ini akan dijadikan momentum bagi perbankan syariah untuk terus tumbuh dengan konsisten, berkualitas, dan berkesinambungan,” ujarnya

Selain itu Permana menyebutkan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, tingkat kepuasaan jamaah haji terhadap pelayanan jasa haji kian meningkat hingga 83%, dan dari sisi layanan perbankan tingkat pelunasan juga meningkat. Karena hal itu, Direktur Permata Syariah ini juga mengatakan saat ini, jumlah jamaah umrah berkisar 800.000 hingga 1 juta nasabah per tahun.

Apabila mereka menempatkan dananya di bank syariah, akan sangat mendorong pertumbuhan perbankan syariah. “Kalau 50% saja dari total jamaah umrah transaksinya ditempatkan ke bank syariah, dampaknya akan sangat besar. Tentu hal ini juga akan mendorong laju perkembangan bank syariah,” katanya.

Asbisindo mengakui usulan yang diajukannya kepada Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mendapatkan respons positif. “Dana umrah proyeksinya Rp 20 triliun, katakanlah 50% saja berarti sudah ada Rp 10 triliun tambahan untuk pangsa pasar perbankan syariah,” paparnya.

Sementara itu, Ketua II Pengembangan Bisnis Asbisindo Imam Teguh Saptono menambahkan, perbankan syariah saat ini sudah merasakan manfaat pertumbuhan bisnis yang signifikan dari kewajiban pengelolaan dana tersebut. “Dampaknya cukup positif bagi perbankan syariah di Indonesia,” katanya.

Menurut catatan Asbisindo, total dana haji dan umrah yang ada di industri perbankan nasional mencapai Rp 37 triliun. “Kalau semua transaksi umrah dan sektor lain yang berhubungan dengan industri keuangan bisa masuk ke perbankan syariah, hal ini dapat mendorong industri perbankan syariah nasional semakin berkembang,” tambahnya.

Di sisi lain Imam menuturkan, berdasarkan data World Halal Tourism 2014, jumlah transaksi makanan halal di Indonesia mencapai 147 miliar dolar AS dalam setahun. Dari transaksi tersebut, diproyeksikan antara 20-30 persen transaksi keuangan bisa menggunakan layanan perbankan syariah.

Menurutnya, proses penerapan tersebut harus dilakukan secara bertahap dan perlu disosialisasikan kepada para pelaku usaha terkait. “Kita butuh duduk bersama dengan para pemangku kepentingan dan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) agar penerapan ini tidak mengganggu operasional industri secara umum,” ujarnya.

Pangsa pasar perbankan syariah akhirnya bisa melampaui angka lima persen setelah hampir tiga dekade. Berdasarkan data OJK, penghimpunan dana pihak ketiga perbankan syariah sebesar Rp 263,52 triliun atau tumbuh 20,16 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy). Sementara, pembiayaan mencapai Rp 235,01 triliun atau naik 12,91 persen (yoy). Diperkirakan, pertumbuhan aset pada 2017 sebesar Rp 35 triliun-Rp 40 triliun atau antara 12 persen-15 persen. (njs/dbs)     

 


Back to Top